TribunPekanbaru/

Tour de Borneo Jelajah 2335 Km

Tasman Jen Kaget Tiba-tiba Diberi Uang oleh Orang Tak Dikenal

Tiba tiba si bapak menyelipkan uang warna merah di sepedaku. "Ambil pak, saya ikhlas," katanya sambil berangkat dan mengucapkan hati-hati di jalan

Tasman Jen Kaget Tiba-tiba Diberi Uang oleh Orang Tak Dikenal
Foto/Istimewa
Tasman Jen dan Syaiful yang menjajal Tour de Borneo dijemput oleh Komunitas Sepeda Banjarmasin saat baru tiba dari Palangkaraya beberapa waktu lalu. Perjalanan lintas provinsi kali ini dianggap Tasman tak terlalu berat. 

Mulai Kamis 13 Oktober 2016, Tasman Jen (60), salah seorang personel Trio Lisoi memulai penjelajahannya dalam Tour de Borneo atau Borneo Long Distance Cycling. Bersama Syaiful dari Komunitas Sepeda Pekanbaru Bikepacker, mereka akan melintasi rute sepanjang 2.335 Km di pulau terbesar ketiga di dunia itu. Berikut catatan perjalannya yang dituliskan Tasman Jen.

KEMARIN pagi pengganti roda belakang/wheel set sepeda Auful (Syaiful) dibawakan langsung oleh teman dari Banjarmasin. Wheel set lama yang sudah belong diganti dengan yang baru. Ban luar bagian depanku yang sudah botak juga aku ganti baru. Sekarang alhamdulillah sepeda Auful tak ada masalah.

Malam ini kami mabit di Masjid Mifatul Jannah di Dusun Mantaren Kecamatan Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau setelah kayuhan 108 Km dari Palangkaraya. Gowes kali ini terasa lebih enak dan santai karena jalan dari Palangkaraya ke Banjarmasin datar dan nyaris tak ada tanjakan. Jarak antar desa dekat sekali. Jadi perasaan masih di kota saja.

Jauh sekali bedanya dibandingkan antara Tayan dan Pangkalan Bun atau di perbatasan Kalbar-Kalteng yang semuanya berbukit-bukit. Perkampungan pun jarang. Sehingga ada rasa seram di daerah itu.

Di Km 29 kami memasuki daerah Tumbang Nusa. Di sini kita jalan di jembatan layang Tumbang Nusa yang melintasi rawa gambut sepanjang 10 Km. Kiri kanan sepanjang jembatan ini hanya rawa gambut terlihat sampai ke horizon. Tak terlihat adanya perkampungan di situ.

Angin kencang meniup dari arah barat sedikit mendinginkan tubuh yang disengat matahari. Jalan lebar dua belas meter dibuat dari coran yang masih bagus yang membuat pengendara tergoda untuk memacu kendaraannya lebih laju. Tiupan anginnya kadang kala menggoyahkan kestabilanku bersepeda. Aku sangat meni Kmati kesunyian alam saat itu. Aku abadikan suasana ini dengan video handphone.

Sewaktu kami baru keluar dari jembatan Tumbang Nusa, aku diikuti mobil dari belakang. Kemudian mobil tersebut mendahului dan berhenti beberapa meter di pinggir jalan di depanku. Lalu sopirnya membuka jendela melambaikan tangan menyetop kami.

Aku berhenti kemudian bapak-bapak berwajah oriental sekitar 50 tahun menyapaku. "Selamat siang pak. Maaf mengganggu perjalanannya," sapanya. Saya jawab, "tidak apa pak. Apa yang bisa saya bantu pak?" tanyaku.

Lalu si bapak tadi dengan agak sungkan mengatakan, "kalau saya kasih bapak uang boleh nggak pak?" ujarnya. Aku kaget. Nggak menyangka pertanyaannya seperti itu. Dengan sopan aku tanya lagi, "maaf pak untuk apa uang itu pak?"

Si bapak menjawab, "untuk sekedar beli minum buat bapak berdua pak. Terimalah pak," jawabnya. Aku tertegun lalu menjawab, "terima kasih pak tak usahlah". Tiba tiba si bapak menyelipkan uang warna merah di sepedaku. "Ambil pak, saya ikhlas," katanya sambil langsung berangkat dan mengucapkan hati-hati di jalan.

Aku belum sempat ucapkan terima kasih orang misterius tersebut sudah tancap gas. Siapapun bapak tadi yang aku tahu mobilnya mereka Honda Mobilio warna hitam DA 7884. Semoga Allah membalas segala kebaikannya. Amin!

Kejadian ini seakan akan Allah menanyakanku, "sanggupkah kamu meniru sikap ikhlas tanpa pamrih pada orang yang tidak kamu kenal. Sekalipun seperti yang ditunjukan orang tadi?" Aku tertegun memikirkan siapa orang misterius tersebut.

Aku kasih tahu Auful. Kayaknya bintang kita lagi terang ini dikejar rejeki, hehe.. (*)

Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help