Fenomena Punya Anak Tanpa Suami di Cina: Berburu Pria Kulit Putih untuk Donor Sperma

mereka memilih untuk berburu di luar negeri untuk mendapatkan penyumbang donor sperma berkulit putih.

Fenomena Punya Anak Tanpa Suami di Cina: Berburu Pria Kulit Putih untuk Donor Sperma
Tribun Pekanbaru/Instagram.com/@ibuhamil_cantik
Edukasi untuk Ibu Hamil Tentang KB, Dosen Kedokteran UNRI Sosialisasi AKI Melalui Skrining Prenatal 

Fenomena Punya Anak Tanpa Suami di Cina: Berburu Pria Kulit Putih untuk Donor Sperma

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Fenomena memiliki anak tanpa suami sedang digemari para perempuan asal Cina.

Akibat kesulitan mencari pasangan hidup, semakin banyak perempuan Cina memilih untuk memiliki anak tanpa suami.

Sebagian besar dari mereka memilih untuk berburu di luar negeri untuk mendapatkan penyumbang donor sperma berkulit putih.

//

Larangan Gunakan Bayi Tabung

Saat ini banyak perempuan lajang asal Cina yang kesulitan mengakses bank sperma.

Lebih jauh lagi terdapat larangan menggunakan fasilitas bayi tabung oleh pemerintah.

Sehingga sebagian dari mereka mencari alternatif di luar negeri.

 

Ilustrasi anak Cina
Ilustrasi (Unsplash/Frederica Diamanta)

Kisah Xiaohunzhu (Nama Samaran)

Seorang perempuan asal China bernama Xiaohunzhu (nama samaran) sedang membuka lembar halaman album foto pria keturunan Perancis dan Irlandia bermata biru.

Dirinya bukan membuka album keluarganya, melainkan sedang memilah-milih calon pemberi donor sperma untuk dibeli.

Xiaohunzhu berusia 39 tahun dan termasuk kelompok baru perempuan lajang di Cina yang mendamba memiliki anak tanpa suami, seperti dilansir oleh AFP yang dikutip Deutsche Welle, (712/2019).

Pria pilihan Xiaohunzhu jatuh pada seorang pria dengan identitas #14471 (dari album donor sperma).

Untuk mendapatkannya, Xiaohunzhu diharuskan pergi ke California, Amerika Serikat untuk melakukan proses pertama dari pembuahan buatan.

"Ada banyak perempuan yang tidak ingin menikah, jadi mereka tidak bisa memenuhi hasrat biologis paling fundamental yaitu mempunyai anak," katanya tanpa menyebut nama asli.

"Tapi saya merasa jalan lain sudah terbuka." katanya.

Bayi Xiaohunzhu saat ini sudah berusia sembilan tahun.

Ia memberi nama anaknya, Oskar, terinspirasi dari sebuah karakter fiktif komik tentang Revolusi Prancis.

Data Pernikahan Menurun

Menurut data statistik, tingkat pernikahan di Cina cenderung menurun dalam lima tahun terakhir.

Angka pernikahan di Cina menunjukkan 7,2 dari 1000 orang yang menikah di Cina.

Komentar Sosiolog

Sosiolog asal Cina, Sandy To menilai perempuan berpendidikan tinggi semakin sulit menemukan calon pasangan lantaran praktik "diskriminasi".

Menurutnya Sandy kaum pria biasanya "kesulitan menerima calon pasangannya yang memiliki pencapaian ekonomi dan akademik yang lebih tinggi."

Xiaohunzhu meyakini figur ayah tidak dibutuhkan dalam keluarga.

"Kenapa semua orang selalu berpikir anak akan bertanya 'kenapa saya tidak punya ayah?'," katanya.

Ilustrasi Gadis Kulit Putih 1
Ilustrasi Gadis Kulit Putih (Unsplash/Doug Swinson)

Nilai Pasar Pembuahan Artifisial

Analis memperkirakan nilai pasar layanan pembuahan artifisial di Cina akan mencapai USD 1,5 miliar pada 2022.

Angka ini adalah dua kali lipat dibandingkan tahun 2016.

Bank Sperma Denmark, Cyros International, bahkan membuka layanan khusus untuk konsumen Cina, lengkap dengan staf penutur Mandarin.

Bank sperma internasional biasanya akan menawarkan sejumlah detail pemberi donor, seperti warna rambut, foto masa kecil dan latar belakang etnis.

"Jika Anda memilih donor, spermanya menjadi komoditas," kata Carrie, ibu berusia 35 tahun yang membesarkan anaknya tanpa suami.

Carrie menilai bank sperma asing lebih mampu "memenuhi kebutuhan konsumen" daripada bank-bank lokal.

Kebutuhan tersebut adalah memahami keinginan konsumen untuk memperbaiki keturunan.

"Perempuan Cina biasanya memilih donor kulit putih," kata Peter Reeslev, Direktur Cyros International.

Hal ini diamini oleh pelaku pasar di Cina sendiri. Xi Hao, koordinator sebuah klinik di Beijing yang membantu perempuan Cina mengakses klinik di California mengakui "pemberi donor yang dipilih kebanyakan pria kulit putih."

Tapi Xiaohunzhu punya alasan lain memilih donor berdarah Prancis untuk anak pertamanya.

"Saya pribadi tidak peduli pada warna kulit," kata dia.

"Saya hanya peduli kedua matanya berukuran besar dan berwajah tampan."ungkapnya.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha) via Deutsche Welle

 
Editor: Firmauli Sihaloho
Sumber: TribunnewsWiki
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved