Minggu, 26 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Pesona Wisata Siak dan Rupat

Sempat Mati Suri, Kini Zapin Api Hadir Sebagai Aset Kekuatan Rupat Utara

Permainan tradisional zapin api di Rupat Utara sempat mengalami mati suri. Kini,permainan zapin api mulai dihidupkan kembali oleh Pemkab Bengkalis

Penulis: Theo Rizky | Editor: Sesri
TribunPekanbaru/TheoRizky
Pemain Zapin Api tengah beraksi di Desa Tanjung Medang, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Sabtu (16/4/2016) malam. 

Laporan Fotografer Tribun Pekanbaru, Theo Rizky

TRIBUNPEKANBARU.COM, RUPAT UTARA - Dengan diiringi tiga orang pemukul kompang dan seorang pemetik gambus yang menjadi pemimpin, atau dalam permainan ini disebut khalifah, lima lelaki bertelanjang dada berjongkok bergandengan, mengelilingi kemenyan sambil memanjatkan doa-doa khusus.

Dari belakang, khalifah pemetik gambus berbisik kepada masing-masing pemain, lalu mulailah para pemain menari riang.

Tidak jelas gaya tariannya, tapi para pemain sangat menikmati dan seperti mempunyai dunianya sendiri, tanpa aba-aba seorang pemain langsung menembus kobaran api dari serabut kelapa yang sudah dibakar sebelumya.

Disusul lagi dengan pemain kedua, serabut yang membara itu dipegang, digosokkan ke badan hingga memercikkan bunga-bunga api yang beterbangan.

Sesekali penari itu merebut kompang yang dipakai pemusik dan memainkannya, seakan-akan ingin mengajar dan mengatakan , "ini irama yang aku inginkan, pukulah seperti ini," . Bila musik tidak pas dihati, para pemain tidak akan puas.

Permainan yang dilakoni sekelompok orang pada malam hari Sabtu (16/4/2016) di pinggir Pantai Teluk Rhu, Desa Tanjung Medang, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis itu dinamakan dengan zapin api, permainan tua yang hanya ada di Rupat Utara.

Adalah Abdullah (71) yang menjadi khalifah dalam pertunjukan zapin api tersebut, selain memainkan gambus, ia juga bertugas menjaga ritme permainan agar tetap menjadi tontonan yang seru.

Dijelaskan Abdullah, asal usul zapin api yang dimainkannya itu diturunkan langsung dari orang tuanya bernama Husin, seorang khalifah zapin api yang sangat tersohor di Bengkalis.

Sejak berumur 15 tahun Abdullah sudah belajar dari ayah dan berhak menggantikan posisinya setelah sang ayah meninggal dunia sekitar 50 tahun yang lalu.

Di Rupat Utara hanya ada dua orang yang menjadi khalifah zapin api, Abdullah dan seorang warga bernama M Nur, namun M Nur sudah berumur cukup tua sehingga tidak terlalu aktif lagi memimpin Zapin api.

Menurut Abdullah, untuk prosesi zapin api, memerlukan sejumlah alat pendukung, yaitu kayu dan serabut kelapa yang sudah menjadi api, kemenyan, alat musik kompang dan gambus.

"Ada mantera-manteranya yang dibaca dari ayat Al Quran, doa yang kita kirimkan kepada para syeh," kata pria yang lahir seminggu setelah hari kemerdekaan Republik Indonesia tersebut.

"Setelah irama musik menyatu dan jiwa sudah bersatu, dengan diiringi syair, nanti keluar sendiri, baru pemain itu menari, gerakannya tidak ada yang direncanakan, ini yang membedakan dari gerakan tarian zapin biasanya," ujar Abdullah.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved