Terbukti Efektif, Anderson Tanoto: Program Desa Bebas Api Kembali Dilanjutkan Tahun Ini

"9 desa baru telah terdaftar, dan 9 desa lainnya yang memasuki tahun ketiga akan menjadi Masyarakat Tangguh Api," ungkap Anderson.

Terbukti Efektif, Anderson Tanoto: Program Desa Bebas Api Kembali Dilanjutkan Tahun Ini
Direktur RGE, Anderson Tanoto memberikan penjelasan Program Desa Bebas Api dalam diskusi panel pada Responsible Business Forum Foods and Agriculture 2017 di Jakarta, Rabu (5/3/2016). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA - Direktur Royal Golden Eagle (RGE), Anderson Tanoto, menyatakan Program Desa Bebas Api terbukti efektif mencegah kebakaran lahan dan hutan, karena melalui program ini, setiap orang diingatkan untuk tidak membakar hutan dan lahan.

"Ini bukan hanya soal memberikan penghargaan, tapi juga kebesamaan para pihak melalui pendekatan landscape," kata Anderson dalam diskusi panel pada Responsible Business Forum Foods and Agriculture 2017 di Jakarta, Rabu (5/3/2016).

Baca: Fire Free Alliance Tangani Kebakaran Hutan dan Kabut Asap di Lebih dari 200 Desa

Sebanyak 18 desa berpartisipasi dalam program Desa Bebas Api pada tahun 2016 dengan penambahan 50 desa di program Fire Awareness Communities sebagai pendahulunya. Program ini sudah mencakup kawasan seluas 600,000 hektare, dengan area yang mengalami kebakaran di tahun 2016 hanya seluas 0,07 persen.

"Program ini akan berlanjut di tahun 2017 dengan 9 desa baru telah terdaftar, dan 9 desa lainnya yang memasuki tahun ketiga akan menjadi "Masyarakat Tangguh Api’," ungkap Anderson.

Baca: Fire Free Alliance Sambut Sime Darby dan IOI Group Jadi Anggota Baru

Sementara itu, Asisten Deputi Tata Kelola Perhutanan Kemenko Perekonomian, Prabianto Mukti Wibowo, mengatakan, kebakaran hutan dan lahan jelas mengganggu aktivitas manusia. Tidak hanya berdampak terhadap lingkungan tapi juga terhadap sosial ekonomi.

Pemerintah, katanya, saat ini fokus kepada pencegahan dan bukan suppression. Oleh karena itu, pemerintah meminta dukungan semua pihak, termasuk perusahaan karena pemerintah melihat ada 73 desa yang memiliki potensi kebakaran cukup tinggi.

"Dan ini harus dikerjakan bersama-sama. Oleh karena itu, pemerintah mendukung apa yang dilakukan Fire Free Alliance (FFA) dan berharap agar terus berkontribusi lebih dalam menanggulangi masalah kebakaran lahan secara holistic bersama-sama dengan seluruh pihak," katanya.

Didirikan pada Februari 2016, FFA fokus pada upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan dengan melibatkan masyarakat setempat. Para pendirinya yakni APRIL, Asian Agri, IDH, Musim Mas, PM. Haze, dan Wilmar. Aliansi ini juga menyambut Sime Darby dan IOI Group sebagai anggota baru, yang diumumkan pada hari ini di sela-sela rangkaian acara Responsible Business Forum di Jakarta.

Berdasarkan Laporan “Ulasan Anggota FFA 2016”, para anggota FFA telah secara cepat memperluas jangkauan upaya pencegahan kebakarannya ke 218 desa di sejumlah daerah di Indonesia. Termasuk 77 desa yang telah mendaftarkan diri ke perusahaan-perusahaan anggota FFA untuk terlibat dalam program bebas api yang intensif pada tahun 2016.

Terjadi peningkatan hingga 756% dalam jumlah desa yang berpatisipasi jika dibanding sejak Program Desa Bebas Api (Fire Free Village Programme/FFVP) pertama kali diluncurkan oleh APRIL yang hanya melibatkan 9 desa pada pertengahan tahun 2015. Pada beberapa kasus, para anggota FFA telah melaporkan penurunan insiden kebakaran antara 50% dan 90% dari tahun 2015 hingga 2016.

“Pendirian FFA bertujuan untuk membantu para anggotanya dalam berbagi pengetahuan dan sumber daya. Hal ini menjadikan FFA sebagai sebuah wadah bagi para anggotanya untuk saling bahu membahu mengembangkan strategi-strategi yang paling efektif untuk mencegah dan mengelola risiko-risiko kebakaran melalui kemitraan jangka panjang dengan masyarakat di seluruh Indonesia dan Malaysia,” ungkap Dorjee Sun, Direktur Carbon Conservation sekaligus Sekretariat FFA. (nto)

Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved