Senin, 27 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

CATATAN TRIBUNERS

Ayah Terlibat, Anak Hebat: Mencegah Anak Indonesia Menjadi Generasi Fatherless

Masa kecil anak seharusnya diwarnai keceriaan dan aktivitas yang menyenangkan. Sayangnya, gambaran ideal ini semakin jarang kita temui.

|
Editor: Erwin Ardian1
ISTIMEWA
Dede Suhendra, Tanoto Foundation Riau, ayah dari dua anak usia 5 tahun dan 6 bulan 

 

Oleh: Dede Suhendra, Tanoto Foundation Riau

Masa kecil anak seharusnya diwarnai keceriaan dan aktivitas yang menyenangkan. Sayangnya, gambaran ideal ini semakin jarang kita temui. Ibu kerap kali harus memikul beban pengasuhan sendirian, sementara ayah terlalu sibuk atau lelah untuk ikut terlibat. 

Fenomena fatherless—ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan, baik secara fisik maupun emosional—sebenarnya bukan hal baru. Namun kini, isu ini makin mencuat, terutama setelah para pemerhati anak mengungkap bahwa banyak sekali kasus fatherless di Indonesia saat ini. 

Data UNICEF tahun 2021 menyebutkan bahwa 20,9 persen anak di Indonesia tumbuh tanpa sosok ayah. Artinya, sekitar 6 juta dari 30 juta anak usia dini kehilangan figur ayah dalam hidup mereka. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun yang sama juga menunjukkan bahwa hanya 37,17 persen anak usia 0–5 tahun yang diasuh bersama oleh ayah dan ibu kandung mereka.

Studi Tanoto Foundation lewat jurnal Optimizing Child Development Through the First Three Years (2024) juga menyoroti bahwa 31,8 persen ayah di Indonesia masih minim atau bahkan tidak terlibat dalam pengasuhan.

Data ini juga menunjukkan bahwa laki-laki cenderung memiliki tingkat keterlibatan yang lebih rendah dibanding perempuan. Padahal, anak membutuhkan kehadiran ayah sebagai pendamping emosional dan teladan kehidupan, bukan sekadar penyedia kebutuhan finansial.

Fenomena fatherless telah mendapat perhatian dalam peringatan Hari Anak Nasional 2024. Komisi VIII DPR RI pun merespons dengan mengesahkan UU Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Seribu Hari Pertama Kehidupan. Salah satu poin utamanya adalah pemberian cuti ayah agar bisa turut serta merawat anak dan mendampingi istri pasca-melahirkan.

Tidak semua anak beruntung mendapatkan stimulasi dan perhatian dari sosok ayah. Ketidakhadiran atau minimnya keterlibatan ayah dapat berdampak pada pembentukan identitas, kepercayaan diri, dan kemampuan bersosialisasi anak.

Belajar dari Film Jumbo

Sedikit demi sedikit

Engkau akan berteman pahit

Luapkanlah saja bila harus menangis

Anakku, ingatlah semua

Lelah tak akan tersia

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Kampus, TNI, dan Demokrasi

 

Riau di Ambang Asap

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved