Rabu, 27 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Tour de Borneo Jelajah 2335 Km

Berhasil Tempuh 2.640 Km, Tasman dan Syaiful Ditunggu Keluarga di Balikpapan

Total jarak tempuh sejauh 2640 Km. Ini melebihi perkiraan kami sebelumnya yaitu 2335 Km. Perjalanan ini menurunkan berat badanku dari 70 Kg jadi 64 Kg

Tayang:
Editor: harismanto
Facebook Tasman jen
Tasman Jen (kiri) dan Syaiful berfoto di Complex Pasir Ridge Chevron Balikpapan usai menjalani Tour de Borneo selama 30 hari menjelajahi belantara Kalimantan sejauh 2.640 Km. 

Jam 10 pagi, kami sampai di Gunung Halat perbatasan Kalsel dengan Kaltim. Sekitar daerah perbatasan banyak ditemui warung-warung penjual makanan dan minuman. Aku memesan air minum hangat untuk pelepas dahaga. Lalu Auful (Syaiful) memberi tahu aku untuk melihat satu pohon di perbatasan yang cukup unik. Tapi nama pohonnya aku tidak tahu.

Pada satu pohon tersebut ada dua ukuran daun yaitu dahannya yang kearah Kalsel daunnya besar besar dan yang menghadap ke Kaltim daunnya kecil-kecil. Tidak ada perkampungan di perbatasan. Hanya warung-warung kopi tempat para pengendara kendaraan istirahat melepas lelah.

Udara makin panas. Jalan di bagian Kaltim sungguh parah sekali. Sebagian dalam perbaikan dan dicor. Ada juga yang masih terbengkalai compang-camping. Tanjakan yang tinggi-tinggi di tambah lobang besar dan batu kerikil berserakan di jalanan. Sehingga debu yang beterbangan sangat mengganggu pernapasanku.

Dalam kondisi tersebut kami tidak mungkin untuk memacu sepeda di tanjakan. Beberapa kali aku harus dorong sepeda di tanjakan tersebut. Mendorong sepeda di terik udara panas ditambah debu yang mengganggu pernafasan sungguh memerlukan kesabaran dan tenaga ekstra agar berhasil sampai ke puncak.

Aku berusaha menikmati pengalaman yang istimewa ini dan menyadari bahwa daerah ini benar-benar suatu ujian kesabaranku. Kadang timbul rasa bosanku lalu berhenti dan duduk diam beberapa saat. Lalu bangkit lagi buru-buru khawatir kemalaman di daerah tidak berpenghuni.

Beberapa ruas jalan dekat Muara Komam, ada penyemenan jalan sampai Batu Kajang. Di kota ini mulai terasa aspal yang lumayan bagus. Kami memasuki kota Batu Kajang dengan rasa syukur yang amat sangat. Kami memutuskan bermalam di kota ini.

Mataku tak henti-hentinya mencari warung yang menjual es campur. Entah kenapa aku rindu sekali minum es campur saat itu. Tapi sepanjang jalan tidak kutemui. Akhirnya karena tidak tahan haus, aku berhenti di pedagang kaki lima. Disitu ada penjual buah dingin.

Saat berhenti disitu, beberapa pasang mata memandang aku yang sudah kering dan kumal kena debu jalanan. Aku lahap beberapa potong semangka dan pepaya terasa nyaman sekali di kerongkongan.

Kami sholat dzuhur di Masjid Raya Batu Kajang. Selesai sholat aku perhatikan sepertinya mendung di arah utara. Kami pertimbangkan kalau perjalanan diteruskan kami akan kehujanan dijalan yang tak ada perkampungannya. Lalu kami memutuskan untuk istirahat di desa Batu Kajang saja.

Hujan deras turun mulai dari jam 4 sore itu sampai malam. Kami mempertimbangkan untuk naik bus sampai Penajam karena hujan tak kunjung berhenti. Tentu jalannya akan sulit dilalui karena berlumpur dan tidak aman untuk bersepeda. Akhirnya kami tidak jadi tidur di kota tersebut dan naik bis malam jam 2 pagi hingga sampai di Penajam saat subuh.

Sampai di Balikpapan
Tanggal 13 November 2016, genap sebulan perjalanan kami,keluarga sudah menunggu di Balikpapan. Kami turun bis di pelabuhan feri Penajam. Aku lihat ban belakang sepedaku kempes total. Di jembatan menuju feri yang masih sepi aku berhenti lalu mengganti ban dalam sepeda dengan yang baru.

Lalu sepeda kembali kami kayuh menuju pelabuhan kelotok atau kapal kayu tradisional. Disini kami menyeberang dengan kapal kayu menuju dermaga Kampung Baru Balikpapan.

Kesan pertamaku memasuki kota ini adalah bersih. Tidak terlihat tumpukan sampah sebagaimana kota-kota di Indonesia. Lebih mirip kota-kota di Malaysia. Kendaraanpun rada tertib dan tidak ada yang serobot sana serobot sini. Aku acungkan jempol untuk ketertiban berkendaraan ataupun kebersihannya di Balikpapan ini.

Sepeda kami menuju ke arah kantor Chevron di Pasir Ridge, Jalan Attaka Besar, Telaga Sari, Balikpapan Kota. Kami bertiga memasuki tanjakan yang lumayan tinggi lalu berbelok ke kiri disitu terlihat papan nama PT Chevron Pacific Indonesia dimana aku pernah bergabung selama 30 tahun di perusahaan ini.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved