Penelitian Oxford BONGKAR Cara Kerja Propaganda di Era Digital: Kenali Modus Pasukan Siber
Salah satu medium yang paling efektif untuk dijadikan alat propaganda di era digital sekarang adalah media sosial.
Dari penelitian yang sama, setidaknya ada 3 jenis misi propaganda yaitu
- Membuat khalayak menjadi pro terhadap pemerintah atau partai politik
- Menjatuhkan lawan politik atau oposisi
- Memecah belah masyarakat untuk menimbulkan kekacauan.
Di antara ketiganya, misi menjatuhkan lawan politik merupakan tujuan yang paling banyak digunakan dalam upaya propaganda pesan, yakni sebanyak 89 persen.
Strategi komunikasi
Untuk membuat tujuannya tercapai, pihak yang melakukan propaganda harus mengaplikasikan jenis komunikasi tertentu yang dinilai paling sesuai dan efektif.
Beberapa gaya komunikasi untuk membentuk opini orang lain misalnya menyampaikan informasi yang tidak sepenuhnya tepat sehingga orang akan salah memahaminya.
Jenis kedua, memberi hadiah tertentu untuk target. Target misalnya adalah lawan politik, oposisi, atau jurnalis.
Cara komunikasi yang ketiga adalah dengan menggelontorkan konten pesan menggunakan tagar di media sosial.
Bisa juga propaganda dilakukan dengan cara penyampaian suatu isu secara massal.
Lebih parah, propaganda bahkan mungkin dilakukan dengan cara kekerasan.
Baca juga: Nikita Mirzani Lawan Terus Habib Rizieq, Nikita: Kabur Gara-gara Janda, Pulang-pulang Dihajar Janda
Baca juga: Siapa Olivia Allan? SOSOK Istri Denny Sumargo: Pernah 3 Tahun Tidak Sekolah buat Keliling Dunia
Baca juga: UPDATE Pesta Pernikahan Anak Kepala BPBD Dibubarkan, Sudah Diingatkan Polisi 3 Minggu yang Lalu
Peneliti Oxford Ungkap Propaganda Digital di Media Sosial Libatkan Banyak Pihak
Sebuah penelitian yang dilakukan Oxford Internet Institute berjudul The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation salah satunya mengungkap peran cyber troops atau pasukan siber dalam membentuk opini publik.
Di media sosial, ada akun-akun yang menyebarkan informasi untuk membentuk opini sesuai kepentingan mereka.
Pasukan siber di balik akun-akun media sosial tersebut dapat membentuk suatu opini publik, menyampaikan agenda politik, dan mempropagandakan gagasan-gagasan melalui kerja-kerja digital.
Siapa sebenarnya pasukan siber ini?
Penelitian Oxford Internet Institute itu melakukan kajian soal komputasi propaganda di badan pemerintahan dan partai politik hingga menemukan siapa saja sebenarnya para cyber troops ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/era-smartphone-media-sosial_20160228_220909.jpg)