Tour de Kilometer Nol Sabang Trio Lisoi
Rasa Minang di Pintu Masuk Serambi Mekah
Teuku Tuan ini diceritakan sebagai orang suci yang menyelamatkan penduduk Tapak Tuan zaman dulu dari amukan dua ekor naga berkat kesaktiannya
Orang Aceh menyebut mereka sebagai Aneuk Jamee yang berarti tamu atau pendatang. Bahasa yang digunakan bukan bahasa Minang lagi tapi Bahasa Jamee. Mirip tapi tidak persis sama. Di Daerah Kluet Selatan, Tapaktuan, Blangpidie dan Susoh hampir semua masyarakat bisa berbahasa Aneuk Jamee dan Aceh.
Konon ceritanya, menjelang berakhirnya Perang Paderi yang berlangsung pada tahun 1803 hingga 1838, para pejuang Paderi mulai terdesak oleh serangan kolonial Belanda.
Minangkabau pada saat itu adalah bagian dari Kerajaan Aceh mengirim bantuan balatentara. Ketika keadaan makin kritis rakyat terpaksa dieksoduskan. Pada saat itu mulailah masyarakat Minangkabau bertebaran di pantai Barat Selatan Aceh. Bahasa Minang pun berasimilasi dengan bahasa Aceh yang melahirkan bahasa Jamee.
Versi lain yang saya dapat dari obrolan orang-orang tua yang bertemu di masjid tempat kami menginap, mengatakan, Aneuk Jamee di Aceh Selatan menempati di daerah-daerah pesisir yang dekat dengan laut. Mungkin jalur perpindahan nenek moyang dulu adalah dari jalur ini.
Jejak-jejak sejarah imigrasi suku Minang ke Aceh Selatan kembali saya temui keesokan hari saat hendak membetulkan smartphone yang rusak. Menjelang memasuki Kota Tapak Tuan, kami mendapati sebuah tugu yang menggambarkan naga dan telapak kaki besar.
Saya segera menuju sebuah ruko yang menjual asesoris ponsel. Terdengar bapak penunggu toko ponsel itu berbahasa Minang. Saya pun penasaran dan bertanya dimana kampungnya di Minang. Pak Zein, si penunggu ruko mengatakan kalau dia kelahiran Aceh. Menurutnya nenek moyangnya mungkin dari tanah Minang, tapi ia sudah tidak tahu generasi keberapa.
Begitu juga waktu kami makan siang di warung nasi, penjualnya berbahasa Minang yang mirip logat Pariaman. Tapi ternyata pemilik warung nasi itu kelahiran Pulau Simelu dan belum pernah berkunjung ke negeri Minang. Penasaran tentang sejarah Tapak Tuan kami melakukan kunjungan ke tempat jejak telapak tuan dipinggir laut.
Kami berjalan sejauh 200 meter di sisi bukit lalu bertemu pantai karang. Di sana bisa dapati sebuah dataran yang agak ceper dengan cetakan telapak kaki seukuran 1x3 meter. Cetakan telapak kaki itu oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai tapak tuan atau Teuku Tuan.
Teuku Tuan ini diceritakan sebagai orang suci yang menyelamatkan penduduk Tapak Tuan zaman dulu dari amukan dua ekor naga berkat kesaktiannya. Teuku Tuan berhasil membunuh satu naga dan satu lagi lari ke tengah samudra, Dari cerita rakyat tersebut Kota Tapak Tuan pun dikenal juga dengan Kota Naga. (TRIBUN PEKANBARU CETAK/hen)
Bagaimanakah kisah petualangan sepeda Trio Lisoi selanjutnya? Simak informasinya di www.tribunpekanbaru.com. Ikuti Video Berita di www.tribunpekanbaru.com/video
FOLLOW Twitter @tribunpekanbaru dan LIKE Halaman Facebook: Tribun Pekanbaru
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/trio-lisoi-di-blang-pidie-aceh_20160222_084116.jpg)