Breaking News:

Opini

Pelestarian Budaya Melalui Integrasi Etnosains dalam Pembelajaran 

Era globalisasi Abad 21 di satu sisi memberikan peluang tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk untuk unjuk gigi dalam kancah internasional

Editor: rinalsagita
istimewa
Rikizaputra, M.Pd 

Sitem pembelajaran disekolah harus mengarahkan terbentuknya budaya sekolah yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, serta simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar.

Nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, dan kebiasaan sehari-hari disebut sebagai etno. etnosains (ethnoscience) berasal dari kata ethnos dari bahasa Yunani yang berarti bangsa dan kata scientia dari bahasa Latin yang berarti pengetahuan.

Para ahli secara umum bersepakat bahwa etnosains merupakan pengetahuan yang dimiliki oleh suatu bangsa atau suatu suku bangsa atau kelompok sosial tertentu.

Etnosains mendorong guru dan juga praktisi pendidikan untuk mengajarkan sains yang berlandaskan kebudayaan, kearifan lokal dan permasalahan yang ada di masyarakat, sehingga siswa dapat memahami dan mengaplikasikan sains yang mereka pelajari di dalam kelas dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang mereka temui dalam kehidupan sehari–hari.

Etnosains akan lebih mudah diamati melalui proses pendidikan tentang kehidupan sehari-hari yang dikembangkan oleh budaya, baik proses, cara, metode, maupun isinya.

Pengetahuan budaya seperti dongeng, tembang, permainan - permainan, rumah adat, ritual adat, produksi lokal, pemanfaatan alam merupakan salah satu wujud sistem pendidikan etnosains .

Seorang peneliti bernama Baker dan kawan kawannya pernah mengingatkan, jika pembelajaran sains di sekolah tidak memperhatikan budaya anak, maka konsekuensinya siswa akan menolak atau menerima hanya sebagian konsep-konsep sains yang dikembangkan dalam pcmbelajaran.

Stanley dan Brickhouse melalui hasil risetnya juga menyarankan agar pembelajaran sains di sekolah menyeimbangkan antara sains barat (sains normal, sains yang dipelajari dalam kelas) dengan sains asli (sains tradisional) dengan menggunakan pendekatan lintas budaya ( cross-culture ).

Pentingnya esensi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dalam pendidikan karena nilai-nilai budaya dan kearifan lokal siswa mampu menjadi acuan atau pendangan utama oleh siswa untuk bisa di jadikan sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

Dilakukannya pembelajaran dengan mengaitkan nilai kearifan lokal di sekitar siswa sendiri yaitu agar mereka mengetahui nilai kearifan lokal di sekitarnya dan di harapkan siswa mampu menjaga dan melestarikan nilai kearifan lokal tersebut agar tetap ada dan tidak tergeser dengan budaya luar dan siswa tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan budaya lokal di daerah sekitarnya sebagai penguat karakter agar tidak kehilangan jati diri.

Oleh sebab itu, maka pembelajaran sains berbasis kearifan lokal adalah salah satu cara yang dapat dilakukan agar budaya bangsa tetap lestari ditengah arus globalisasi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved