Sabtu, 11 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

PDAM Inhu Gunakan 300 Kg Bahan Kimia

Untuk Menjernihkan Air dari Sungai Indragiri

Editor:
TRIBUNPEKANBARU.COM, RENGAT - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang masih marak tejadi di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), menyebabkan kualitas air Sungai Indragiri terus memburuk.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, pasti mengancam pasokan air bersih untuk warga Inhu. Sebab Sungai Indragiri masih menjadi sumber air terbesar untuk berbagai aktivitas, terutama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Indra.

Akibat buruknya kualitas air Sungai Indragiri, PDAM harus mengeluarkan biaya produksi lebih besar agar air yang didistribusikan ke pelanggan jernih dan layak dikonsumsi.

"Dibanding beberapa tahun sebelumnya, tingkat kekeruhannya semakin tinggi dan kita khawatir akan lebih buruk," ujar Direktur Utama PDAM Tirta Indra Kabupaten Inhu, Ahmad Hafiz, Kamis (23/5).

Ia menjelaskan, Januari 2013 lalu, PDAM Tirta Indra sudah melakukan uji laboratorium terhadap kualitas air Sungai Indragiri. Hasilnya, air Sungai Indragiri masih layak dikonsumsi setelah dilakukan pengolahan dan dimasak oleh pelanggan.

"Kita hanya melakukan uji labor untuk keperluan kita saja, soal ada atau tidak kandungan logam, tidak sampai ke sana," ungkapnya.

Hafiz mengungkapkan, kekeruhan Sungai Indragiri semakin buruk ketika permukaan sungai surut. Diduga, pada kondisi seperti ini aktivitas PETI semakin marak terjadi, termasuk air bersumber dari kanal-kanal perkebunan kelapa sawit.

"Kalau dulu, saat air Sungai Indragiri surut, kualitas air semakin jernih. Tetapi saat ini, semakin surut, semakin keruh. Kondisi ini menyebabkan PDAM Tirta Indra harus meningkatkan penggunaan bahan kimia mencapai 30 persen atau sekitar 300 kilogram untuk 16 jam dengan kapasitas produksi 80 liter per detik," jelasnya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Inhu, Harman Harmaini minta Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan instansi terkait lainnya memantau aktivitas PETI di Inhu. Disinyalir, pelaku PETI di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) akan bergerak mencari tempat baru di wilayah Inhu yang lebih aman.

Sebab di Kuansing, operasi pemberantasan PETI sedang gencar dilakukan dipimpin langsung Bupati Sukarmis. Menurut Harman, para pelaku PETI menggunakan bahan kimia mercuri dalam aktivitasnya, sehingga menyebabkan sungai Indragiri tercemar.

Padahal air baku PDAM Tirta Indra yang diminum masyarakat di Inhu berasal dari Sungai Indragiri. "Jika terus dibiarkan, tentu saja akan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Sejauh ini Pemkab Inhu juga tidak pernah memberikan izin terhadap pelaku PETI," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BLH Inhu, Moch Bayu SB membenarkan pelaku PETI menggunakan bahan kimia mercuri dalam aktivitasnya. Mercuri ini sejenis logam  yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan penyakit binamata hingga kulit manusia terkelupas. "Untuk jangka pendek, menyebabkan iritasi dan gatal-gatal," jelasnya.

Bayu mengungkapkan, berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan BLH Inhu tahun lalu terhadap air di Sungai Indragiri ditemukan kandungan mercuri. Bahkan BLH Provinsi Riau menemukan kandungan logam berat berdasarkan hasil pantauan kualitas air Sungai Indragiri yang dilakukan tiap tahun.

"Kalau untuk saat ini Sungai Indragiri memang sudah tercemar dalam kategori ringan. Tetapi jika aktivitas PETI terus dibiarkan maka pencemaran bisa terus meningkat hingga masuk kategori sedang dan berat," tegasnya.

BLH Inhu, kata Bayu, tahun 2012 lalu sudah mensosialisasikan penggunaan
alat Gold Separator bagi para pelaku PETI. Ini merupakan alat pemisah emas ramah lingkungan dan tidak menggunakan bahan kimia bebahaya.

Hanya saja masyarakat enggan menggunakannya karena Gold Separator, karena harus menggunakan bahan bakar dan bisa digunakan di darat. Sementara menggunakan bahan kimia, pelaku PETI bisa memisahkan emas langsung di sungai tanpa harus menuju daratan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved