Beginilah Panduan WHO Terkait Pelaksanaan Ibadah Ramadan 2020 di Tengah Pandemi Virus Corona

WHO merilis panduan bagaimana harusnya saat melaksanakan ibadah puasa ramadan. Panduan ini mengikuti upaya untuk memutus rantai penyebaran virus coro

Editor: Budi Rahmat
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Warga tengah melakukan aktifitas ibadah di Masjid Raya Pekanbaru usai melaksanakan Salat Dzuhur berjamaah, Senin (21/5/2018). 

TRIBUNPEKANBARU.COM- Dalam hitungan jari, umat musmlim se dunia akan melaksanakan ibadah puasa ramadan 2020.

Ibadah rutin yang dilaksanakan setiap tahun itu tentu saja menjadi berbeda di tenag pandemi virus corona.

Terlebih lagi dengan kenyataan protokolor untuk memutus penyebaran virus corona diberlakukan jaga jarak dan menghindari kerumunan.

Nah, terkiat dengan kenyataan itu organisasi kesehatan dunia atau WHO mengeluarkan panduan terkait bagaimana seharusnya selama pelaksanaan ibadah ramadan

Selama sebulan penuh, umat Islam akan khusyuk menjalani ibadah puasa.

Selain puasa ramadhan, praktik ibadah lainnya adalah salat tarawih berjamaah, juga aturan iktikaf 10 hari terakhir di bulan Ramadan.

Nah, dua ibadah terakhir ini biasanya dilakukan secara berkelompok dan dalam jumlah yang besar sehingga rentan terjadi penyebaran Covid-19.

Belum lagi ada kegiatan buka puasa bersama yang berpotensi mengumpulkan banyak orang.

WHO meminta otoritas di setiap negara mempertimbangkan secara serius upaya membatasi, bahkan membatalkan pertemuan sosial dan keagamaan di tengah wabah Covid-19.

Oleh karena itu, WHO merekomendasikan keputusan apa pun untuk membatasi, memodifikasi, menunda, serta membatalkan pertemuan massal.

Jika pun tetap melanjutkan pertemuan, WHO mengingatkan agar otoritas negara setempat menerapkan prosedur yang ketat dengan mengacu pada standar penilaian risiko Covid-19.

Otoritas kesehatan nasional harus menjadi sumber utama informasi terkait Covid-19 dalam konteks Ramadan.

Pemerintah harus memastikan kepatuhan masyarakat terhadap langkah-langkah yang ditetapkan.

Tak lupa, WHO meminta pemerintah melibatkan para pemuka agama sejak awal dalam pengambilan keputusan, sehingga mereka dapat secara aktif terlibat mengomunikasikan keputusan apa pun yang mempengaruhi peristiwa yang berhubungan dengan Ramadan.

Strategi komunikasi yang kuat sangat penting untuk menjelaskan kepada publik alasan pengambilan keputusan.

Instruksi yang jelas harus diberikan dan penting bagi masyarakat untuk mengikuti kebijakan nasional.

Strategi komunikasi juga harus mencakup pesan proaktif tentang perilaku hidup sehat selama pandemi. Agar efektif, penyebaran informasi itu menggunakan berbagai platform media yang berbeda.

Halaman
123
Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved