Selasa, 21 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Kisah Nabi Idris Lengkap : Silsilah Nabi Idris dan Berdakwah di Irak dan Mesir

Berikut Kisah Nabi Idris lengkap , mulai dari silsilah Nabi Idris hingga berdakwah di Irak dan Mesir sampai dengan Malaikat Maut mencabutnyawanya

Penulis: pitos punjadi | Editor: Nolpitos Hendri

Nabi Idris dikenal sebagai ahli perbintangan. Dia adalah orang yang pertama kali memanfaatkan rasi bintang sebagai penunjuk arah, waktu yang tepat untuk bercocok tanam, hingga memperkirakan kondisi cuaca. Nabi Idris juga memiliki keterkaitan dengan bangsa Sumeria. Sebab, beberapa penelitian membuktikan bangsa Sumeria juga mempelajari ilmu perbintangan untuk mengetahui waktu bercocok tanam yang baik. Misalnya, rasi bintang Taurus yang dipercaya sebagai masa awal musim semi dan cocok untuk menanam. Sementara, rasi bintang Virgo digunakan sebagai waktu yang tepat untuk melakukan panen.

Nabi Idris Jadi Manusia Pertama yang Bisa Membuat Pakaian

Sebelum Nabi Idris terlahir di dunia, manusia sebelumnya terbiasa membuat dan memakai kulit binatang sebagai pakaian. Nabi Idris diberikan Allah mukjizat berupa orang pertama yang bisa menjahit kulit binatang menjadi baju layak pakai. Saat ada waktu luang, Nabi Ibrahim menjahit pakaian lalu diberikan kepada kaum fakir miskin.

Nabi Idris Jadi Manusia Pertama yang Bisa Menulis

Nabi Idris juga dikenal sebagai manusia pertama yang bisa menulis menggunakan pena. Bahkan, para ilmuwan pernah menemukan beberapa potongan naskah kuno yang diklaim berkaitan dengan Nabi Idris. Naskah itu bernama Kitab Henokh. Salah satu kisah dalam kitab itu adalah tentang peradaban tertua di bumi Lemuria, Atlantis yang hilang ditelan bumi. Selain itu, prediksi tentang banjir besar yang akan terjadi di muka bumi. Para ilmuwan itu menduga Kitab Henokh tersebut ditulis oleh Nabi Idris.

Kisah Nabi Idris Merasakan Mati dan Hidup Lagi

Pada suatu malam, Nabi Idris kedatangan tamu seorang pria. Dia membawa sangat banyak buah-buahan. Nabi Idris tidak sadar, pria tersebut adalah Malaikat Maut yang menyamar. Nabi Idris menawarkan makanan itu kepada Maut, namun ditolak. Pada akhirnya, mereka berbincang-bincang dan berjalan-jalan melihat pemandangan sekitar. Setelah empat hari bersama dan sudah cukup akrab, Nabi Idris mulai curiga dengan sang tamu. Sebab, tamu itu tidak menyentuh jamuannya sama sekali. Nabi Idris lantas  mengajukan pertanyaan karena diliputi rasa penasaran.

“Maaf Ya Nabi Allah. Aku sebenarnya adalah Malaikat Maut,” jawab sang malaikat.

Tentu saja Nabi Idris terkejut mendengarnya, sebab Malaikat Maut bertugas mencabut nyawa manusia. “Kau sudah empat hari bersamaku. Apakah kau sedang bertugas untuk mencabut nyawa makhluk di dunia ini?”

“Wahai Idris, selama empat hari ini memang banyak sekali nyawa yang telah kucabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku. Kuambil mereka bagaikan seseorang sedang menyuap makanan.”

“Lantas apa maksud kedatanganmu kemari? Apakah kau ingin mencabut nyawaku?”

Malaikat Maut menggeleng. “Tidak, Ya Idris. Kedatanganku memang untuk mengunjungimu karena saya rindu dan Allah telah memberikan izin.”

Setelah percakapan itu, Nabi Idris membuat satu permintaan. Dia ingin Malaikat Maut mencabut nyawanya, kemudian menghidupkannya kembali. Nabi Idris penasaran dengan rasa sakratul maut yang konon sangat dahysat sakitnya. Namun, permintaan itu tidak segera dituruti oleh Malaikat Maut. Sebab, segala hal yang dia lakukan hanya atas perintah Allah SWT.

“Saya tidak mencabut nyawa seseorang selain atas izin Allah,” kata Malaikat Maut.

Namun, Allah SWT pada akhirnya mengabulkan permintaan Nabi Idris. Seketika, Malaikat Maut pun mencabut nyawa Nabi Idris. Melihat sahabatnya kesakitan sedemikian rupa, Malaikat Maut menangis. Setelah mati, Allah menghidupkan kembali Nabi Idris.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved