Menakar Pentingnya Pemerataan Akses Internet hingga ke Pelosok Negeri
Budi Arie menekankan pemerataan akses internet tidak hanya melalui pembangunan BTS, tetapi juga bisa menggunakan satelit.
Penulis: Firmauli Sihaloho | Editor: Firmauli Sihaloho
Selain tiga startup di atas, diprediksi masih ada startup lainnya yang dalam tahap pengembangan. Namun yang perlu dicatat ialah bagaimana animo masyarakat di Riau memanfaatkan potensi ekonomi di era digitalisasi saat ini.
Menkominfo Budi Arie mengakui hal tersebut. Ia menuturkan sebanyak 2.656 orang talenta digital Provinsi Riau telah mengikuti pelatihan DTS selama tahun 2022 dan 2023.
"Saya menyaksikan potensi UMKM dan Orang Muda Riau di dunia digital yang signifikan. Saya yakin warga Riau memiliki semangat juang yang tinggi untuk terus mengembangkan diri, makin unggul di era digital," katanya dalam dialog dengan masyarakat Riau di Gedung Daerah Balai Serindit Kantor Gubernur Riau, Pekanbaru, Riau, dikutip Minggu (27/08/2023).
Pulau Terluar di Riau Butuh Sentuhan Digitalisasi
Sebagai Pulau Terluar Indonesia, Kepulauan Meranti di Provinsi Riau membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dalam mempromosikan potensi daerah.
Salah satunya Kopi Liberika Meranti yang unik. Berbeda dari varian Robusta dan Arabika, Liberika Meranti dipanen dari lahan gambut di dataran rendah dengan ketinggian 2 Mdpl.
Akan tetapi, Kopi Liberika lebih banyak diekspor ke negeri Jiran Malaysia sementara kurang dikenal di Indonesia.
Padahal, International Coffee Organization (ICO) menyebut Indonesia menjadi negara dengan konsumsi kopi terbesar kelima di dunia pada 2020/2021. Jumlahnya sebanyak 5 juta kantong berukuran 60 kilogram..
“Berdasarkan cerita petani di sana, memang Kopi Liberika Meranti ini lebih banyak diekspor ke negeri tetangga. Karena peminatnya lebih banyak di sana dibanding kita yang di Indonesia,” kata Taufik, Pemilik Kopi Curah Pekanbaru yang fokus mengolah Liberika Meranti sejak tahun 2016.
Ia mengatakan Kopi Liberika Meranti membutuhkan bantuan segala pihak dalam bidang promosi agar mampu bersaing dengan varian Robusta dan Arabika.
Sebab, Liberika Meranti menawarkan rasa yang berbeda, perpaduan antara nangka, kopi dan coklat.
“Juga menjadi alternatif lain bagi penikmat kopi, karena varian ini dikenal memiliki tingkat keasaman dan kadar kafein yang tergolong rendah,” jelas Taufik.
Sementara Badan Pusat Statistik dalam laporan bertajuk Kabupaten Kepulauan Meranti Dalam Angka 2022, menyebut tanaman kopi ini menjadi salah satu unggulan warga selain Sagu, Kelapa, Karet dan Pinang. Tercatat luas lahan kopi sudah mencapai 2,24 ribu hektare pada tahun 2021.
Berkaca dari perkembangan teknologi saat ini, promosi Kopi Liberika Meranti untuk menjangkau pasar yang lebih luas sepertinya bukanlah sesuatu yang sulit.
Seperti menggunakan media sosial dan e-commerce sebagai alat promosi sekaligus memasarkan produk. Oleh sebab itu, kehadiran akses internet menjadi penting di Kepulauan Meranti.
( Tribunpekanbaru.com/ Firmauli Sihaloho)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/ILLUSTRASI-BTS.jpg)