Jumat, 17 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Dampak Judi Online di Riau

Harus Ada Komitmen Pemerintah Blokir Judol

Pemerintah harus memiliki komitmen dalam memerangi judol dengan menggunakan teknologi memblokir akses ke situs judol dan aplikasi.

Penulis: Fernando | Editor: M Iqbal
Foto/istimewa
Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau, Roni Sahindra, S.H.,M.H. Foto/Ist  

Roni Sahindra, S.H.,M.H, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau

TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU- Judi online atau judol semakin mudah diakses melalui internet dan aplikasi mobile. Hal ini membuat banyak orang terjerat judol karena bisa bermain kapan dan di mana saja.

Kondisi ini membuat warga semakin banyak yang terjerat judol. Mereka bukan hanya ketagihan tapi terkungkung oleh harapan semu lantaran percaya bisa menang dengan bermain judol.

Apalagi judol seringkali menjanjikan keuntungan besar dan cepat. Sehingga membuat orang tergoda untuk mencoba.

Judol seringkali menggunakan taktik psikologi untuk membuat orang terus bermain. Mereka memberikan hadiah atau bonus. Tapi banyak orang tidak memahami risiko dan konsekuensi judol, membuat mereka lebih mudah terjerat.

Bahaya judol lainnya yakni menyebabkan ketergantungan dan membuat orang sulit berhenti bermain. Bahkan ketika mereka sudah menyadari kerugian.

Mereka yang terjerat judol juga terjerat pinjaman online atau pinjol. Pinjol menjadi salah satu cara untuk membiayai ketagihan judol atau membayar utang judol.

Namun, pinjol seringkali memiliki bunga yang sangat tinggi dan biaya yang besar. Serta membuat utang semakin membengkak. Sehingga orang terjerat judol pasti akan kehilangan uang.

Mereka mencari pinjaman untuk membiayai judol atau membayar utang. Padahal pinjol memiliki bunga tinggi dan biaya besar. Akibatnya utang semakin membengkak dan sulit dibayar.

Ada beberapa faktor yang membuat orang ketagihan dengan judol. Di antaranya judol bisa memicu pelepasan dopamin, hormon yang terkait dengan kesenangan dan kepuasan. Ini membuat orang merasa senang dan ingin terus bermain.

Ketika mereka bermain judol, ternyata bisa memicu pelepasan adrenalin, hormon yang terkait dengan stres dan kegemasan. Ini membuat orang merasa lebih waspada dan fokus.

Mereka yang bermain judol seringkali merasa memiliki kontrol atas permainan, padahal sebenarnya tidak. Ini membuat mereka merasa bisa mengontrol hasilnya.

Bahkan bermain judol jadi pelarian mereka untuk menghindari emosi negatif seperti stres, kecemasan. Padahal ketika pemain kalah, judol membuat para pemain depresi.

Judol seringkali memiliki aspek sosial, seperti bermain dengan teman atau bergabung dengan komunitas. Ini membuat orang merasa terhubung dengan orang lain.

Oleh sebab itu, pemerintah harus memiliki komitmen dalam memerangi judol. Caranya dengan menggunakan teknologi yang mumpuni untuk memblokir akses ke situs judol dan aplikasi. Harus ada kerja sama antara pemerintah, lembaga keuangan dan masyarakat untuk memerangi judol.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved