Kamis, 16 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Berkat Pria Ini Indonesia Nomor 1 di Asia Tenggara

Si "dia" itu meninggal puluhan tahun yang lalu. Yang membuat kita nomor satu di Asia Tenggara itu ialah koleksinya.

Editor: Ariestia
Istimewa
Berkat dia Indonesia nomor 1 di Asia Tenggara 

Kepindahannya dari Semarang ke Ungaran antara lain juga disebabkan rumahnya di Semarang sudah terlalu sempit untuk menampung koleksinya yang makin membesar.

Di samping itu di Ungaran ia juga mengusahakan sebuah perkebunan coklat. Sekitar tahun 1930 koleksi itu sudah mencapai dua ribu buah.

Dalam tahun berikutnya ia menyatakan kepada museum di Jakarta bahwa jika disediakan tempat khusus, koleksinya akan diserahkan kepada museum.

Sejak mula ia memang tak berniat untuk memindahkan koleksi itu ke negerinya sendiri, sebab ia merasa bahwa Indonesia merupakan tanah airnya yang kedua.

Sejak dulu ia sering mengatakan kepada pedagang antik bahwa ia tak berniat memiliki barang-barang itu, melainkan untuk melindungi dari kepunahan.

Dia juga sering memarahi pedagang yang menjual barang bagus kepada orang yang akan membawa ke luar negeri atau yang tak tahu arti dan nilainya.

Bulan Maret 1932 dibangun ruang khusus untuk memamerkan koleksi keramik yang bagian terbesarnya ialah koleksi de Flines.

Ketika sudah selesai, de Flines mengangkut barang-barangnya yang tak ternilai itu ke Betawi. Ia mendapat bantuan dari para pedagang antik yang sangat berpengalaman dalam pembungkusan.

Pekerjaan mempak selesai dalam bulan Juni 1932. Perusahaan kereta api menyediakan kereta khusus untuk mengirim keramik itu.

Setelah- ulang-alik empat kali dalam waktu tiga bulan antara Semarang-Jakarta, akhirnya semua barang sampai dengan selamat di museum.

De Flines sendiri yang tak mau berpisah dengan harta karunnya mendapat rumah tinggal kecil di  belakang museum dan diangkat sebagai kurator bagian koleksi keramik.

Hidupnya lebih sederhana lagi daripada waktu di Ungaran, dan kesibukan sehari-harinya ialah mengakrabi keramik, mulai dari jambangan utuh sampai gerabah yang dikumpulkan dari mana-mana.

Sampai sekarang koleksi pecahan porselinnya masih rapi tersimpan dalam kotak-kotak kecil yang merupakan laci-laci sebuah almari.

Pedagang-pedagang antik tetap ramai berdatangan. Pada mereka yang menawarkan barangnya ia tak pernah mengatakan bahwa barang itu jelek, hanya "barang ini kurang sesuai untuk dimasukkan dalam koleksi."

Ketika tentara Jepang menduduki Indonesia tahun 1942, menurut Mayuyama, de Flines diperbolehkan meneruskan pekerjaannya sebagai kurator di. Museum yang telah diambil alih.

Tetapi menurut sumber yang mengetahui, ia ditawan di suatu tempat yang berdekatan dengan museum, mungkin Kamp Laan Trivelli (sekarang Tanah Abang II).

Ia bebas kembali tahun 1945. Tahun 1948 ia berhasil menyelesaikan buku pemandu untuk koleksinya yang sudah lama dicita-citakan, Gids voor de keramische verzameling.

Dalam tahun 1948 itu umur de Flines sudah enam puluh, rambutnya sudah memutih, tetapi   kehidupan sehari-harinya tak berubah.

Tiap sore ia naik sepeda untuk makan malam di sebuah rumah makan kecil yang terletak di Noordwijk, sekarang Jalan Juanda.

Seleranya juga sangat sederhana, ia biasa makan masakan Jawa. Yang paling digemari ialah gado-gado.

Pada suatu sore ia mengalami kecelakaan lalulintas, sehingga ia terpaksa berhenti naik sepeda. Kedua kakinya yang terkena penyakit kaki gajah (filiriasis) makin memburuk.

Kekurangan gizi selama di kamp tawanan dan masa-masa sulit sesudah itu dan cara hidupnya yang teramat sederhana ditambah beratnya pekerjaan yang dilakukan dari pagi sampai petang makin memperburuk kesehatannya.

Sekalipun begitu ia tetap berusaha menambah koleksinya dengan tekad seorang fanatik. Kalau ia tak sanggup membayar harga yang diminta pedagang, ia menukar dengan barang yang ganda dalam koleksinya.

Dalam permulaan tahun lima puluhan itu pemuda Abu Ridho, yang baru turun gunung seusai  perjuangan bersenjata sebagai gerilya tentara pelajar untuk meneruskan studi pada Fakultas Sastra UI, bertemu dengan Orsoy de Flines.

Entah mengapa Abu memilih untuk menjadi asisten de Flines, padahal ia sama sekali awam di bidang keramik.

De Flines sendiri sangat takut dokter, tetapi ia memaksa Abu Ridho yang baru datang dari pedalaman itu untuk berobat ke dokter atas biayanya, karena dia beranggapan bahwa pemuda itu kekurangan gizi dan terlantar kesehatannya akibat perang gerilya.

Karena 'magang' dalam ilmu keramik itu memang banyak kesulitannya dan seringkali tidak menarik, maka sering Abu merasa putus asa dan berusaha beralih ke bidang lain, tetapi de Flines selalu membujuk dia dengan cerita-cerita sejarah yang menarik mengenai keramik, sehingga tiap kali Abu terpaksa membatalkan rencananya untuk pindah.

Dalam pertikaian Indonesia-Belanda tentang Irian Barat, dalam tahun 1959, orang Belanda yang masih tinggal di Indonesia dipulangkan secara paksa.

De  Flines termasuk orang-orang yang terkena pengusiran itu. Nasibnya sangat tragis. Ia tak ingin pulang ke negerinya yang telah menjadi sebuah negeri asing baginya.

Ia berkali-kali menyatakan ingin mati dan dikuburkan di bumi Indonesia. Ia bahkan telah memesan tempat di pemakaman di Purworejo.

Ia mencoba menunda-nunda keberangkatannya dengan berpura-pura sakit parah, atau menolak untuk dibuat fotonya untuk keperluan paspor.

Akhirnya ia terpaksa berangkat juga dengan air mata berlinang pada tanggal 21 Oktober 1959 dengan kapal Oranje.

Pada tanggal 17 September 1964 E.W. Orsoy de Flines, yang mewariskan koleksi tak temilai kepada kita semua dan generasi mendatang, meninggal di Negeri Belanda dalam usia 78 tahun.

Pewaris dan penerus ilmunya Abu Ridho, yang pernah menjabat kurator koleksi keramik di Museum Nasional, baru-baru ini telah menjalani masa pensiunnya.

(Bahan dari artikel Mayuyama Yasuhiko dan wawancara dengan Abu Ridho. Seperti pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Oktober 1984) 

Sumber Intisari Online: Berkat Dia Indonesia Nomor 1 di Asia Tenggara

Sumber: Grid.ID
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved