Trans Celebes Bicycle Touring

Desa Suku Bajo Rasa Maldives, Asyiknya Surfing di Internet di Rumah Panggung Atas Laut

Perkampungan Suku Bajo tidak kalah dengan Maldives. Masyarakat hidup di atas lautan, di rumah panggung tradisional yang juga ada jaringan internetnya.

Desa Suku Bajo Rasa Maldives, Asyiknya Surfing di Internet di Rumah Panggung Atas Laut
Facebook/Tasman Jen
Tasman Jen dan kawan-kawan pesepeda naik perahu di Torosiaje Kampung Suku Bajo, menyeberangi hutan mangrove yang berdampingan dengan lautan yang memakan waktu selama 15 menit saja. Jarak yang tak terlalu jauh dengan biaya kapal Rp 5.000 pulang pergi. 

Setelah sukses dengan Tour de Borneo atau Borneo Long Distance Cycling, Tasman Jen (60), personel Trio Lisoi bersama Syaiful (56), Bambang Trave (53) dan Widodo (53), memulai Trans Celebes Bicycle Touring. Empat pesepeda ini akan blusukan di pulau Sulawesi dengan bersepeda sekitar 1.800 Km. Saat ini, mereka sudah sampai di perkampungan Suku Bajo. Berikut catatan perjalanannya yang dituliskan secara bersambung oleh Tasman Jen untuk pembaca Tribun Pekanbaru.

PADA 7 Februari, kami lanjutkan menuju Moutong. Sebelum Desa Ongka, jalan relatif datar dan sepi. Tanjakan mulai terasa 27 Km menjelang Desa Kayu Jati. Dari desa itu kami istirahat di balebale dan makan pisang segar sambil memandang sangarnya puncak Santigi (berasal dari kata Sangat tinggi) yang harus dilewati.

Lebih kurang 4 Km menanjak rasa seperti satu hari perjalanan. Rasa capek terbayar setelah memandang kebawah ke arah Desa Bolano lambunu. Jalan mulai datar hingga kami sampai di desa Moutong. Jam 5 sore kami berhenti dan kami numpang nginap di Masjid Pertamina Moutong.

Baca: Tasman dan Kawan-kawan Berkemah di Teluk Tomini Nan Memesona

Baca: Dari Kecil Sudah Berwajah Imut, Wajar Saja Artis Cantik Ini Jadi Idaman Pria, Bisa Tebak Siapa?

Keesokan harinya, sepeda kami kayuh lagi ke arah utara hingga 100 km dan sampai di Desa Lemito. Di pinggir jalan Trans Sulawesi kami melihat sebuah Masjid Jamik. Disitulah kami numpang nginap. Masjid itu bagus dan terawat. Menurut informasi, masjid ini dirawat dengan hasil kelapa salah seorang jamaah yang sudah neninggal. Sungguh luar biasa harta yang ditinggal manfaat untuk umat. Semoga Allah membalas dengan segala keberkahannya, amiin.

Malamnya kami berempat di jamu makan oleh seorang jamaah Pak Syamsu Rizal yang juga seorang petani jagung. Kami sangat bersyukur karena di daerah itu tidak ada warung makan. Kalau tidak dijamu tentu kami tidak bisa makan malam itu. Inilah cara Allah memberikan rezki pada kami.

Tanggal 9 Februari jam 7 pagi, dari Lemito kami berangkat menuju Merisa. Jalan Trans Sulawesi sepi dari kendaraan. Udara cerah dengan cahaya merah tembaga matahari pagi menambah semangat untuk mendayung sepeda.

Jarang terlihat rumah penduduk. Masuk perbatasan Desa Sejoli (Sulteng), terlihat gapura besar sebagai batas Propinsi Sulteng dengan Sultra. Desa pertama di Gorontalo yaitu Molosipat.

Sepanjang jalan dan perbukitan terlihat tanaman kelapa. Suatu kali kami mampir ke tempat petani sedang membelah kelapa untuk jadi kopra. Lalu kami menanyakan untuk membeli air kelapanya. Di luar dugaan petani tersebut mengatakan airnya gratis sampai berapapun. Karena selama ini airnya hanya dibuang hingga membuat becek dan menggenang di halaman rumahnya.

Halaman
1234
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help