Benarkah Remaja yang Tewas Bersimbah Darah Ini Korban Perampokan? Ini Barang Buktinya
Menurut dokter jaga UGD, yang menangani Richard, dr Triase, kondisi korban sudah kejang-kejang saat tiba di RS Pirngadi.
Ia bersama seorang warga diinterogasi tiga penyidik di ruang tamu. Beberapa penyidik lainnya berdiri di pelataran rumah.
Mereka berdiskusi sembari meletakkan berbagai barang, seperti tas milik korban di di atas meja. Sedangkan, pagar rumah dan pintu masuk sudah diberi garis polisi.
Sebelumnya, Boru Sitorus menceritakan, saat terjadi pembacokan, ia sedang memasak di dapur. Ia berlari ke ruang tamu, saat mendengar suara gaduh.
Kala itu, J Pakpahan, suami Boru Sitorus, tidak di rumah. Pakpahan masih mengajar di sekolah swasta di Batangkuis.
Namun, Boru Sitorus belum sempat menyebutkan identitas pembunuh anaknya, karena Refles Pakpahan, putra ketiganya meratap histeris.
Ia terlihat berupaya memenangkan anak ketiganya, yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Setelah itu, petugas kepolisian langsung memintanya untuk memberi keterangan terkait pembunuhan itu.
Apalagi, dari pemeriksaan sementara, enggak ada barang berharga atau uang yang hilang dari rumah tersebut.
Suara Cekcok
Tribun Medan, yang kebetulan melintas di Jalan Lintas Sumatera, tidak jauh dari pintu Tol Tanjungmorawa-Medan, mendengar suara gaduh.
Setelah membuka kaca mobil, terdengar para warga, yang berdiri di pinggir jalan, meneriakkan ada perampokan disertai pembunuhan di rumah warga.
Beberapa petugas kepolisian langsung masuk ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk mencari bukti-bukti pelanggaran hukum.
Menurut warga, keluarga Richard belum lama tinggal di rumah tersebut.
"Mereka baru satu bulan tinggal di sini. Kami tidak begitu kenal, karena mereka orang baru di sini. Tapi, sempat tadi ada keributan. Terdengar suara teriak-teriak dari dalam rumah," ujar perempuan menggunakan kaus putih, yang menolak menyebut identitasnya.
"Jangan tulis nama aku. Nanti payah, soalnya aku juga tidak tahu pasti kejadiannya bagaimana. Tapi, pelaku itu agak hitam (sawo matang). Kabarnya, lari enggak pakai baju dan naik becak," katanya melajutnya perbincaraan.
Ia mengungkapkan, Pakpahan merupakan guru di Yapim Batangkuis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/orangtua-korban-boru-sitorus-menangis_20171115_103358.jpg)