Trans Celebes Bicycle Touring

Tasman Jen dan Pesepeda Lainnya Ziarah ke Makam Dato Karama Ulama Asal Minangkabau di Palu

Ada satu yang jadi perhatianku, yaitu agama Islam di sini dibawa seorang Syekh keturunan Minangkabau Syekh Abdullah Raqie alias Dato Karama

Tasman Jen dan Pesepeda Lainnya Ziarah ke Makam Dato Karama Ulama Asal Minangkabau di Palu
Facebook/Tasman Jen
Tasman Zen dan kawan-kawan ziarah ke makam Dato Karama, ulama penyebar Islam asal Minangkabau di Palu (kiri) dan Gong perdamaian yang dibangun sebagai perlambang perdamaian di Poso (kanan). 

Setelah sukses dengan Tour de Borneo atau Borneo Long Distance Cycling, Tasman Jen (60), personel Trio Lisoi bersama Syaiful (56), Bambang Trave (53) dan Widodo (53), memulai Trans Celebes Bicycle Touring. Empat pesepeda ini akan blusukan di pulau Sulawesi dengan bersepeda sekitar 1.800 Km. Berikut catatan perjalanannya yang dituliskan secara bersambung oleh Tasman Jen untuk pembaca Tribun Pekanbaru.

DARI Desa Sausi perjalanan kami lanjutkan menuju Parigi. Jalan relatif datar hanya cuaca panas yang agak menyengat. Nuansa Bali terasa di sepanjang jalan. Kuil-kuil Hindu Bali sering kami temui dan kadang terdengar lantunan gamelan dan nyanyian khas Bali.

Sudah berapa orang yang menyapa kami dengan "good morning mister" pada hal sudah jelas jelas kulit hitam kami tapi masih tetap saja dipanggil Mister. Pernah satu kali ibu-ibu sedang ngumpul di bale-bale berteriak "I love you misteeer", sehingga aku dan om Bambang kaget dan terbahak geli mendengarnya.

Baca: Tasman Jen, Syaiful, Bambang dan Widodo Memulai Trans Celebes Bicycle Touring. Tempuh Jarak 1.800 Km

Hal ini merupakan hiburan tersendiri di perjalanan yang panjang ini. Dua puluh kilometer menjelang kota parigi kami bertemu Akbar yang menyongsong kami dengan bersepeda dari Parigi. Kemudian beberapa orang pesepeda dari komunitas sepeda gunung di Parigi, membawa kami istirahat dan makan siang di sebuah restoran di batas kota.

Pada kesempatan ini. kami dijamu makan siang oleh Ketua ISSI Kabupaten Parigi Moutong Muhammad Sakti. Siang itu juga kami diundang ke kantor Wakil Bupati Perigi Moutong H Badrun Nggai SE. Ia mengucapkan selamat datang pada kami dan meminta kami untuk ikut partisipasi mempromosikan wisata Parigi Moutong di setiap daerah atau di luar negeri yang akan kami lewati nanti.

Malam ini kami resmi jadi tamu Pemkab Parigi Moitong dan diinapkan di cottage Kayu Bura berlokasi di pinggir pantai Teluk Tomini yang pernah jadi pusat acara Tomini Sail tahun 2015. Pagi 1 Februari, puas menyaksikan sunrise dari Teluk Tomini kami melanjutkan perjalanan ke Palu.

Jarak Kayu Bura ke Palu yang hanya 60 Km cukup menguras tenaga dan menegangkan. Kami berpacu dengan waktu,karena jalan didaerah tanjakan kebon kopi yang sedang di renovasi dan ditutup pada jam 13.00 sampai 16.00. Di waktu tersebut tidak satu kendaraan pun diizinkan lewat.

Jam 8 pagi kami dari pertigaan Toboli langsung menanjak. Hujan di pagi hari sedikit mendinginkan badan yang panas ditanjakan, hingga hujan akhirnya berganti cuaca panas. Tenaga betul-betul terkuras saat itu. Tanjakan kebon kopi adalah salah satu tanjakan tinggi spektakuler menguras tenaga dalam cuaca panas terik.

Baca: Mimpi Ayahnya Masih Hidup, Sang Anak Minta Makam Ayah Dibongkar, Dan Ternyata . .

Halaman
1234
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help