Nyawa Kedua di Ujung Selat
Setiap hari, Fauzi turun dari rumah ke rumah. Menyapa warga. Memberikan pemahaman. Menjelaskan manfaat BPJS.
Penulis: Syaiful Misgio | Editor: M Iqbal
Ponselnya hampir tak pernah dimatikan. Karena kapan saja bisa ada warga yang menelepon minta bantuan pengobatan atau meminta untuk dibawa ke layanan kesehatan.
Di tempat yang jauh dari rumah sakit dan minim tenaga kesehatan, kehadiran sosok ayah satu anak ini ibarat nyawa kedua bagi warga di sana.
Tantangan
Di Desa Kuala Selat ini hidup sekitar 3.000 jiwa. Mayoritas warganya menggantungkan hidup dari laut sebagai nelayan dan petani kelapa. Infrastruktur di desa ini jauh dari kata layak. Jalan masih tanah dan berlumpur saat hujan, gedung Puskesmas reot dan minim fasilitas.
Listrik hanya menyala saat malam hari saja. Siang hari listrik padam, sinyal telepon juga hilang. Warga pun tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar.
Di tengah keterbatasan itu, Fauzi menjadi tumpuan dan harapan. Dia bukan hanya sebagai perawat, tapi berperan sebagai penggerak, pendengar, penolong sekaligus penyuluh kesehatan.
Apalagi warga di desa ini masih banyak yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Riau tahun 2024 terkait kepemilikan jaminan kesehatan di Kabupaten Inhil terungkap bahwa cakupan perlindungan kesehatan penduduk Inhil memang tergolong rendah jika dibandingkan dengan 12 kabupaten kota lainnya di Riau.
Hanya 40,24 persen penduduk Inhil yang terdaftar sebagai peserta BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran). Sementara itu, yang masuk dalam kategori BPJS Non-PBI hanya 12,27 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lebih dari 47 persen penduduk Inhil belum tercatat memiliki jaminan kesehatan apapun. Angka tersebut menjadi salah satu yang terendah di antara kabupaten/kota lain di Riau.
Setiap hari, Fauzi turun dari rumah ke rumah. Menyapa warga. Memberikan pemahaman. Menjelaskan manfaat BPJS. Tapi pemahaman itu belum sepenuhnya tertanam.
“Masih banyak yang belum punya BPJS. Mereka ini baru mau daftar kalau sudah sakit parah. Padahal kalau sudah sakit berat, itu malah sulit. Bisa-bisa terlambat tertangani, karena harus mengurus ke sana-sini," keluh Fauzi.
Fauzi tahu, tantangannya bukan sekadar menyembuhkan yang sakit. Ia juga harus melawan stigma dan kebiasaan lama: bahwa jaminan kesehatan dianggap tak penting sebelum tubuh ambruk.
Banyak warga yang memilih menunda, bahkan berharap bisa mendapatkan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah karena kondisi ekonomi yang sulit.
“Mayoritas warga di sini nelayan atau petani kelapa. Penghasilan tidak tetap. Jadi wajar kalau mereka berharap dibantu iurannya dari pemerintah,” jelas Fauzi.
| SIAP-SIAP, Pekanbaru Job Fair 2026 Digelar Mulai 17 Juni Mendatang |
|
|---|
| SIM Keliling Pekanbaru Hari Ini Senin 18 Mei 2026 di Purna MTQ, Manfaatkan Masa Tenggang |
|
|---|
| Sentra Sayur di Lahan Lanud Pekanbaru, Di Poktan Mustang, Sayur dan Rejeki Tumbuh Seiring |
|
|---|
| Cuaca Riau Hari Ini Didominasi Cerah Berawan, Hujan Diprakirakan Turun Sore Hari |
|
|---|
| Tiga Daerah Rawan Narkoba di Pekanbaru Jadi Target Operasi Polisi Sekaligus, Ini Hasilnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/tenaga-pustu-kuala-selat-kateman-inhil-bawa-pasien-pompong.jpg)