Selasa, 7 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Puasa Senin Kamis, Turunkan Berat Badan dan Manfaatnya Bagi Otak

Neuron pada otak menerima lebih banyak energi yang memungkinkan untuk menumbuhkan lebih banyak koneksi pada otak.

Editor: M Iqbal
monsitj
Ilustrasi 

TRIBUNPEKANBARU.COM -  Beberapa tahun lalu atau mungkin hingga kini, diet dengan pola 5:2 sangat terkenal dan sudah menuai banyak pujian oleh sejumlah ahli gizi dan selebritas dunia.

Konsep diet 5:2 sendiri sebenarnya sederhana, yakni membatasi asupan kalori selama dua hari dengan puasa.

Pada saat itu, konsumsi kalori dibatasi menjadi 500 untuk wanita dan 600 untuk pria.

Sisanya, boleh makan apa saja yang disuka selama satu minggu.

Kalau di Indonesia, konsep diet ini sangat mirip dengan puasa Senin Kamis.

Bagi sebagian orang, pola diet seperti ini dipercaya dapat membantu menurunkan berat badan.

Ilustrasi
Ilustrasi (Shutterstock)

Namun, ternyata beberapa orang juga berpendapat bahwa diet ini dapat membantu mengasah ketajaman mental dan otak.

Dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Society for Neurosciencepada November, para ilmuwan melaporkan bahwa puluhan tikus yang secara teratur dipaksa untuk berpuasa mengalami perubahan otak yang baik.

Neuron pada otak menerima lebih banyak energi yang memungkinkan untuk menumbuhkan lebih banyak koneksi pada otak.

Mark Mattson dari National Institute on Aging di Bethesda, Maryland, dan timnya melakukan penelitian ini terhadap 40 tikus.

Beberapa di antaranya ada yang tidak diberi makan sama sekali dalam satu hari, juga ada yang diberi makanan dengan jumlah kalori sama dengan tikus yang berpuasa.

Pengamatan pada tikus tersebut menunjukkan bahwa berpuasa dapat meningkatkan sekitar 50 persen zat kimia otak yang disebut BDNF (faktor neurotropika yang diturunkan dari otak).

Bagi manusia, BDNF terlibat dalam pembelajaran dan ingatan.

Tingkat protein dalam BDNF cenderung menurun seiring bertambahnya usia, terutama jika seseorang memiliki penyakit yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif seperti Alzheimer.

"Ini sangat masuk akal dari perspektif evolusi," kata Mark Mattson kepada Newsweek, Selasa (12/12/2017).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved