Pekanbaru

Siswa SMP di Pekanbaru Jadi Korban Bully, Kak Seto: Kami Sesalkan Pembiaran Pihak Sekolah

Pria yang akrab disapa Kak Seto ini tiba di kediaman korban di daerah Kelurahan Bambu Kuning, Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru

Penulis: Rizky Armanda | Editor: Ariestia
Tribun Pekanbaru/Rizky Armanda
Kak Seto saat berbincang langsung dengan MFA, siswa SMPN 38 Pekanbaru yang jadi korban bully dan penganiayaan teman sekelas, Selasa (12/11/2019). 

Karena setelah kasus ini viral, baru pihak sekolah menunjukkan itikad baik dan perhatiannya.

"Kalau seandainya ini tidak viral, mungkin mereka tidak ada itikad baiknya untuk melihat anak saya," kata Lala.

Parahnya lagi dipaparkan Lala, pihak sekolah juga seperti berupaya menyembunyikan kejahatan yang dialami anaknya.

"Dibilangnya anak itu (pelaku) anak yang keterbelakangan mental. Itu saya dengar dari berita-berita lain ya. Saya lihat komentar-komentar. Saya emosi sebenarnya," ungkapnya.

"Ya kenapa diterima kalau itu. Toh anak itu sudah pernah jadi ketua kelas. Saya kecewanya sih terjadi pembiaran terhadap anak saya," sambung dia lagi.

Sementara itu, Seto Mulyadi menuturkan, dirinya menyesalkan peristiwa seperti ini bisa terjadi.

"Yang kami sesalkan adalah sikap dari pihak sekolah. Pertama adanya pembiaran terjadinya bullying ini. Karena menurut korban bukan sekali, sudah berkali-kali," tuturnya.

Saat peristiwa nahas terjadi, di dalam kelas pun padahal ada guru yang sedang mengajar.

Namun nyatanya, sang guru tidak secara maksimal mengawasi prilaku anak ketika di dalam kelas.

"Ya itulah yang sangat kami sesalkan. Sebagai pendidik, bukan hanya mengajar. Tapi mendidik. Jadi harus memberi contoh keteladanan. Kalau ada kekerasan, segera bertindak cepat," lanjut Kak Seto.

Lebih jauh kata Kak Seto, pihak sekolah seolah-olah menutup-nutupi kejadian ini dan takut nama sekolah bisa tercemar.

"Ini mohon tidak dijadikan cara untuk menjaga nama baik sekolah, tetapi sebetulnya sudah melakukan berbagai pelanggaran perlindungan anak," urainya.

Saking terlalu seringnya dibully dan menerima tindak kekerasan, diungkapkan Kak Seto, korban MFA sampai mengeluh ingin pindah.

"Sudah merasa tidak nyaman. Berarti sekolah membiarkan adanya bullying," tegasnya.

Kedua dipaparkan Kak Seto, setelah peristiwa terjadi pun, sebelum jadi viral, pihak sekolah menurut keluarga korban juga masih tidak ada kepedulian.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved