Kampar
Puluhan Guru Bantu di Kampar Bakal Mengajar dengan Honor Rp. 400.000
Puluhan Guru Bantu di Kampar sedang gusar. Mereka siap-siap mengajar dengan honor Rp. 400.000 per bulan.
Penulis: Fernando Sihombing | Editor: Sesri
Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Nando
TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Puluhan Guru Bantu di Kampar sedang gusar. Mereka siap-siap mengajar dengan honor Rp. 400.000 per bulan. Tentu kenyataan ini sulit mereka terima. Betapa tidak, honor turun drastis dari yang mereka terima pada bulan-bulan sebelumnya.
Nama mereka yang dipekerjakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Riau terancam dicoret dari daftar penerima honor. Di pihak lain, teman mereka sedang bergembira dengan honor yang jauh lebih tinggi.
Ketua Forum Guru Tenaga Harian Lepas (THL) se-Kampar, Didin Syafrudin menyuarakan kegalauan itu, Rabu (3/5/2017).
"Puluhan teman-teman guru bantu terancam diputus gajinya yang dari Pemprov (Riau)," ungkapnya.
Menurut Didin, Disdikbud Riau memang memberi solusi. Honor dialokasikan melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDa) sebesar Rp. 400.000 per bulan. Ia menuturkan, guru bantu keberatan karena dinilai jauh dari layak.
Pasalnya, kata dia, honor yang diterima sebelumnya sudah memenuhi Upah Minimum Provinsi (UMP). "Guru bantu menggantung hidup dari honor Pemprov sejak beberapa tahun. Sebagai sumber menafkahi keluarga mereka," ujar Didin.
Menurut Didin, penghasilan di atas Rp. 2 juta per bulan hilang karena pendataan guru bantu secara daring. Guru bantu tersandung lama mengajar minimal. Dimana, guru bantu harus mengajar minimal tujuh jam seminggu.
"Alasannya karena lama mengajar tidak mencukupi," jelas Didin.
Menurut dia, aturan jam mengajar minimal itu sesuai Surat Edaran Disdikbud Riau tertanggal 27 April 2017 lalu.
Surat Edaran itu kemudian disusul oleh pendataan secara daring. Ia berujar, proses penginputan data banyak kekeliruan. Sehingga korbannya puluhan guru bantu.
"Padahal teman-teman, jam mengajarnya sudah cukup bahkan lebih (dari batas minimal)," katanya.
Menurut Didin, para guru bantu meminta penjelasan dari Disdikbud Riau tentang nasib mereka. Namun pihak Disdikbud Riau malah mengkambinghitamkan sekolah saat proses penginputan data. (*)
SUBSCRIBE Youtube: Tribun Pekanbaru,
LIKE Halaman Facebook: Tribun Pekanbaru,
FOLLOW Twitter @tribunpekanbaru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/ilustrasi-tribun-baru_20161230_092519.jpg)