Demo Tolak Ekstradisi ke China Mereda, Kondisi Hong Kong Mulai Normal Lagi

Situasi di Hong Kong berangsur normal, setelah puluhan ribu demonstran menarik diri dari jalanan. Demo ini sudah berlangsung sejak Minggu (9/6) lalu.

Demo Tolak Ekstradisi ke China Mereda, Kondisi Hong Kong Mulai Normal Lagi
internet
Ratusan ribu warga Hong Kong menggelar aksi demonstrasi pada Minggu (9/6) lalu. Mereka menolak UU ekstradisi ke China.

tribunpekanbaru.com - Sejumlah bank yang terletak di jantung bisnis Hong Kong kembali dibuka pada Jumat (14/6), setelah tutup selama aksi protes berlangsung. HSBC dan Standard Chartered membuka kembali kantor cabang yang sebelumnya ditutup ketika aksi protes berlangsung.

Bisnis dan transportasi mulai beroperasi secara normal. Namun polisi masih tampak berjaga di pusat bisnis Hong Kong, dan beberapa demonstran masih tetap berada di dekat gedung Badan Legislatif.

Bursa saham Hong Kong tercatat turun 1,5 persen pada Kamis lalu, sebelum ditutup turun 0,1 persen untuk memperpanjang kerugian dari hari sebelumnya.

Pada Kamis (13/6) lalu, Komisaris Polisi Hong Kong, Stephen Lo, mengatakan, polisi menangkap 11 orang dan menembakkan sekitar 150 tabung gas airmata selama aksi protes berlangsung. Otoritas rumah sakit mengatakan, sebanyak 81 orang terluka dalam aksi unjuk rasa tersebut.

Selain itu, polisi juga menangkap dua mahasiswa di Univesity of Hong Kong. Kedua mahasiswa itu ditangkap setelah polisi melakukan penggerebekan di asrama mahasiswa. Namun polisi tidak memberikan tanggapan tentang tuduhan yang diarahkan untuk kedua mahasiswa tersebut.

Aksi unjuk rasa pada Jumat memang mulai tenang, namun diperkirakan gelombang protes akan kembali pada akhir pekan ini. Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengutuk keras aksi protes tersebut dan mendesak segera ada pemulihan ketertiban.

Lam mengatakan, pemerintahannya akan melanjutkan amandemen undang-undang ekstradisi yang jadi bahan protes ribuan warga Hong Kong. Perubahan ini mengizinkan pemerintah Hong Kong mengirim rakyat ke Cina daratan untuk diadili. Lam memastikan, amandemen itu akan memberi perlindungan hak asasi manusia (HAM).

Ribuan warga Hong Kong turun ke jalan sejak Minggu (9/6) lalu, memprotes rencana diberlakukannya UU esktradisi ke Cina daratan. Warga Hong Kong khawatir tersangka pelaku kejahatan akan mendapat peradilan yang tidak adil, penyiksaan, intimidasi, dan perlakuan buruk lainnya bila di adili di peradilan Cina daratan yang komunis.

Aksi ini beberapa kali bentrok dengan petugas keamanan, dan mengakibatkan kegiatan bisnis serta transportasi di Hong Kong lumpuh. (rin/rol)

Penulis: rinaldi
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved