Berkat Pria Ini Indonesia Nomor 1 di Asia Tenggara
Si "dia" itu meninggal puluhan tahun yang lalu. Yang membuat kita nomor satu di Asia Tenggara itu ialah koleksinya.
Boleh dikatakan seluruh uangnya habis untuk menambah koleksinya.
Anehnya, de Flines hampir tak pernah membeli porselin dari pedagang Cina sendiri, karena pada umumnya mereka hanya memperdagangkan barang-barang yang belum terlalu tua, yakni dari Dinasti Qing (1644-1911) dan mereka sering mendatangkan barang dari Hong Kong, Singapura atau langsung dari Cina, sehingga barang-barang itu tak ada kaitan sejarah dengan Indonesia.
Yang memungkinkan ia terus mengembangkan koleksinya, kecuali kekayaan pribadinya, juga gajinya yang cukup memadai sebagai manajer bank dan kehidupan pribadinya yang sangat sederhana menurut ukuran kolonial.
Ia tidak memiliki mobil, sedang bawahannya ada yang naik mobil pribadi ke kantor. Makannya sederhana, tidak merokok atau minum, tidak mempunyai hobi atau kebiasaan mahal seperti Belanda lain di masa penjajahan.
Kehadirannya dalam masyarakat kolonial juga diremehkan, tetapi ia tak mempedulikannya.
Pergaulannya lebih erat dengan para ahli kebudayaan yang tergabung dalam Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga untuk Kesenian dan Ilmu Pengetahuan di Jakarta) yang menyelenggarakan Museum (Gedung Gajah).
Orsoy de Flines memiliki rumah yang cukup besar dan keuangan cukup leluasa, tetapi ia tetap membujang. Salah satu peristiwa penting ialah pembatalan pertunangannya.
Pada waktu itu keluarganya di Belanda beranggapan bahwa sudah tiba waktunya baginya untuk membentuk rumah tangga.
la dicarikan seorang nona dari keluarga baik-baik yang setaraf dengan keluarganya sendiri, sebab sedikit banyak keluarga Orsoy de Flines masih berdarah bangsawan.
Nona itu berlayar ke Hindia Belanda untuk menemui calon suaminya. Setibanya di Semarang calon mempelai itu kecewa, sebab bayangannya di Negeri Belanda tak sesuai dengan kenyataannya.
Bukan karena calon suami itu kurang gagah, kurang kaya atau kurang baik perangainya, tetapi sebab ia tak hidup sesuai dengan derajatnya, dengan kedudukannya.
Rumahnya seperti gudang barang antik, pergaulannya dengan pedagang-pedagang antik dan barangkali yang paling parah ialah bahwa hampir seluruh waktunya tersita habis oleh keramik.
Pertikaian tak dapat dihindarkan dan pulanglah si nona ke negeri asalnya dengan hati kecewa.
Setelah pertunangan gagal itu sampai akhir hayatnya de Flines tetap membujang dan hidup seperti orang miskin, dengan koleksinya yang merupakan segala-galanya dalam hidupnya.
Tahun 1928 ayahnya meninggal dan de Flines pulang ke Negeri Belanda. Kesempatan itu dipergunakannya untuk meninjau museum-museum di negeri sendiri maupun di Eropa untuk memperdalam pengetahuannya tentang porselin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/egbert-willem-van-orsoy-de-flines-koleksi-keramik_20171203_120202.jpg)