Breaking News:

Catatan Muhammad Herwan

Kembali Menapak 1 Muharram, Masih Jahiliyah Kita?

Kita merayakan Tahun Baru 1 Muharram. Sejatinya, tahun baru ini adalah momen untuk intospeksi diri untuk melihat perjalanan yang sudah dilalui

Editor: Rinal Maradjo
timesofindia.indiatimes.com
Jelang Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 H, Ini Bacaan Doa Akhir dan Awal Tahun, Lengkap Lafal Latin 

Namun sebutan jahiliyah merupakan sifat yang dapat melekat pada setiap individu atau kelompok manusia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Setiap perkara yang menyimpang dari petunjuk Nabi SAW maka dia disebut perkara jahiliyah. (Fathul Majid, hal: 261).

Abul A’la Al-Maududi berkata, “Jahiliyah adalah setiap cara pandang yang tidak sesuai dengan cara pandang Islam, yang dari cara pandang yang tidak islami tersebut lahirlah perbuatan-perbuatan jahiliah.” (Abu A’la Al-Maududui, Islam dan Jahiliyah, hal. 22-23).

Dengan settingan dan aktor yang berbeda, upaya pemisahan Islam dari aturan hidup masyarakat sebagaimana yang kita lihat dan rasakan saat ini,

Terjadi dalam berbagai dimensi kehidupan politik, hukum, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.

Bagi mereka, agama dipandang hanya sebagai urusan privat semata, tidak perlu dibawa-bawa untuk mengatur kebijakan publik.

Kehidupan sosial biarlah diatur hukum positif berdasarkan kemanusiaan dan toleransi dari akal budi manusia.

Tidak perlu ada campur tangan Allah SWT di dalamnya.

Efeknya, ajaran Islam hanya dipakai jika sesuai dengan selera akal mereka.
Agama hanya sebatas kemasan dan hiasan untuk pencitraan diri, kamuflase status status sosial dan untuk kepentingan politik sesaat.

Jabatan sebagai kepercayaan dan amanah disalahgunakan untuk memperkaya diri dan menumpuk kekayaan serta mempertahankan kekuasaan.

Segala macam cara dan apapun dilakukan untuk mendapatkan jabatan tersebut.
Kesenangan duniawi, harta melimpah, rumah tempat tinggal megah, kendaraan mewah masih tak cukup dan terus dikejar, bagai meminum air laut yang semakin di minum dahaga tak pernah terpuaskan.

Kondisi seperti ini melambangkan karakter bangsa jahiliyah zaman dahulu.
Padahal kemewahan dan harta yang berlimpah tidaklah dapat dibawa mati, apatah lagi mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak diridhoi Allah SWT.

Islam tidak mengajarkan perilaku (pola) hidup konsumtif atau gaya hidup yang berlebih-lebihan.

Imam Ali R.A berkata, “Aku tidak melihat kenikmatan yang berlimpah kecuali disampingnya pasti ada hak yang diabaikan.” (Nahj al Balaghah, hikmah Imam ‘Ali R.A).

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved