Rabu, 15 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Memanen Bonus Demografi lewat Kolaborasi Pengasuhan Anak

Indonesia melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2025–2045, menargetkan visi Indonesia Emas.

Editor: Ariestia
ISTIMEWA
Eka Hermansyah, Fellow Tanoto Foundation 

Oleh: Eka Hermansyah, Fellow Tanoto Foundation

TRIBUNPEKANBARU.COM - Sebanyak 70 persen penduduk Nigeria atau setara 230 juta jiwa berusia kurang dari 30 tahun.

Mereka yang berada di usia produktif, yakni 15-64 tahun, bahkan mencapai lebih dari separuh populasi, yakni 56 persen.

Tak heran, negara ini disebut mengalami ledakan jumlah pemuda (youth bulge).

Namun, alih-alih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, pemuda di negeri di Afrika itu justru menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran, yakni mencapai 80 juta orang.

Kondisi itu berujung pada meningkatnya angka kriminalitas dan mencuatnya instabilitas politik.

Walhasil, Nigeria, kerap dianggap negara yang gagal memanfaatkan bonus demografi.

Indonesia melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2025–2045, menargetkan visi Indonesia Emas.

Visi ini adalah sebuah impian tentang "panen raya", terciptanya peradaban masyarakat yang modern dan sejahtera yang dipanen dari bonus demografi.

Bonus demografi terjadi ketika mayoritas penduduk suatu negara berada di usia produktif.

"Panen raya" itu akan terjadi jika bonus demografi yang datang hanya sekali dalam sejarah ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Namun jika gagal, suatu negara justru bisa mengalami situasi "paceklik".

Layaknya hukum alam dalam pertanian, kita tidak akan pernah bisa memanen padi yang menguning keemasan jika kita lalai selama masa tanam.

Langkah paling "mudah" dalam mencegah kondisi gagal panen dan mencapai panen raya itu adalah belajar dari negara lain, baik yang gagal maupun yang sukses dalam mengalami bonus demografi.

Kembali ke Nigeria, negeri ini menempati peringkat ke-172 dari 183 negara dalam Global Youth Development Index 2023. Artinya kualitas SDM pemuda di negara itu tak sesuai harapan.

Kondisi ini dipengaruhi minimnya investasi pada pengembangan pendidikan dan kesehatan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved