Inspiratif! Pemulung Maryani (63) Naik Haji setelah 26 Tahun Menabung dari Hasil Jual Botol Bekas

Maryani (63) wanita Bogor yang bekerja sebagai pemulung, dapat menjadi contoh tentang kuatnya keinginan seorang hamba untuk mengunjungi Rumah Allah

TribunnewsBogor.com/Tsaniyah Faidah
Maryani (63) warga Pulo Geulis RT 2 Babakan Pasar, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat. 

Ia mengaku tak malu sama sekali dengan profesinya meski berkutat dengan sampah setiap harinya.

Bahkan anak yang kini tinggal satu rumah bersama Maryani sebetulnya sudah tak lagi mengizinkannya untuk bekerja mencari rongsok.

Namun siapa sangka, justru dari sampah plastik yang ia kumpulkan puluhan tahun di pagi buta, bisa memberangkatkannya ke Tanah Suci seorang diri.

"Buat apa malu, malah ikut bantu bersihin lingkungan. Tadinya kotor jadi bersih," tutur Maryani.

Padahal, ia bercerita, 1 kg sampah plastik hanya bernilai Rp 2.000 - Rp 4.000 saja tergantung jenis botolnya.

Apalagi harga 1 kg kardus hanya bernilai Rp 1.000 saja.

"Setiap solat saya selalu berdoa, ya Allah saya mau ke Mekkah dan ziarah ke makam Rasulullah," ucap dia.

Menyimpan Rahasia

Ibadah haji adalah kewajiban agama bagi umat Islam yang memiliki kemampuan secara fisik, mental, dan harta.

Haji wajib dilaksanakan setidaknya sekali seumur hidup.

Ibadah yang merupakan "pilar" kelima dari agama Islam ini, dimaksudkan untuk menunjukkan solidaritas di antara umat Islam dan kepatuhan mereka kepada Allah.

Karena kalender Islam didasarkan pada siklus bulan, tanggal haji berubah setiap tahun bagi negara yang merujuk kepada kalender Masehi.

Maryani mengatakan keinginannya untuk pergi haji semakin kuat setelah suaminya meninggal pada 1980-an dan dia telah menabung sejak tahun 1993.

Namun, pada saat itu dia tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang untuk naik haji karena dia dibesarkan dengan empat anak untuk dibesarkan.

"Jadi, saya mulai mengumpulkan botol bekas," kata Maryani seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Sejak itu, ia bekerja sebagai pemulung pada waktu fajar, hingga panggilan untuk sholat pukul 5 pagi setiap pagi.

Wanita 64 tahun itu mengumpulkan jung-jung seperti gelas plastik bekas, botol dan kardus yang bisa dijual.

"Setelah hujan lebat, saya juga mengumpulkan pasir untuk dijual," tambahnya.

Ketika ia tinggal di sekitar tepi Sungai Ciliwung, sungai utama yang mengalir melalui Jakarta, ia sering menggali dan menimbun pasir dari sungai dan menjual tiang pancang sebagai bahan bangunan. Dia bisa mengumpulkan setidaknya lima karung pasir sehari dan menjualnya seharga 8.000 rupiah ($ 0,56) per karung.

Pada 2012, setelah kerja kerasnya selama hampir dua dekade, tabungan Maryani mencapai 25 juta rupiah ($ 1.750), pembayaran minimum pertama yang diperlukan untuk mendaftar haji di Indonesia pada waktu itu.

Sejak itu, ia telah bekerja keras mengumpulkan sampah dan pasir untuk melunasi sisa biaya 10 juta rupiah ($ 699,82).

Dia menyimpan rahasia tabungan haji dari keluarga dan kerabatnya selama bertahun-tahun.

Bahkan anak-anaknya tidak tahu bahwa selama ini ibu mereka mengumpulkan sampah dan pasir untuk membayar biaya ziarah.

Maryani hanya memberi tahu anak-anaknya pada April tahun ini, setelah menerima berita tentang jadwal keberangkatannya dari Kementerian Agama.

Para tetangga yang akhirnya mendengar tentang rencana Maryani ingin tahu mengapa anak-anaknya membiarkan Maryani mencari selama bertahun-tahun untuk pergi haji.

"Bagaimana saya bisa membantu ibu saya, saya juga tidak tahu dia mengumpulkan uang untuk pergi berziarah," kata salah satu anaknya, Dany Mulyana yang bekerja sebagai petugas parkir.

Maryani mengakui bahwa 26 tahun adalah periode yang sangat lama, tetapi dia mengatakan dia tidak pernah khawatir kapan dia akan bisa pergi ke tanah suci.

"Yang paling penting adalah saya menabung. Saya tidak pernah menyerah, selalu penuh semangat dan tidak pernah merasa lelah," tambahnya.

Maryani tidak menjual barang-barang yang dia kumpulkan segera tetapi menjualnya setelah menumpuknya selama setahun.

"Setelah terjual, saya akan mendapatkan sekitar 1,2 juta rupiah ($ 84) per tahun. Saya akan menghemat satu juta ($ 70) dan menghabiskan sisanya," katanya.

Sedangkan untuk pengeluaran sehari-hari, Maryani didukung oleh anak-anaknya, yang sebagian besar sudah menikah dan hidup terpisah.(*)

Inspiratif! Pemulung Maryani (63) Naik Haji setelah 26 Tahun Menabung dari Hasil Jual Botol Bekas

Editor: Firmauli Sihaloho
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved