Dampak Dolar Meroket
Dolar Kian Meroket, Pendapatan Pengusaha Tahu di Kampar Terus Merosot
Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar kian menyulitkan pengusaha pembuatan tahu di Kampar.
Penulis: Fernando Sihombing | Editor: Muhammad Ridho
TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar kian menyulitkan pengusaha pembuatan tahu di Kampar. Pendapatan terus merosot.
Muhammad Mahzum, seorang pengusaha tahu di Jalan Lembah Damai Desa Pandau Jaya Kecamatan Siak Hulu, mengungkap penurunan pendapatan itu disebabkan biaya produksi kian membengkak.
Pendapatannya langsung menurun drastis sejak rupiah mulai melemah. Diawali penurunan mencapai Rp250 ribu per hari per April 2026.
Penurunan itu berlanjut hingga Juni 2026 ini seiring nilai dolar kian meroket. "Dari April itu sampai sekarang, pendapatan turun lagi sekitar 20 persen," ungkapnya kepada Tribunpekanbaru.com, Senin (8/6/2026).
Ia mengatakan, harga bahan baku kedelai mulai naik Rp1.000 per kilogram pada April 2026. Semula Rp10.000 menjadi Rp11.000.
Harga naik lagi sekitar Rp300. Perhitungan kenaikan itu dari harga per sak yang berisi 50 kilogram kedelai.
"Sekarang sudah 565 ribu per sak. Dari 500 ribu, terus jadi 550 ribu di bulan April. Sekarang sudah 565 ribu," jelasnya. Informasi yang dia terima dari pemasok, harga kedelai bakal naik lagi.
Harga kedelai memang menjadi salah satu komoditi yang paling terdampak. Ia mengatakan, kedelai menjadi bahan baku utama yang diimpor dari Amerika Serikat.
Selain bahan baku, biaya produksi juga membengkak akibat kian mahalnya kayu bakar. Ia mengatakan, kayu bakar satu truk colt diesel naik Rp200 ribu.
Baca juga: Antisipasi Lonjakan Harga Sembako Imbas Rupiah Melemah, Pemprov Riau Gencarkan Operasi Pasar Murah
Baca juga: Suku Cadang Sepeda Motor Naik Hingga 10 Persen Imbas Dolar Meroket
"Awalnya 1,8 juta per truk, sekarang jadi 2 juta," katanya. Ia membeli satu truk kayu bakar setiap pekan. Maka ia menghabiskan kayu bakar sebanyak empat truk dalam sebulan.
Ia mengaku terjebak dalam perang harga dengan pesaing. Ia tak dapat menaikkan harga jual tahunya di pasaran meski biaya produksi kian membengkak.
Persaingan antar produsen membuatnya terpaksa menahan harga jual. Ia bahkan mendapati ada produsen yang menjual tahunya di bawah harga pasaran. "Yang jual di bawah harga pasaran pun ada," katanya.
Ia belum tahu langkah yang akan diambilnya untuk mengatasi pendapatan yang terus merosot. Ia juga belum mendengar informasi tentang solusi dari pihak berwenang ihwal penanganannya.
( Tribunpekanbaru.com / Fernando Sihombing)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/seorang-pengusaha-tahu-di-Jalan-Lembah-Damai-Desa-Pandau-Jaya.jpg)