Siak

STORY - Syaiful Bahri, Lulusan UIN Suska Riau yang Gemar Bertani Hingga Belajar ke Jepang

Di saat generasi muda dilanda kebiasaan gamers dan gadget, Syaiful Yazan malah memanfaatkan waktunya untuk bertani dan beternak.

STORY - Syaiful Bahri, Lulusan UIN Suska Riau yang Gemar Bertani Hingga Belajar ke Jepang
Istimewa
Syaiful Bahri, petani muda yang sukses di Kampung Sungai Tengah, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak. 

"Kegiatannya direncanakan lebih ke tanaman Hortikultura. Potensi dari tanaman Hortikultura sangat besar untuk dikembangkan," kata dia.

Baca: Emen, Remaja Tertinggi di Indonesia Sambangi Asrama Atlet, Ingin Masuk PPLP Dispora Riau

Baca: Polwan Cantik Satlantas Polresta Pekanbaru Berbaris, Ajak Masyarakat Tertib Berlalu Lintas

Ia menguraikan, saat ini pasokan sayuran di Siak masih banyak dikirim dari luar daerah. Padahal seharusnya petani lokal mampu memenuhi permintaan lokal. Hal itu menjadi motivasi bagi Syaiful untuk bergerak dan bergiat pada jenis tanaman Hortikultura.

"Keinginan saya sederhana, hanya ingin meningkatkan minat generasi muda untuk terjun di dunia pertanian," kata dia.

Sementara bagi dia secara pribadi sudah merasakan keuntungannya.
Dari kegitan bertani itu pulalah yang mengantarkannya mengikuti seleksi program dari kementerian Pertanian dalam peningkatan SDM pertanian young farmer leader in Japan.

"Alhamdulillah saya lulus seleksi program dan magang di Jepang selama kurang lebih 28 bulan," kata dia.

Syaiful menceritakan pengalamannya selama berada di negeri Sakura itu. Ia banyak belajar dari petani di sana . Menurutnya petani di Jepang itu memiliki disiplin dan wawasan pertanian serta mekanisasi pertanian yang memudahkan mereka dalam kegiatan bertani. Setiap tahun di Jepang selalu diciptakan prototype untuk pengembangan teknologi pertanian sehingga memudahkan untuk membudidaya dan pengolahan hasil pertanian.

"Sangat berbeda sekali dengan petani di Indonesia. Petani di Indonesia belum membuat rencana kegitan pertanian mereka secara terjadwal. Dari segi wawasan, petani di Indonesia rata rata adalah petani turunan yang keinginan untuk belajar pertanian masih minim," kata dia.

Bersama kawan-kawannya ia akan membenahi kualitas SDM dan mengubah pola pikir masyarakat. Masyarakat selaku petani menjadi konsumen sendiri dan bukan menjadi produsen sayuran.

"Pelan-pelan kami ingin mengubah hal tersebut," kata dia.

Kendala Pertanian di Kecamatan Sabak Auh, khususnya di kampung Sungai Tengah, apabila terjadi kemarau panjang mengakibatkan gagal panen. Selama ini para petani berinisiatif sendiri mengairi sawah dan tanamannya pada malam hari.

Halaman
123
Penulis: Mayonal Putra
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved