Minggu, 12 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Asa Melestarikan Wastra Melayu dari Pulau Terluar Bengkalis

Berbagai literasi menyebut Tenun Lejo sudah ada sejak zaman Kerajaan Siak, berkisar tahun 1800-an

doc aisyah
TENUN: Aisyah, pemilik toko online Tenun Seroja Putih Bengkalis mengatakan penjualannya mengalami kenaikan saat bergabung menjadi mitra Shopee sejak tahun 2022. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Hampir setiap hari, bunyi derak menggema dari balik dinding rumah masyarakat di Desa Sebauk dan Desa Teluk Latak Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Suara itu berasal dari hentakan alat tenun kayu yang digerakkan tangan-tangan terampil para ibu.

Keterampilan yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi itu menjaga hasil tenunan masih autentik, apalagi alat tenun yang digunakan masih tradisional berbahan kayu. Sehingga tak heran karya kriya yang dihasilkan bernilai jual tinggi.

Tenun Lejo, begitu nama wastra yang dihasilkan pengrajin di sana. Ciri khas Tenun Lejo terletak pada motif yang rumit dan padat menggunakan benang emas yang berkilau dan disulam indah pada bahan sutera berkualitas tinggi. 

Dibalik coraknya yang menawan itu, pada setiap motif yang berbeda mengandung nilai dan pesan yang besar. Contohnya motif pucuk rebung yang melambangkan kesabaran, kesuburan dan tekad hati dalam mencapai suatu tujuan dan harapan.

Berbagai literasi menyebut Tenun Lejo sudah ada sejak zaman Kerajaan Siak, berkisar tahun 1800-an.  Kain tenun itu umumnya digunakan masyarakat suku Melayu pada berbagai acara adat maupun seremonial.

Agar wastra itu tak punah ditelan zaman, berbagai upaya terus diupayakan pihak terkait. Seperti Tenun Lejo sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WbTB) sejak tahun 2022. Kemudian diikutsertakan dalam acara fashion dan seni budaya bertaraf nasional maupun internasional. Lalu kebijakan pemerintah daerah yang mewajibkan para pegawai berpakaian Melayu lengkap setiap hari Jumat.

Akan tetapi, melestarikan suatu tradisi tak cukup hanya melalui upaya membanggakannya. Aspek komersialisasi harus didorong, salah satunya melalui perluasan pasar. Apalagi di era digital saat ini. Pasalnya beberapa studi menyebutkan bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, lebih termotivasi untuk mempelajari dan meneruskan tradisi dan budaya apabila bernilai ekonomis yang jelas.

Nur Aisyah agaknya menyadari hal tersebut. Usai menamatkan studi sarjana pada tahun 2019, Aisyah tak lantas hijrah ke kota lain mencari pekerjaan. Terlintas di benaknya untuk terlibat mengembangkan usaha tenun milik keluarganya.

“Pada saat itu, kain tenun yang dikerjakan oleh Ibu dan Mak Cik saya hanya sesuai orderan artinya jika ada pesanan orang lain saja. Melihat hal tersebut, saya berpikir kenapa kita tidak ciptakan pasar sendiri melalui media sosial dan e-commerce seperti Shopee,” kenangnya kepada tribunpekanbaru.com, Rabu (28/5/2025).

Pada tahun 2020, Aisyah memulai aksinya melalui Shopee. Berbekal pengetahuan yang dipelajari secara otodidak, Aisyah memperbaiki tampilan foto kain yang dijual begitu juga dengan deskripsi produknya.

Seiring berjalan waktu, orderan yang diterima melalui Shopee mulai bertumbuh dan terus berkembang. Pelanggan toko online yang diberi nama Tenun Seroja Putih itu berasal dari seluruh nusantara. Mulai dari Aceh hingga Nusa Tenggara Barat. Keuntungan mulai terasa, bahkan rata-rata pendapatannya setiap bulan bisa mencapai Rp 10 juta. Kini, Toko Seroja Putih telah diikuti 1,4 ribu pengikut.

“Bahkan toko kami pernah mendapat predikat sebagai toko Star Seller karena penjualan yang meningkat dan pelayanan yang prima. Sebagai apresiasi, Shopee memberikan bonus berupa saldo yang kemudian saya gunakan untuk biaya iklan dan promosi produk,” ujarnya.

Berkat iklan itu, Aisyah mengaku popularitas tokonya meningkat berkat jangkauan promosi yang luas. Puncaknya, Ia pernah merasakan penjualan naik hingga dua kali lipat dengan pendapatan mencapai Rp 20 juta per bulan. 

Pencapaian ini ternyata berdampak bagi orang lain karena Ia mesti menyerap tenaga kerja. Kini, Aisyah mempekerjakan tujuh pekerja dengan tiga alat tenun kayu yang mampu menghasilkan 12 set kain tenun setiap bulannya. 

“Untuk harga kain tenun kita variatif tergantung dengan tingkat kesulitan motif. Semakin rumit motifnya maka semakin tinggi harganya. Unruk kain tenun yang kita jual mulai dari harga Rp 1 juta untuk satu setnya,” ujar Dia. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved