Penggemar K-Pop di AS ‘Kerjai’ Donald Trump, Ramai-ramai Daftar Kampanye, Tapi Mangkir Saat Hari H
Di arena kampanye Donald Trump di Tulsa yang berkapasitas 19.000 kursi, hanya sepertiganya yang terisi yakni sekitar 6.200 orang
TRIBUNPEKANBARU.COM, TULSA - Prank penggemar K-pop di Amerika Serikat mendadak jadi sorotan.
Pasalnya, mereka membuat prank pada kampanye Presiden Amerika Serikat ( AS ), Donald Trump.
Awalnya, ribuan penggemar K-Pop dan pengguna TikTok ramai-ramai mendaftarkan diri untuk ikut kampanye terbuka Donald Trump di Tulsa, Oklahoma, Sabtu (20/6/2020).
NamunTapi, di hari H banyak di antara mereka tak hadir.
Manajer kampanye Trump, Brad Parscale, pekan lalu mengumumkan kampanye akan dihadiri lebih dari 1 juta orang.
• Dua Pemuja Sabu di Kerumutan Pelalawan Diciduk Polisi, Beli Barang Haram Seharga Rp 500 Ribu
• Perut Anak Gadis Membesar Ternyata Dirudapaksa Paman hingga 6 Kali, Beraksi Saat Ibu Bekerja
• Video Tak Senonoh Tiba-tiba Muncul di Webinar, KPU Sumbar Bakal Lebih Ketat Seleksi Peserta
Namun kenyataannya, di arena yang berkapasitas 19.000 kursi, hanya sepertiganya yang terisi yakni sekitar 6.200 orang.
Tim sukses Trump kemudian menyebut ulah fans K-Pop itu sebagai "demonstran radikal", dan turut menyalahkan media karena dianggapnya menakut-nakuti bakal tertular virus corona jika hadir.
Fenomena ini kemudian ditanggapi seorang anggota Partai Demokrat yang tergabung ke Kongres New York, Alexandria Ocasio-Cortez.
Ia berterima kasih kepada Generasi Z dan teman-teman K-Pop atas "kontribusi mereka dalam memperjuangkan keadilan".
Dilansir dari South China Morning Post (SCMP) pada Senin (22/6/2020), di Korea Selatan K-Pop lebih dikenal sebagai "anak manis", bukan sebagai musik yang berhaluan politik.
Namun, kemunculan sejumlah boyband yang punya kesadaran sosial tinggi seperti BTS perlahan mengubah persepsi di industri musik kekinian itu.
Sementara itu fans K-Pop yang lebih dikenal sebagai pendorong di balik tiket konser yang terjual habis dan dominasi di tangga lagu, belakangan ini mulai menunjukkan kepedulian di dunia politik.
"Dari apa yang saya lihat beberapa tahun terakhir ini, komunitas kami sangat terlibat secara politis," kata Adaeze Agbakoba (21) penggemar BTS keturunan Afrika-Amerika di Washington.
"Ini karena fakta bahwa fanatisme kami memiliki demografi yang paling beragam di semua K-Pop."
"Jumlah kami puluhan juta, dan banyak survei serta analisis telah menunjukkan bahwa mayoritas ( BTS Army) berusia 18-30 tahun."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/bok-center.jpg)