Kamis, 23 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Suara Hassan Rouhani Terdengar Bergetar ketika Sebut Amerika Serikat 'Biadap', Ini Penyebabnya

Amerika Serikat kembali bikin Iran marah besar, Bahkan Suara Hassan Rouhani Terdengar Bergetar ketika Sebut Amerika Serikat 'Biadap'

Editor: Budi Rahmat
Presidensi Iran / AFP
Presiden Iran, Hassan Rouhani memimpin sidang kabinet di ibukota Teheran. 

TRIBUNPEKANBARU.COM- Iran marah besar atas sikap Amerika Serikat. Negara Donald Trump tersebut sampai dikatakan 'biadap' atas apa yang mereka lakukan.

Kemarahan Iran disebabkan oleh sanksi yang dijatuhkan AS atas Iran.

Sanksi yang berakibat fatalpada konsisi ekonomis Iran.

Suhu Politik Negeri Jiran Makin Panas Usai Perseteruan PM Muhyiddin dan Anwar, Peran Raja Krusial

Baru Lahir Beberapa Hari Bayi Pasangan Artis Ini Langsung Kebanjiran Job, Buka Rekening Sendiri

China Mengganas, Gerakkan 300 Kapal ke Perairan Peru dan Ekuador, Laut Amerika Selatan Memanas

Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara dalam Sidang Umum PBB, pada Rabu (25/9/2019).(AFP / TIMOTHY A CLARY)
Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara dalam Sidang Umum PBB, pada Rabu (25/9/2019).(AFP / TIMOTHY A CLARY) (AFP / TIMOTHY A CLARY)

Presiden Iran Hassan Rouhani menuduh Amerika Serikat ( AS) telah melakukan "kebiadaban" karena membuat Iran merugi 150 miliar dollar AS (Rp 2.240 triliun) akibat sanksi yang dijatuhkan.

Hal itu dia ungkapkan pada Sabtu (26/9/2020) dan mengatakan Iran harus mengarahkan kemarahan mereka ke Gedung Putih.

"Dengan sanksi ilegal dan tidak manusiawi, dan tindakan teroris, AS telah menimbulkan kerugian sebesar 150 miliar dollar AS (Rp 2.240 triliun) kepada rakyat Iran," kata Rouhani disiarkan televisi pemerintah.

Suara Rouhani terdengar bergetar karena murka sebagaimana dilansir dari Reuters.

"Kami belum pernah melihat kebiadaban yang begitu luas ... Alamat untuk kutukan dan kebencian rakyat Iran adalah Gedung Putih," tambah Rouhani.

Ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkat sejak Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018.

Padahal kesepakatan tersebut diinisiasi oleh pendahulu Trump, Barrack Obama.

Setelah menarik diri dari perjanjian itu, Trump mulai menerapkan kembali sanksi kepada Iran yang telah dikurangi berdasarkan perjanjian tersebut.

Iran tidak terima atas perlakuan AS dan secara bertahap telah melanggar kesepakatan itu menurut Badan Energi Atom Internasional ( IAEA).

Kapal Perang Rusia Tabrak Kapal Swiis di Perairan Denmark, Pihak Berwenang Enggan Beri Keterangan

Ratusan Kapal Raksasa China Rampok Ikan di Perairan Cagar Laut Galapagos, Peru Ngamuk

Pelanggaran yang dilakukan Iran termasuk melampaui batas pengayaan uranium yang diizinkan untuk keperluan nuklir.

Pada Senin (21/9/2020), Washington memberlakukan sanksi baru terhadap Kementerian Pertahanan Iran dan pihak lain yang terlibat dalam program senjata dan nuklir Iran.

Pada Kamis (24/9/2020), AS memasukkan beberapa pejabat dan entitas Iran ke daftar hitam atas dugaan pelanggaran berat hak asasi manusia (HAM).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved