Jumat, 5 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Jamaah Islamiyah Bubar

Melihat Atribut-atribut NKRI di Pesantren Eks Jamaah Islamiyah di Boyolali, Ada Perbedaan Mencolok

Ada perbedaan mencolok terlihat dari Pondok Pesantren (Ponpes) Darusy Syahadah pasca Jamaah Islamiyah (JI) dinyatakan bubar .

Tayang:
Editor: Muhammad Ridho
Tribunnews.com
Ponpes Darusy Syahadah di Simo, Boyolali, Jateng, yang terafiliasi dengan Jamaah Islamiyah. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Ada perbedaan mencolok terlihat dari Pondok Pesantren (Ponpes) Darusy Syahadah, Simo, Boyolali, Jawa Tengah pasca Jamaah Islamiyah (JI) dinyatakan bubar beberapa waktu lalu.

JI sendiri dinyatakan bubar setelah ada keputusan pada 30 Juni 2024 silam.

Kini Bendera besar merah putih terlihat terpasang di pucuk tiang cukup besar di depan kantor Pesantren Darusy Syahadah, Simo, Boyolali, Jawa Tengah.

Remang senja dan angin yang tenang serta hawa dingiin membuat bendera negara itu tak bergerak, seperti membeku di kampung bernama Kedung Lengkong itu.

Di seberang kantor, papan nama besar pesantren terlihat berwarna keemasan, tegak di depan deretan gedung tempat para santri biasa belajar.

Di belakang bangunan itu berdiri kokoh masjid Darusy Syahadah. Berkubah besar, masjid itu belum seratus persen kelar pembangunannya. 

Beranjak ke ruang tamu kantor pesantren, empat bendera terpasang di sebelah pintu masuk. Ada bendera merah putih, bendera lambang Kemenag, bendera yayasan, bendera pesantren.

Foto Presiden Joko Widodo dan Wapres Maruf Amin mengapit lambang garuda  di dinding ruangan sebelah kanan pintu masuk.

Ustad Qasdi Ridwanulloh dan sejumlah guru menerima kedatangan Tribun, yang secara khusus ingin melihat dari dekat pesantren afiliasi JI itu.

Pesantren Darusy Syahadah mencuat namanya di tahun 2009, ketika alumni Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki yang mengajar di pesantren ini tewas bersama Noordin Mohd Top. 

Namanya Gempur Budi Angkoro alias Urwah. Noordin dan Urwah tewas saat rumah singgahnya di Mojosongo digempur apparat Densus 88 Antiteror. 

Keduanya melawan menggunakan senjata api dan peledak. Baku tembak berlangsung berjam-jam, sebelum rumah yang ditempati terbakar dan ambruk.

Noordin Mohd Top saat itu buronan paling dicari karena diduga merekrut dan menjadi guru spiritual para pengebom bunuh diri di berbagai lokasi di Indonesia.

Noordin Mohd Top tercatat warga Malaysia, murid Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir semasa di sekolah agama Luqmanul Hakim Johor Bahru, Malaysia. 

Pesantren Darusy Syahadah didirikan Ustad Mustaqim Safar, alumni dan mantan guru Ponpes Al Mukmin Ngruki, kini jadi Ketua Yayasan Yasmin Surakarta yang menaungi pesantren itu.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved