Tour de Kilometer Nol Sabang Trio Lisoi

Rasa Minang di Pintu Masuk Serambi Mekah

Teuku Tuan ini diceritakan sebagai orang suci yang menyelamatkan penduduk Tapak Tuan zaman dulu dari amukan dua ekor naga berkat kesaktiannya

Facebook/Tasman Jen
Trio Lisoi ditraktir Pak zakir anak angkat Pak Agus Adjam di Blang Pidie, Keude Linteung, Seunagan Timur, Nagan Raya, Aceh. 

Hingga pukul 16.30, setiba di Desa Jambo Dalem Aceh Selatan, kami berhenti di sebuah warung untuk mengisi perut. Pak yusuf pemilik warung pun tak keberatan kami menginap malam itu di warungnya. Keesokan pagi kami kembali dihadapkan pada ganasnya medan menelusuri jalanan di Bukit Barisan.

Pagi itu kami melewati padang rimba Trumon Tengah. Dari kejauhan terlihat gunung kapur yang melintang dengan jalan menusuk tajam ke puncak bukit. Nyaliku agak ciut melihat tingginya tanjakan kemiringan 40 derajat dengan dua gelombang sejauh lebih kurang 1 kilometer. Mendekati tanjakan, kayuhan sepeda hanya dengan kecepatan 30 kilometer per jam.

Sekitar 300 meter menjelang sampai di gunung kapur, tenagaku sudah terkuras habis. Namun begitu sampai di puncak, saat melihat ke bawah dari kejauhan tampak laut lepas dengan pantai Lok Jamin yang membuat rasa letih hilang.

Sekitar pukul 13.00, kami sampai di Kecamatan Kluet Selatan dan menumpang istirahat di Masjid Al Muqaramah. Anak-anak desa yang waktu itu mendekati kami terdengar berbicara dengan bahasa Minang tapi logatnya asing bagi telingaku. Saya mencoba mencari tahu dan menurut literatur yang aku baca ternyata bahasa tersebut adalah bahasa Suku Aneuk Jamee atau Orang Datang.

Suku Aneuk Jamee adalah sebuah suku yang tersebar di sepanjang pesisir barat Nanggroe Aceh Darussalam. Dari segi bahasa, Aneuk Jamee diperkirakan masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau dan menurut cerita, mereka memang berasal dari Ranah Minang.

Orang Aceh menyebut mereka sebagai Aneuk Jamee yang berarti tamu atau pendatang. Bahasa yang digunakan bukan bahasa Minang lagi tapi Bahasa Jamee. Mirip tapi tidak persis sama. Di Daerah Kluet Selatan, Tapaktuan, Blangpidie dan Susoh hampir semua masyarakat bisa berbahasa Aneuk Jamee dan Aceh.

Konon ceritanya, menjelang berakhirnya Perang Paderi yang berlangsung pada tahun 1803 hingga 1838, para pejuang Paderi mulai terdesak oleh serangan kolonial Belanda.

Minangkabau pada saat itu adalah bagian dari Kerajaan Aceh mengirim bantuan balatentara. Ketika keadaan makin kritis rakyat terpaksa dieksoduskan. Pada saat itu mulailah masyarakat Minangkabau bertebaran di pantai Barat Selatan Aceh. Bahasa Minang pun berasimilasi dengan bahasa Aceh yang melahirkan bahasa Jamee.

Versi lain yang saya dapat dari obrolan orang-orang tua yang bertemu di masjid tempat kami menginap, mengatakan, Aneuk Jamee di Aceh Selatan menempati di daerah-daerah pesisir yang dekat dengan laut. Mungkin jalur perpindahan nenek moyang dulu adalah dari jalur ini.

Jejak-jejak sejarah imigrasi suku Minang ke Aceh Selatan kembali saya temui keesokan hari saat hendak membetulkan smartphone yang rusak. Menjelang memasuki Kota Tapak Tuan, kami mendapati sebuah tugu yang menggambarkan naga dan telapak kaki besar.

Halaman
123
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved