Kamis, 4 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Ibadah Haji 2026

Dari Makkah, Menatap Masa Depan Pekanbaru

Perubahan besar-besaran yang sedang dan terus terjadi di Arab Saudi jadi perbincangan antara jemaah haji dan Wawako Pekanbaru, Markarius Anwar.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Alex | Editor: M Iqbal
ISTIMEWA
Ibnu Mas'ud 

Laporan Jemaah Haji Riau, Ibnu Mas'ud dari Arab Saudi

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Bincang ringan saat sarapan pagi di restoran Hotel Hyatt Regency Jabal Omar, Makkah, bersama Wakil Wali Kota Pekanbaru H Markarius Anwar, beberapa waktu lalu, menghadirkan keseruan tersendiri.

Sejak sama-sama berada di Madinah hingga Makkah, setiap kali duduk satu meja, selalu ada banyak hal yang menjadi bahan diskusi. Salah satunya adalah perubahan besar-besaran yang sedang dan terus terjadi di Arab Saudi.

Bukan hanya soal pembangunan infrastruktur di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang menjadi perhatian kami. Perubahan pola hidup masyarakat Saudi yang kini semakin aktif dan terlibat di berbagai sektor pekerjaan juga tak luput dari pembahasan. Perubahan itu terlihat nyata dan berlangsung sangat cepat.

Saya menyampaikan kepada Pak Markarius bahwa Arab Saudi memiliki satu hal yang menarik. Siapa pun raja yang memimpin negeri ini selalu mempunyai mimpi besar. Bahkan kadang-kadang mimpi tersebut terasa terlalu besar dan nyaris mustahil diwujudkan. Namun setiap kali saya kembali ke Tanah Suci, perubahan-perubahan itu selalu tampak nyata di depan mata.

Sebagai negara monarki, Arab Saudi memang memberikan kewenangan yang besar kepada pemimpinnya untuk mewujudkan visi dan cita-cita pembangunan. Jika menoleh ke belakang, hampir setiap raja yang pernah memimpin memiliki warisan berupa proyek besar yang mengubah wajah Makkah dan Madinah.

Salah satu yang paling fenomenal adalah apa yang dimulai Raja Fahd. Pada Muharam 1406 Hijriah atau tahun 1985, dilakukan peletakan batu pertama proyek perluasan Masjid Nabawi di Madinah. Proyek yang dikerjakan tanpa henti selama hampir satu dekade itu akhirnya selesai pada tahun 1994 dan menghasilkan bangunan yang megah dengan berbagai fasilitas modern.

Bahkan setelah diresmikan, pengembangan kawasan Masjid Nabawi tetap berlanjut, termasuk pembangunan pelataran luas dan payung-payung raksasa yang kini menjadi ikon Madinah. Saat musim padat, kawasan ini mampu menampung sekitar satu hingga satu setengah juta jemaah dengan luas mencapai 400 ribu meter persegi.

Tidak berhenti di Madinah, Raja Fahd juga melakukan perluasan besar-besaran terhadap Masjidil Haram di Makkah. Pada tahun 1988 dimulai pembangunan di kawasan antara Bab Al-Umrah dan Bab King Abdul Aziz yang kemudian melahirkan Bab King Fahd. Dengan tambahan area sekitar 76 ribu meter persegi, kapasitas masjid bertambah lebih dari 150 ribu jemaah. Saat proyek itu selesai, daya tampung Masjidil Haram meningkat secara signifikan dan menjadi salah satu tonggak penting pelayanan haji modern.

Ketika tampuk kepemimpinan beralih kepada Raja Abdullah, pembangunan kembali bergerak lebih jauh. Kawasan di sekitar Masjidil Haram ditata ulang. Bukit-bukit dan bangunan lama yang telah menjadi bagian dari wajah Makkah selama puluhan tahun mulai digantikan dengan hotel-hotel modern. Dari sinilah lahir kompleks Zamzam Tower dengan menara jam raksasa yang kini menjadi ikon Kota Makkah. Pada masa ini pula perluasan masjid ke berbagai arah terus dilakukan hingga kapasitasnya mampu menampung lebih dari dua juta jemaah dalam kondisi penuh.

Perubahan juga terjadi di Mina. Pada awal tahun 2006, sehari setelah musim haji berakhir, alat-alat berat mulai merobohkan bangunan Jamarat lama yang hanya terdiri dari dua lantai. Sebagai gantinya dibangun kompleks Jamarat modern bertingkat lima dengan berbagai fasilitas pendukung. Tugu jumrah yang dahulu berbentuk pilar kecil diubah menjadi dinding panjang yang lebih aman dan mampu menampung pergerakan jutaan jemaah. Delapan tower eskalator dibangun untuk memperlancar arus manusia selama musim haji.

Tidak hanya itu, tenda-tenda di Mina dan Arafah juga terus mengalami penyempurnaan dari tahun ke tahun. Jamaah kini merasakan fasilitas yang jauh lebih baik dibandingkan beberapa dekade lalu. Semua perubahan itu menunjukkan keseriusan pemerintah Saudi dalam meningkatkan kenyamanan para tamu Allah.

Bagaimana dengan era Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman atau yang lebih dikenal dengan MBS? Menurut saya, mereka juga memiliki mimpi yang tidak kalah besar. Perubahan yang dilakukan bahkan menyentuh aspek sosial masyarakat Saudi. Perempuan yang dahulu lebih banyak berada di ranah domestik kini hadir di berbagai sektor publik. Warga Saudi diberi prioritas dalam berbagai lapangan pekerjaan. Kawasan-kawasan lama di sekitar Makkah juga terus ditata ulang dan diganti dengan pembangunan baru yang lebih modern, termasuk proyek King Salman Gate yang sedang berjalan.

Pembangunan bandara-bandara baru yang megah di Makkah dan Madinah juga menjadi bagian dari upaya besar untuk mendukung jutaan kedatangan jemaah haji dan umrah setiap tahun. Karena itulah, muncul guyonan di kalangan tamu Allah. Setiap kali datang ke Saudi, selalu ada yang baru. Seakan-akan negeri ini tidak pernah kehabisan ide untuk berbenah.

Namun di balik semua pembangunan tersebut, ada satu semangat yang menurut saya paling penting. Kerajaan Saudi Arabia memiliki slogan yang terus dipegang hingga hari ini, yaitu "Duyufur Rahman Syarafullana" yang berarti "Melayani Tamu Allah adalah Kemuliaan bagi Kami". Prinsip inilah yang menjadi energi besar bagi Saudi untuk terus berinovasi dan mewujudkan berbagai cita-cita besar dalam pelayanan haji dan umrah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved