CATATAN TRIBUNERS
Orang Tua Pekerja dan Suluh Literasi: Revolusi 15 Menit di Tengah Kesibukan
Riset Universitas Indonesia (2024), pendampingan orang tua selama 15 menit per hari secara berkualitas, setara dengan satu jam belajar pasif.
Pertama, aktivitas harian sebagai kelas hidup. Kegiatan rumah tangga bisa menjadi ruang belajar yang kaya makna.
Memasak, misalnya, menjadi laboratorium matematika: anak diajak menghitung tutup botol untuk belajar korespondensi satu-satu, mengukur takaran bahan untuk memahami pecahan, atau membandingkan harga di pasar sebagai pengantar studi ekonomi sederhana.
Kedua, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sekutu literasi dan numerasi. Gawai bukan musuh jika digunakan secara cerdas.
Seorang ayah yang berprofesi nelayan di Kupang mengirim kuis matematika melalui pesan suara WhatsApp saat sedang melaut.
Seorang ibu di Siak bisa menyulap tutup botol bekas menjadi alat peraga numerasi. Inovasi muncul ketika keterbatasan dihadapi dengan kreativitas.
Selanjutnya adalah Segitiga Emas Pendidikan yaitu orang tua, guru, dan komunitas. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci.
Program RISE di Kebumen menunjukkan hasil nyata melalui komunikasi terstruktur, yakni guru mengirim laporan perkembangan bulanan siswa yang berisi panduan kegiatan pendampingan.
Kolaborasi dengan sekolah dan masyarakat menjadi kunci lebih jauh dalam menghadapi tantangan keterbatasan waktu dalam mendampingi belajar anak.
Bukti-bukti yang Membangun Harapan
Perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas yang serba lengkap atau kurikulum yang rumit.
Justru, transformasi paling berdampak kerap berakar dari pendekatan yang membumi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak-anak.
Ketika proses belajar dikaitkan langsung dengan konteks lokal, aktivitas harian pun bisa menjadi ruang belajar yang efektif dan menyenangkan.
Contohnya, salah satu bentuk implementasi program PINTAR yang diinisiasi Tanoto Foundation bersama sekolah mitra di Kuningan, Jawa Barat.
Di sekolah ini para siswa diajak belajar langsung di lapangan. Salah satunya, mereka diajak menghitung curah hujan yang dikaitkan dengan prediksi hasil panen.
Dengan cara-cara menyenangkan seperti ini (beserta rangkaian implementasi program PINTAR lainnya), kapasitas numerasi siswa di sana meningkat 11,6% lebih tinggi dari sekolah non-mitra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Fenny-Nur-Muhdy.jpg)