Minggu, 26 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Penggemar K-Pop di AS ‘Kerjai’ Donald Trump, Ramai-ramai Daftar Kampanye, Tapi Mangkir Saat Hari H

Di arena kampanye Donald Trump di Tulsa yang berkapasitas 19.000 kursi, hanya sepertiganya yang terisi yakni sekitar 6.200 orang

Editor: Nurul Qomariah
istimewa
Sejumlah kursi terlihat kosong di BOK Center, lokasi kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Tulsa, Oklahoma. Kampanye itu diadakan pada Sabtu (20/6/2020).(REUTERS via BBC INDONESIA) 

"Jadi kebanyakan dari kita setidaknya adalah mahasiswa, dan banyak orang yang sudah kerja atau cukup umur untuk memilih di pemilu, dan kemungkinan besar sudah teredukasi dengan topik politik serta mengikuti berita harian," ungkapnya dikutip dari SCMP.

Kenapa Donald Trump Jadi Sasaran?

Michael Hurt sosiolog visual Korea-Amerika dan dosen di Korea National University of Arts di Seoul mengatakan, penggemar K-Pop cenderung lebih liberal dan mendukung gerakan hak-hak sipil.

"(Mereka punya) alergi terhadap boomer di politik, pengalihan tanggung jawab, dan sikap (kuno) yang dimiliki Trump," terangnya kepada SCMP.

"Basis massa K-Pop yang bersifat internasional, muda, dan aktif di dunia digital, memiliki banyak demografi yang sama dengan orang-orang yang benci pesan-pesan (diskriminatif) Trump."

Lebih penting lagi, lanjut Hurt, warganet ini tahu cara melakukan "pekerjaan digital" lebih baik dari siapa pun di dunia.

"Tidak ada orang lain yang dapat membantai Trump di dunia digital selain basis massa BTS. Jadi ini sangat masuk akal."

Awal bulan ini BTS dan label rekaman Big Hit Entertainment menyumbang 1 juta dollar AS (Rp 14,2 miliar) kepada gerakan Black Lives Matter, seraya mengumumkan mereka berjuang bersama melawan diskriminasi ras.

Dalam beberapa hari, BTS Army juga menggalang dana yang jumlahnya melebihi donasi BTS, untuk diserahkan ke Black Lives Matter dan kelompok-kelompok advokasi lainnya.

Grup musik yang terdiri dari 7 anggota dan dibentuk di Seoul pada 2010 itu, di tahun 2018 berpidato di PBB untuk mendorong kaum muda memperjuangkan apa yang diyakininya.

"Aku pikir pidato BTS di PBB 2018 benar-benar menyemangati kami," kata Sterre Brouwer penggemar BTS berusia 15 tahun yang berbasis di Belanda.

"Aku menonton pidato mereka setiap kali aku merasa buruk tentang diriku, dan aku merasa itu menginspirasi kami untuk melakukan lebih banyak hal."

Pada puncak demo Black Lives Matter awal Juni, fans K-Pop mengaku berada di balik layar dalam aplikasi Departemen Kepolisian Dallas yang crash.

Aplikasi itu digunakan publik untuk mengirimkan video perilaku mencurigakan, dan fans K-Pop membanjirinya dengan videoklip dari grup musik favorit mereka.

Sebelumnya pada Mei mereka menenggelamkan tagar #WhiteLivesMatter dengan tujuan meredam pesan rasis tentang protes kebrutalan polisi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved