Minggu, 31 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Penyeberangan Kampung Dalam - Benteng Hulu Siak yang Tak Pernah Benar-Benar Mati

Denyut kehidupan di dermaga penyeberangan Kampung Dalam - Benteng Hulu Kabupaten Siak, Riau belum sepenuhnya padam.

Tayang:
Penulis: Mayonal Putra | Editor: Theo Rizky
Tribunpekanbaru.com/Mayonal Putra
MENYEBERANG - Penumpang melambaikan tangan saat keluar sampan dan berjalan di dermaga penyeberangan fery lama, kampung Dalam, Siak. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Meski Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah (TASL) kini berdiri megah membentang di atas Sungai Siak, denyut kehidupan di dermaga penyeberangan Kampung Dalam - Benteng Hulu belum sepenuhnya padam.

Dulu, tempat ini adalah urat nadi penghubung antara Siak dan Mempura.

Kapal feri besar mengangkut manusia dan kendaraan menyeberangi Sungai Siak yang lebar dan dalam.

Sejak peresmian Jembatan TASL oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007, kapal feri resmi berhenti berlayar. 

Namun begitu, bukan berarti seluruh aktivitas penyeberangan mati.

Sungai itu masih dijelajahi oleh sampan-sampan bermesin milik warga Benteng Hulu yang setia hilir mudik, menyeberangkan manusia, sepeda motor, barang dan kenangan.

Bekas dermaga itu kini menjadi pangkalan bagi 10 unit sampan mesin yang beroperasi bergiliran setiap hari.

Lima unit aktif, lima lainnya beristirahat. Pola ini disepakati untuk menjaga keseimbangan penghasilan para pemilik perahu.

Dari sini, perahu-perahu sederhana itu kembali memberi nyawa pada dermaga tua, membangun ekonomi kecil, dan membentangkan nostalgia masa lalu yang masih menggantung di langit Siak.

Sampan penyeberangan berpapasan dengan kendaraan perahu kayu
SUNGAI SIAK - Sampan penyeberangan berpapasan dengan kendaraan perahu kayu yang sedang melintas di Sungai Siak, Kabupaten Siak.

Lebih Cepat, Lebih Dekat

Ernawati (37), warga Kampung Sungai Pinang, Mempura, saban hari menyeberang menggunakan jasa sampan, Sabtu (28/6/2025).

Meski sudah ada jembatan, ia lebih memilih jalur air yang hanya membutuhkan waktu singkat, ketimbang memutar jauh ke Kampung Tengah dan Sungai Mempura.

“Lebih cepat lewat sini,” ujarnya saat keluar dari sampan di Benteng Hulu.

Ia bertiga dengan suami dan anaknya, tetapi tetap dikenai ongkos Rp10 ribu saja, tarif standar untuk satu sepeda motor. Bagi penumpang tanpa kendaraan, tarifnya berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000.

Hampir semua penumpang sudah saling mengenal dengan pemilik perahu. Ada ikatan sosial yang tumbuh dari kebiasaan bertemu dan saling percaya.

Sejumlah penumpang dan sepeda motor berada di dalam sebuah sampan
SAMPAN - Sejumlah penumpang dan sepeda motor berada di dalam sebuah sampan saat menyeberangi sungai Siak, Kabupaten Siak.
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved