Pergi dari Rumah, Pria 76 Tahun Ditemukan Mengambang di Kawasan Kebun Sawit

Seorang pria tua yang sudah menghilang beberapa hari dari rumah, ditemukan warga dalam keadaan meninggal dunia.

Pergi dari Rumah, Pria 76 Tahun Ditemukan Mengambang di Kawasan Kebun Sawit
tribun pekanbaru
Mayat pria 76 tahun saat dievakuasi dari lokasi perkebunan sawit di Pangkalan Kerinci Barat. 

tribunpekanbaru.com - Sesosok mayat lelaki tua yang diketahui berusia 76 tahun, ditemukan di areal perkebunan sawit KUD Tuah Negeri, Kelurahan Pangkalan Kerinci Barat, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Senin (11/2) lalu. Jenazah korban harus digotong dari lokasi, karena kawasan itu tidak bisa dilalui kendaraan.

"Kemarin malam jenazah sudah kita serahkan kepada keluarga," kata Kapolres Pelalawan, AKBP Kaswandi Irwan melalui Kapolsek Pangkalan Kerinci, Kompol Usril, Selasa (12/2).

Korban diketahui bernama Suripno, 76 tahun. Korban tinggal di komplek perkantoran Bhaktipraja. Informasi soal penemuan jenazah ini disampaikan masyarakat. Atas informasi ini, jajaran kepolisian pun bergerak ke lokasi. Jajaran kepolisian ditemani Sekdes Desa Kuala Terusan Kawi.

Korban ditemukan dalam posisi telungkup dan mengapung di permukaan air. Hasil penelurusan, ada masyarakat atas nama Elliyani Dalimunthe yang pernah melaporkan orangtuanya hilang atau tidak diketahui keberadaannya sejak 6 Februari lalu.

"Suaminya Elliyani Dalimunthe yakni Zainal, membenarkan bahwa mayat laki-laki tersebut adalah orangtua mereka," ujarnya.

Korban diketahui mengalami pikun. Sebab sebelumnya korban juga sudah pernah hilang/pergi dari rumah dan tidak kembali. Karena ada yang mengenal dan melihat korban di Jl Seminai Pangkalan Kerinci, maka saat itu korban kembali ke rumah.

Pada 6 Februari, korban kembali pergi meninggalkan rumah hingga akhirnya ditemukan sudah meninggal. Diduga korban meninggal karena kelelahan mengingat usia tua. Korban juga tidak tahu arah jalan pulang.

Membawa jenazah korban dari lokasi penemuan juga tidak gampang. Sebab akses jalan menuju ke lokasi digenangi air, sehingga tidak dapat dilalui kendaraan. "Korban harus digotong dari lokasi menggunakan kantong jenazah. Keluarga korban menolak untuk otopsi," terang Usril. (pis)

Penulis: Dian Maja Palti Siahaan
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved