Berita Riau

MFA Dikenal Pendiam dan Baik, Siswa SMP di Riau Diduga Jadi Korban Bully Dua Teman Sekelasnya

MFA dikenal pendiam dan baik, siswa SMP di Riau diduga jadi korban bully dua teman sekelasnya hingga hidungnya berdarah dan dirawat di rumah sakit

MFA Dikenal Pendiam dan Baik, Siswa SMP di Riau Diduga Jadi Korban Bully Dua Teman Sekelasnya
Tribun Pekanbaru/Ilustrasi/Nolpitos Hendri
MFA Dikenal Pendiam dan Baik, Siswa SMP di Riau Diduga Jadi Korban Bully Dua Teman Sekelasnya 

"Sudah ditangani pihak Polresta Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Biarkanlah mereka bekerja. Kita tunggu aja perkembangan kasusnya," ungkap Lala saat dikonfirmasi Tribun.

Saat ditanyai tentang kondisi anaknya saat ini, Lala enggan menyebutkan lebih jauh.

Lala juga sempat memposting kekesalannya, soal peristiwa yang dialami anaknya di akun Facebook pribadinya.

Namun belakangan postingan tersebut sudah dihapus.

Terpisah, Humas Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, R Sarmida menerangkan, korban saat ini sedang menjalani perawatan di salah satu ruangan di rumah sakit tersebut.

"Kami membenarkan jika ada anak yang sedang dirawat sejak tanggal 5 (November). Kondisinya sekarang ini membaik," paparnya.

Disinggung soal bagaimana kondisi korban secara medis, Sarmida mengaku tidak bisa menjelaskan.

"Itu saja yang bisa kami sampaikan, karena kami belum mendapat izin dari keluarga untuk memberikan informasi medis yang terkait dengan hal-hal itu. Nanti jika ada informasi terbaru, akan kami sampaikan lagi," urainya.

"Korban masuk sekitar pukul 20.00 WIB, dirawat di ruang perawatan bedah," pungkasnya.

Sempat VIRAL di Medsos Siswa SMP di Pekanbaru Dibully hingga Masuk Rumah Sakit

Sempat viral siswa SMP di Riau yakni di sebuah SMP di Pekanbaru dibully hingga masuk rumah sakit dan pelaku dilaporkan ke polisi, ini kata Kadisdik Pekanbaru Abdul Jamal.

Korban masuk rumah sakit karena harus menjalani perawatan, karena hidung korban patah akibat dibully dan mengalami kekerasan fisik dari temannya.

Kasus bully di siswa SMP di Pekanbaru sebelumnya juga pernah terjadi, bahkan pada kasus bully sebelumnya korbannya adalah siswi SMP kelas VII.

Mirisnya lagi, pada kasus bully di sekolah pertama itu, siswi SMP tersebut mengalami kekerasan seksual dan pelecehan seksual dari teman laki-lakinya, dan membuat korban depresi dan dirawat di rumah sakit.

Silahkan baca juga berita Riau hari ini >>>

 JADWAL Bono Surfing 2019 di Riau Pelaksanaannya Mulai 11 November Dimeriahkan Pesilancar Mancanegara

 KISAH Empat Veteran Riau, Berjuang Bersama Yos Sudarso dalam Operasi Trikora dan Ganyang Malaysia

 STORY - KISAH Cewek Cantik Bak Artis Korea, Siswi SMA Asal Riau Raih Prestasi di Bidang Tari Tradisi

 Hiroshima Hancur oleh BOM Riau Hancur oleh Bon, Mahasiswa TOLAK Rencana Gubri NGUTANG Rp 4.4 Triliun

 Pakai Perusahaan Adik Ipar, Ketua DPC Gerindra di Riau Berutang Hampir Rp 3 Miliar ke Toko Bangunan

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Abdul Jamal hanya menyayangkan dugaan perundungan tersebut.

Mereka belum memastikan sanksi tegas bagi oknum pelaku perundungan.

"Kita dari dinas pendidikan menyayangkan akan hal tersebut," ujarnya kepada Tribun, Jum'at (8/11/2019).

Menurutnya, para guru di sekolah tidak pernah mengjarkan kekerasan kepada sesama siswa.

Mereka juga tidak pernah mengajarkan kekerasan antara guru dengan siswa maupun siswa dengan guru.

Jamal menilai perlu pendidikan karakter dan program sekolah yang ramah anak.

Ia menyebut harus ada program sekolah sahabat keluarga.

"Seluruh program ini untuk membentuk prilaku siswa yang baik. Nantinya terjadi komunikasi yang harmonis antara siswa dengan sekolah dan orangtua," ujarnya.

Jamal menyebut bahwa kerjasama dengan instansi lain.

Ia bakal meningkatkan untuk memberi pembelajaran prilaku yang baik.

Kemudian materi antri kekerasan dan hoaks.

"Kami siap kerjasama dengan kepolisian, komisi perlindungan anak serta dinas pemberdayaan dan perlindungan anak," jelasnya.

Seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) diduga menjadi korban bullying atau perundungan di Pekanbaru, Riau.

Silahkan baca juga berita Riau hari ini >>>

 1.332 Pengendara Terjaring Operasi Zebra 2019 di Pelalawan, 18.725 Pengendara di Riau Ditilang

 Bawaslu Bengkalis Ingatkan Partai Politik Jangan Bermain Uang dalam Penjaringan Balon Kepala Daerah

 Rekrutmen 36 Panwascam untuk Pilkada Riau 2020, Ini Penjelasan Bawaslu Pelalawan tentang Tahapannya

Kasus bullying siswa SMP itu diposting akun Facebook Rani Chambas, Kamis (7/11/2019) jam 10.31 WIB.

Dalam unggahan itu disebutkan kejadian itu terjadi pada Selasa 5 November 2019.

Akibat tindakan bullying itu, hidung bocah itu sampai patah dan harus menjalani operasi.

Saat kejadian juga dituliskan jika di dalam kelas itu masih ada guru.

Berikut isi postingannya.

Kasus Bullying terjadi lagi...siswa kls 8 smp.. Di keroyok di dlm kelas..sementara bu guru nya ada di dlm kelas...

murid nya berantam guru nya sibuk main hp...sampai patah tulang hidung si anak...dan di operasi ..

kejadiannya hari selasa tgl 5 november jam sekolah.....

lokasi nya Smp negeri di Hangtuah pekanbaru Dan org tua mana yg terima anak nya babak belur di dlm kelas????

Coba jika anak sendiri yg di gitukan org??? Karna tdk ada jalan keluar.. Akhirnya pihak keluarga melaporkan kasus ini ke polisi..

Semogaa...tidak ada lagi kejadian2 begini di sekolah. #mirisaja.. Korban ponakan si opa pula Anak kk nya Lala Ila Mila....

Coba jika korbannya anak2 ibu2 atau bpk2..apa diam aja kita?

Postingan itu disertai dua buah foto korban yang sedang dirawat di rumah sakit di Pekanbaru. Pada wajah korban tampak diperban.

Postingan Rani Chambas yang dilihat Kompas.com, Jumat (8/11/2019) pagi, mendapat 473 like dan 214 komentar.

Beragam komentar miris warganet melihat kejadian ini.

"Itu gurunya ko bisa gk perduli oma..keterlaluan jg kl sampe gk tau ad ank berantem ddepan matanya," tulis komentar Ummu Nisa.

"Semoga cepat sembuh ananda. Mba Rani Chambas, sebaiknya diuraikan juga kronologis kejadiannya. Apakah ini telah sering dilakukan shg bisa disebut bullying, atau ini berantem/ keroyokan yg tjd saat hari itu saja," tulis komentar Watri Juwita.

Komentar akun Watri Juwita, dikomentari pula oleh akun Lala Ila Mila, yang disebut ibu korban, yang berprofesi seorang dokter.

Berikut ini isi komentar Lala Ila Mila.

"Kelender pendidikan sudah 5 bulan berjalan,selama itulah anak saya di buli,di tinju,di pukul,di kompas,dia tidak pernah mengadu kpd guru dan orang tuanya,krn anak saya pendiam dan anak yang baik,dia diancam,orang yg membuly nya bergantian,temannya bernama M (inisial), dari keluarga tidak mampu paling sering menyakiti anak saya,anak itu lebih besar dari anak saya,

umurnya 2 tahun lebih tua dari anak saya,dia memang terkenal anak bandel,gurunya udah pada angkat tangan lihat perangai anak ini, anak ini duduk di depan krn bandelnya, meski badannya besar, sementara anak saya duduk di belakang walaupun badannya kecil.

semua temannya mengerjakan tugas yg di berikan guru, begitu juga anak saya, tiba2 dia dtg dan meninju anak saya,lalu dia bertanya sakit? dgn polosnya anak saya jawab tidak,lalu dia suruh temannya utk mukul anak saya,tp temannya mukul kepala anak saya pakai kayu,anak saya hanya bisa menahan sakit di kepalanya dan M pun menghantukkan kpl anak saya shg hidungnya patah,

anak saya menjerit kesakitan,guru yg mengasih pelajaran itu seolah2 tidak mendengar,setelah temannya ribut melihat hidung anak saya gurunyapun ga ada respon,malah dia diancam,jika di tanya bilang jatuh,jgn bilang di pukuli,jadi siapapun yg bertanya dia tetap bilang jatuh,

setelah di bujuk tantenya,baru dia mengaku,selama ini dia amat tersiksa di buat temannya,h

ati seorang ibu yg mana tdk menangis,saya juga salah,mengajar anak terlalu baik,jangan melawan terutama kpd guru,

mulai sekarang saya ajarin anak saya,jika kamu di pukul balas pukul soal nanti itu urusan nanti.

Anak saya pernah di buli 2 orang, sd dan smp.apa sih salah saya?,sehingga anak saya jadi bulian teman,apa harus saya ajarin anak saya se ganas harimau?."

Kasus ini sudah dilaporkan ke Polresta Pekanbaru.

Kasubag Humas Polresta Pekanbaru Ipda Budhia Adiandha saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat, membenarkan adanya laporan kasus tersebut.

"Betul, ada laporannya. Sekarang dalam penyelidikan di Satreskrim Pekanbaru," kata Budhia melalui pesan WhatsApp.

Namun, dia mengaku belum mendapat data lengkap mengenai kronologi kejadian perundungan tersebut.

"Datanya ada sama Unit PPA (Pelindungan Perempuan dan Anak). Kanit (PPA) sedang rapat, nanti saya infokan," tutup Budhia.

Dibully dan Area Sensitifnya Dipegang, SISWI SMP di Pekanbaru Riau Depresi

Kasus bully di sekolah sebelumnya juga pernah terjadi, seorang siswi SMP di Pekanbaru Riau diduga alami bully dan pelecehan seksual oleh temannya, area sensitifnya dipegang, Sekdako Pekanbaru mengingatkan, jangan terulang lagi.

Seorang siswi kelas VII SMP Negeri 39 Pekanbaru berinisial LP (12) diduga menjadi korban bullying oleh temannya satu kelas di SMP Negeri Pekanbaru, akibat bully dan pelecehan seksual itu, kini remaja 12 tahun itu mengalami depresi dan jatuh sakit.

Baca: Tujuh TERDAKWA di Pengadilan Negeri Pelalawan Riau KABUR, Terlibat Kasus Narkoba dan Pencurian

Baca: Pencuri Besi TOWER SUTET di Kampar Riau Ditangkap Polisi Ketika Sedang Beraksi Memotong Besi

Baca: YOUTUBER Terkaya Indonesia Ria Ricis ke Pekanbaru, 3.000 Mahasiswa Ramaikan BUMN Goes to Campus

Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Pekanbaru, Muhammad Noer MBS mengaku prihatin dengan kejadian yang menimpa seorang siswi SMP Negeri 39 Pekanbaru.

Remaja 12 tahun diduga menjadi korban bullying dan pelecehan seksual oleh sejumlah rekannya di sekolah itu.

Kejadian ini lantas menjadi bahan bully atau perundungan terhadap siswi tersebut.

"Saya belum dapat informasi. Tapi kami prihatin mendengar kabar ini," terangnya kepada Tribunpekanbaru.com pada Selasa (19/3/2019).

Menurutnya, para siswa mestinya menjalani proses belajar mengajar di sekolah.

Mereka harusnya mendapat perlindungan dari guru.

Ia tidak ingin hal serupa terjadi lagi menimpa siswi lainnya.

"Kami tegaskan pihak sekolah harus melindungi siswi yang jadi korban. Mereka harus dapat perlindungan, bukannya jadi korban perundungan," jelasnya.

M Noer menegaskan agar pihak Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru mesti menangani masalah ini.

Korban harus mendapat perhatian khusus, agar tidak mengalami trauma.

Ia juga ingatkan pihak sekolah melakuan tindakan preventif, agar kejadian serupa tidak terulang.

Para siswa juga mesti dalam pengawasan orangtua dan guru.

Baca: SISWI SMP di Pekanbaru Riau Alami BULLY dan Pelecehan Seksual oleh Temannya, Area Sensitif Dipegang

Baca: SISWI SMP di Pekanbaru Riau Alami BULLY dan Pelecehan Seksual, P2TP2A Minta Keluarga Melapor

Baca: MAHASISWI Cantik Berdarah MINANG Merantau di Pekanbaru, Ini Kisahnya hingga Sampai ke Singapura

Ia berharap kejadian ini adalah terakhir kalinya.

"Jadi saya tegaskan, kepala dinas harus segera menanganinya. Korban jangan sampai terpojok," ulasnya.

Seorang siswi kelas VII SMP Negeri 39 Pekanbaru berinisial LP (12) diduga menjadi korban bullying oleh teman-temannya satu kelas di sekolahnya.

Selain dibully, LP juga diduga beberapa kali menerima perlakuan tak pantas dari teman lelakinya.

Pengakuannya kepada pihak keluarga, area sensitifnya dipegang.

Akibatnya, korban mengalami depresi hingga jatuh sakit.

Dia pun tak datang bersekolah.

Disampaikan abang korban, Hendro, Senin (18/3/2019), dia menerima kabar dari teman sekolahnya, bahwa adiknya menjadi korban pelecehan di sekolah.

"Sekitar dua hari lalu saya dikabarin sama temannya, kalau di sekolah adik saya mendapat pelecehan seksual dan dibully. Ini sudah yang kedua kalinya ya, jadi dadanya itu dipegang-pegang sama temannya di sana," kata Hendro.

Lebih jauh kata Hendro, korban akhirnya syok.

Dia tak mau makan sampai akhirnya jatuh sakit.

"Sekarang dia juga lagi sakit, sempat kita cek ke rumah sakit tensinya itu seratus per seratus lima puluh, hari ini dia tidak masuk sekolah," beber abang kandung korban lagi.

Baca: JAWABAN Ustadz Abdul Somad atas Pertanyaan Jamaah tentang IBU, Buatkan Istana dan Gendong Pergi Haji

Baca: FOTO Ustadz Abdul Somad dan Ibunda Diunggah di Akun Instagram @ustadzabdulsomad, Netizen MENANGIS

Baca: KISAH Cewek Cantik Berdarah MINANG Merantau di Pekanbaru, Kampanye Kebersihan dan DUTA Kampung Iklim

Terkait hal ini dipaparkan Hendro, pihak keluarga sudah mendatangi pihak sekolah dan meminta agar segera diselesaikan permasalahannya.

Dia ingin agar pihak sekolah lebih memperhatikan tingkah laku siswa-siswi di sekolah.

"Tadi kami sudah menghubungi pihak sekolah, kita lihat sampai mana tindak lanjut penyelesaian dari pihak sekolah. Tapi kalau tidak bisa selesai secara kekeluargaan terpaksa harus kami laporkan kepada yang berwajib," tegasnya.

P2TP2A Pekanbaru Minta Keluarga Melapor

Seorang siswi SMP di Pekanbaru Riau berinisial LP mengalami bully dan pelecehan seksual, P2TP2A Pekanbaru minta keluarga melapor.

P2TP2A Pekanbaru bisa membantu pemulihan trauma psikologi yang korban alami ketika sudah melapor.

Konselor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Pekanbaru Herlia Santi meminta pihak keluarga LP (12) siswi korban pelecehan seksual dan bully di salah satu sekolah di Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru segera melapor ke P2TP2A Pekanbaru.

"Segera laporkan ke kami, kami akan bantu pulihkan trauma psikologi korban tersebut," ujar Herlia Santi kepada Tribunpekanbaru.com pada Senin (18/3/2019).

Herlia mengatakan, bully dan pelecehan yang dialami oleh LP dipastikan menimbulkan trauma yang mendalam.

Trauma tersebut, kata Herlia, akan menyebabkan korban tidak ingin sekolah, mengurung diri dalam kamar, bahkan bisa mengalami depresi berat.

"Setelah kami mengumpulkan data dari korban, kami juga akan memanggil pihak sekolah untuk mengetahui seperti apa peran sekolah terhadap kasus tersebut," ujar Herlia Santi.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Muzailis sangat menyayangkan adanya informasi pelecehan seksual, bully dan ancaman yang terjadi di kawasan sekolah.

Ia berjanji akan segera memanggil Kepala SMP Negeri 39 Pekanbaru.

Baca: KISAH Cewek Cantik Asal Pekanbaru Peduli Kebersihan dan Lingkungan, Terpilih Jadi DUTA ASRI

Baca: KISAH Cewek Cantik Asal Riau Jadi Duta Ekonomi Syariah, Cerita Soal Bank Konvensional dan Syariah

Baca: CEWEK CANTIK Pekanbaru Kampanye Stop Bullying pada Anak, Miris Melihat Kasus Bullying di Sekolah

Apalagi informasinya, LP mendapat ancaman dan perkataan yang kurang etis dari pihak sekolah.

"Kepseknya akan kami panggil untuk mengetahui permasalahan yang sesungguhnya, apakah benar ada intimidasi atau ancaman dari pihak sekolah," ujar Muzailis.

Muzailis juga menyarankan agar orangtua LP segera melaporkan dugaan pelecehan seksual dan bully yang dialami anaknya ke pihak kepolisian.

Sebab, masalah bully dan pelecehan seksual tersebut sudah masuk ke ranah hukum pidana.

"Baiknya laporkan ke pihak kepolisian saja, sebab itu sudah masuk dalam ranah hukum," ujarnya.

Sementara itu, Nawari, S.Pd bagian kesiswaan SMP Negeri 39 Pekanbaru menyatakan, pihak sekolah memang sudah melakukan pertemuan dengan keluarga korban.

"Sudah mendiskusikan apa sebenarnya yang terjadi. Alhamdulillah, ada titik temunya. Kami juga baru tahu, pas orangtua korban datang. Maka akan kami selesaikan segera," ujar Nawari.

Disebutkan Nawari, korban diketahui belum pernah melapor terkait dugaan pelecehan dan bullying yang dialaminya kepada sekolah.

Padahal, katanya, pihak sekolah selalu mengimbau kepada siswa, sekecil apa pun jika dibully, maka diharapkan melapor.

"Korban belum pernah melapor ke guru dan wali kelas, hanya ke orangtua. Kami juga akan mencari tahu penyebab dia dibully, dan akan kami jajaki lagi, apa sebenarnya yang terjadi," ungkap dia.

"Apakah memang hanya bergurau dan berlanjut, karena dia tidak pernah melapor. Kalau dia melapor tidak mungkin kami biarkan," imbuhnya lagi.

Sementara itu, seorang cewek cantik Pekanbaru kampanye Stop Bullying pada anak, dan ia miris melihat kasus bullying di sekolah, serta ia pernah terpilih jadi Duta Remaja Riau 2017.

Bullying dalam Bahasa Indonesia adalah penindasan atau perundungan atau perisakan, yang artinya penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain.

Perilaku bullying ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik dan berakibat tekanan mental terhadap korban bullying.

Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan.

Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber.

Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Nah, kisha cewek cantik bernama lengkap Tabitha Naeema Christy ini bermula ketika ia miris melihat kasus bullying yang terjadi di sekolah-sekolah atau lingkungan di Pekanbaru.

Gadis cantik berusia 18 tahun ini sering mengkampanyekan stop bullying kepada anak-anak, remaja, dan orang dewasa.

Sosialisasi dan penyuluhan terkait persoalan perilaku remaja dan pendidikan selalu dilakukan Bitha, demikian ia akrab dipanggil, sejak terpilih menjadi Duat Remaja Riau tahun 2017 silam.

Bitha dinobatkan sebagai Duta Remaja dalam ajang pemilihan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan (Disdik) Riau.

Ia berkonsentrasi pada pendidikan dan karakter para remaja di Riau, khususnya di sekolah-sekolah dan lingkungan.

"Kasus bullying sebenarnya selalu ada bahkan tanpa kita sadari terkadang keluar dari mulut kita atau orang terdekat kita. Bullying pada remaja lagi marak-maraknya apalagi ketika mencari jati diri," terang calon mahasiswa Psikolog di salah satu universitas di Bandung ini.

Menurut Bitha, kasus bullying terjadi ketika seorang anak melihat dirinya juga teman di sekelilingnya untuk membawa pengaruh pada kepribadiannya.

Mulai membandingkan teman yang satu ke teman yang lain termasuk ke diri sendiri dan demikian terus terjadi.

Bullying bisa merusak self confidence pada diri remaja yang terkena bullying.

Disinilah peran orangtua, pemerintah, dan dibantu organisasi terkait untuk masuk ke remaja-remaja melalui pendidikan karakter.

Walau masih banyak yang menganggap sepele dan tidak peduli, tapi harus tetap berusaha memberi asupan positif pada diri korban bullying.

Sebab, bullying tidak sama dengan occasional conflict.

Setiap anak memiliki hak untuk diperlakukan dan dihargai secara pantas dan wajar.

Bullying sangat memiliki dampak yang negatif bagi perkembangan karakter anak apalagi remaja yg sedang mencari jati dirinya.

"Saya dan rekan-rekan dan organisasi lain membuar kegiatan seperti konseling, trauma healing, dan lain-lain. Bekerjasama juga dengan lembaga perlindungan anak," tandasnya.

Secara pribadi, cewek cantik kelahiran Siak 27 Maret tahun 2000 ini lebih mengayomi dan menjadi sahabat bagi semua teman remajanya sejak mengemban Duta Remaja, termasuk melalui Media Sosial (Medsos).

Apalagi kurikulum di sekolah saat ini lebih menguatkan pendidikan karakter sejak dini.

Saat ini remaja di Riau banyak yang kurang percaya pada dirinya sendiri dan kurang sadar untuk semangat melanjutkan pendidikan ke yg lebib tinggi.

Ia berharap setiap anak bisa menjadi dampak positif dan tidak harus menjadi seorang duta atau orang terpandang untuk bisa berbagi, peduli, dan sharing kepada orang-orang di sekitarnya.

Ketertarikan anak pertama dari empat bersaudara ini terhadap duta Remaja berawal ketika Disdik Riau mencari Duta Remaja ke sekolah-sekolah.

Untuk mengembangkan pariwisata berbasis pendidikan juga ekonomi kreatif.

Bitha beberapa rekannya dari sma 9 mewakili sekolah untuk seleksi bersama perwakilan daerah lainnya.

Tahapan mulai seleksi berkas, test minat bakat, wawancara ia jalani dengan mulus.

Selama masa karantina ia mendapatkan bekal pengetahuan yang banyak.

Akhirnya, ia dinobatkan pada malam final pemilihan Duta Remaja.

DIBULLY dan Alami Pelecehan Seksual oleh Teman Laki-laki, Area Sensitifnya Dipegang, SISWI SMP di Pekanbaru Riau Depresi.

33 ANAK di Riau Alami Kekerasan Seksual, Pelecehan Seksual dan Bullying

Sebanyak 33 anak di Riau alami kekerasan seksual, pelecehan seksual dan bullying, ini mengandung aspek sosial dan psikologi, saatnya Riau punya KPAID.

Tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak di Provinsi Riau sampai saat ini, Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Muhammadiyah Riau, Dr Elviandri S HI M Hum menilai, sudah selayaknya Riau memiliki Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID).

Dikatakan Elviandri, ia sempat kaget mengetahui data tingginya angka kekerasan tersebut hingga Juni 2019, yang jumlah korban mencapai 33 anak.

Baca: SELEBGRAM Cantik Asal ACEH Ini Mau Dipoligami, Tapi Ada Jikanya, Poligami Segera Legal di Aceh

Baca: SUHU UDARA Siang Hari di Madinah Capai 41 Derajat Celcius, Satu Orang JCH Asal Riau Dirawat di KKIH

Baca: JAKSA Kejati Riau Lanjutkan KASUS Dugaan KORUPSI Dana Hibah Penelitian di UIR, Panggil Direktur CV G

Walaupun ada peran orangtua, guru dan juga masyarakat, namun menurutnya secara khusus tetap harus ada pendampingan dari KPAID.

"Saya kaget saat baca Tribun Pekanbaru tadi, ternyata jumlah korban kekerasan seksual di Riau bukannya berkurang, tapi malah bertambah. Riau saat ini sangat membutuhkan KPAID, karena selain tanggungjawab orangtua, guru dan masyarakat, anak juga butuh pendampingan khusus dari KPAID," kata Elviandri kepada Tribun, Rabu (10/7).

Dikatakan Elviandri, dulunya memang pernah dibentuk KPAID Provinsi Riau, namun sudah lama vakum.

Menurutnya perlu diaktifkan kembali, sekaligus pembentukan komisi di tingkat kabupaten/kota.

"Keberadaan komisi ini adalah memberikan edukasi masyarakat, advokasi, dan juga menangani. Ketika ada orangtua anaknya dibulli di sekolah, maka komisi ini yang akam membantu," ujarnya.

33 ANAK di Riau Alami Kekerasan Seksual, Pelecehan Seksual dan Bullying, Saatnya Riau Punya KPAID
33 ANAK di Riau Alami Kekerasan Seksual, Pelecehan Seksual dan Bullying, Saatnya Riau Punya KPAID (Kolase Internet)

Elviandri juga menjelaskan, persoalan pelecehan seksual dan bullying, itu bukan saja tindak pidana, namun juga ada aspek sosial, psikologi dan juga traumatik terhadap korban.

Baca: TERDAKWA Bandar Narkoba Pemilik 98 Kilogram Sabu-sabu di Pekanbaru Riau Dituntut HUKUMAN MATI JPU

Baca: DUDA di Pelalawan Riau Jadi KORBAN Sodomi di PENJARA hingga Menyukai Sesama Jenis dan Tega Membunuh

Baca: Lima Putra Putri Inhu Terpilih Jadi Pasukan Pengibar Bendera Tingkat Provinsi Riau dan Nasional

"Masalah pelecehan seksual dan bullying, bukan hanya persoalan pidana. Kalau pidana tinggal ditangkap selesai, tapi bagaimana dengan korban? Di sini juga ada masalah sosial, psikologi dan traumatik, yang mempengaruhi masa depannya. Sering kali terjadi, korban kalau tidak ada pendampingan, maka ia akan dendam, dan akan melakukan hal sama dengan yang ia rasakan," ujarnya.

Dia menambahkan, hal tersebut juga telah mulai ia sampaikan kepada gubernur, dan ia berharap agar gubernur segara menanggapi dan menindaklanjuti hal itu.

"Saya dan kawan-kawan mendorong gubernur Riau agar menyikapi hal inj. Dengan APBD Riau yang cukup besar tak ada salahnya.kita punya komisi perlindungan anak tersebut, sehingga bisa dianggarkan. Pemilihannya melalui DPRD. Karena prosesnya memang mirip dengan KPID dan KI. Kajian sudah saya berikan kepada orang dekat gubernur. Gubernur cukup tertarik, mudah-mudahan segera ditindaklanjuti. Bagi saya sebagai orangtua, keinginan ini semata-mata karena ingin menyuarakan agar anak-anak di Provinsi Riau terlindungi, tidak ada lain hal," tuturnya.

Di menambahkan, daerah lain juga sudah cukup banyak yang memiliki KPAID dan cukup aktif.

"Di daerah lain sudah cukup banyak yang punya komisi perlindungan anak, sehingga mereka bisa cepat merespon dan menangani kasus dengan tepat. Kita berharap di Riau juga segera terealisasi," pungkasnya.

Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda - MFA Dikenal Pendiam dan Baik, Siswa SMP di Riau Diduga Jadi Korban Bully Dua Teman Sekelasnya hingga Hidungnya Berdarah

Penulis: Rizky Armanda
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved