Catatan Muhammad Herwan
Kembali Menapak 1 Muharram, Masih Jahiliyah Kita?
Kita merayakan Tahun Baru 1 Muharram. Sejatinya, tahun baru ini adalah momen untuk intospeksi diri untuk melihat perjalanan yang sudah dilalui
Inilah jahiliyah modern yang bahkan dengan kadar kualitas dan kuantitas yang jauh melebihi jahiliyah pra-Islam.
Krisis Multidimensi dan Dekandensi Moral yang saat ini terjadi sebenarnya telah pernah penulis baca dalam buku Muhammad Quthb berjudul “Jahiliyatul Qarnil ‘Isyrin (Jahiliyah Abad 20)” di tahun 1980-an.
Dalam buku ini, Muhammad Quthb menjelaskan secara rinci bagaimana perilaku jahiliyah yang masih membudaya di zaman modern ini.
Menurutnya, Jahiliyah modern merupakan miniatur dari segala bentuk kejahiliyahan masa silam dengan tambahan asesoris di sana-sini sesuai dengan perkembangan zaman.
Sikap jahiliyah modern tidak timbul secara mendadak melainkan telah melalui kurun waktu panjang.
Ketika kita membaca dan mendengar kata “jahiliyah”, bisa jadi gambaran yang sering muncul di benak kita adalah era kebodohan yang jauh dari nilai peradaban, tidak bermoral dan penuh dengan praktik paganisme pada zaman sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW.
Anggapan seperti ini memang tidak sepenuhnya salah, namun kurang tepat jika definisi jahiliyah hanya dibatasi pada masa pra-Islam yang terjadi di Jazirah Arab saja, tanpa peduli mengapa mereka dijuluki jahiliyah.
Sejatinya ada faktor yang lebih krusial mengapa julukan jahiliyah itu disematkan kepada bangsa Arab pra-Islam.
Secara umum, sebutan tersebut muncul karena prilaku atau cara pandang yang menyimpang dari Islam.
Meskipun hakikatnya pintar dalam urusan dunia, namun ketika prilaku atau cara pandangnya menyimpang dari Islam, maka esensi jahiliyah itu ada dalam dirinya.
Bahkan terhadap umat Islam sekalipun, ketika perilakunya menyimpang dari Islam maka sejatinya dia sedang berperilaku jahiliyah.
Jahiliyah atau kebodohan pada zaman pra-Islam maupun era kekinian ialah ketidaktahuan tentang kepada siapa dan bagaimana kita beribadah, ketidaktahuan terhadap apa hakikat sebenarnya manusia hidup di atas dunia (beribadah kepada Allah dan sebagai khalifatullah di muka bumi).
Dengan demikian makna jahiliyah tidak hanya untuk menyebut suatu masa, era atau fase tertentu saja.
Namun sebutan jahiliyah merupakan sifat yang dapat melekat pada setiap individu atau kelompok manusia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Setiap perkara yang menyimpang dari petunjuk Nabi SAW maka dia disebut perkara jahiliyah. (Fathul Majid, hal: 261).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/ucapan-tahun-baru-islam-1-muharram-1441-h.jpg)