Selasa, 19 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Citizen Journalism

Program MBG, Mulia atau Bala?

dapur MBG atau SPPG sudah mencapai 15 ribu unit, dan terus bertambah hingga nantinya mencapai 30 ribu unit.

Tayang:
Tribun Pekanbaru/istimewa
Ir Ridar Hendri MSi PhD Penulis adalah Pakar Komunikasi Pembangunan Universitas Riau 

Ir Ridar Hendri MSi PhD
Penulis adalah Pakar Komunikasi Pembangunan Universitas Riau

Dalam dua bulan terakhir, segelintir orang, dan netizen, melakukan kritik dan menyerang pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) yang dijalankan Presiden Prabowo. 

Program ini bertujuan untuk meningkatkan gizi, kesehatan dan pendidikan anak-anak (pelajar PAUD - SMA, ibu hamil dan menyusui). Sebab, pertumbuhan otak dan kesehatan manusia, dimulai dari janin dan anak-anak. Jadi, harus dipastikan, mereka harus makan makanan bergizi sejak dini. 

Memberi makan 92,9 juta anak, secara serentak, tentu tidak mudah. Karena itu pemerintah bekerjasama dengan banyak pihak dari kalangan masyarakat, untuk menyediakan Dapur MBG.

Dapur merupakan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang dikelola di bawah pengawasan Badan Gizi Nasional untuk menyediakan makanan sehat, bergizi, dan higienis bagi peserta didik. Mereka memproduksi makanan dengan menu sesuai standar ahli gizi dan didistribusikan langsung ke sekolah sasaran. 

Hingga akhir 2025 jumlah dapur MBG atau SPPG sudah mencapai 15 ribu unit, dan terus bertambah hingga nantinya mencapai 30 ribu unit. Diakui memang, dalam prakteknya, ada beberapa kasus keracunan makanan pada anak-anak sekolah oleh SPPG.

Nah, kasus-kasus seperti inilah yang diserang segelintir orang dan netizen. 

Mereka menyarankan agar program MBG jangan lagi diserahkan kepada SPPG, tapi langsung diserahkan dalam bentuk uang tunai ke orangtua pelajar sasaran. 

Ide atau saran ini rada-rada konyol. Sebab, siapa yang dapat menjamin uang tunai bantuan MBG itu benar-benar digunakan orangtua untuk membuat makanan bergizi standar, pada anaknya yang benar-benar sasaran MBG?

Bukankah uang tadi bisa juga digunakannya, tanpa kita tahu, untuk bayar hutang, hanya membeli ikan asin untuk banyak anak-anaknya? Jika ini terjadi, tujuan pemberian MBG ini tak akan mencapai sasaran. Bahkan, bisa-bisa akan memunculkan masalah baru. 

Lalu, mengapa segelintir orang dan netizen tadi ngotot mengeritik dan menyerang pemerintah? Terdapat dua kemungkinan alasan.

Pertama, memang ada kekhawatiran mereka, bahwa nilai gizi yang diberikan ke siswa melalui dapur MBG, berkurang dari standar yang ditetapkan pemerintah, akibat praktek nakal oknum dapur MBG  seperti menyunat anggaran makanan.

Kedua, ada agenda terselubung mereka secara politis untuk menyerang pemerintah, dan menjatuhkan Presiden pada akhirnya. 

Saya menduga, alasan kedua menjadi oenyebabnya. Sebab, kalau hanya khawatir terhadap ancaman keracunan makanan, kan tinggal meningkatkan pengawasan produksi makanan di dapur MBG saja.

Jadi barat kata pepatah: jika hendak membunuh tikus, jangan lumbung yang dibakar. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved