Dari Dompet ke Barcode, Saat Uang Tunai Menjadi Cadangan
Data BI menunjukkan, dalam lima tahun terakhir ekonomi digital Tanah Air maju pesat
TRIBUNPEKANBARU.COM - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo pernah berkata, digitalisasi bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan strategi pembangunan bangsa. Dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030, BI menargetkan volume transaksi ekonomi-keuangan digital meningkat menjadi 147,3 miliar transaksi pada 2030.
Pernyataan Perry itu disampaikan dia saat acara Festival Ekonomi dan Keuangan Digital (FEDKI) x Indonesia Fintech Summit and Expo (IFSE) di Jakarta pada 30 Oktober hingga 1 November 2025 lalu.
Dikutip dari Kompas.com, data BI menunjukkan, dalam lima tahun terakhir ekonomi digital Tanah Air maju pesat. Volume transaksi digital mencapai Rp13.000 triliun per tahun. Sedangkan transaksi e-commerce tumbuh hingga Rp500 triliun.
Selain itu, BI juga mencatat bahwa pengguna Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS hampir tembus 60 juta. Di mana, 40 juta di antaranya merupakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Tak heran, dari supermarket hingga penjual kuliner kukusan pinggir jalan sudah melayani transaksi nontunai atau cashless.
Kondisi itulah yang mendorong Agus Sormin, warga Pekanbaru memilih tidak membawa banyak uang tunai kemana-mana.
Sebagian besar transaksi keuangan ia lakukan melalui aplikasi bank atau dompet digital di ponsel miliknya.
“Sekarang transaksi sudah serba digital. Mau beli makanan kukusan pinggir jalan pun sudah bisa transfer. Tinggal scan barcode, pembayaran tuntas,” kata pemilik usaha fotografi, video dan cetak undangan pernikahan ini, Selasa (9/6). Bila menemukan pedagang tidak punya QRIS, Agus memilih pindah ke lain tempat.
Biasanya, kata Agus, ia menyiapkan uang tunai sebanyak Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu saja di dompet. Uang tunai biasanya ia siapkan untuk isi bensin dan keperluan mendadak lainnya. “Misalnya, kalau ban motor bocor,” tutur Agus yang usahanya dapat diakses lewat situs www.klikdesign.id ini.
Banyak transaksi yang kini bisa dilakukan nontunai. Selain membeli barang kebutuhan harian, transaksi nontunai juga dilakukan Agus untuk kebutuhan studio fotonya yang terletak di Jalan Rajawali, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru.
Bisa dikata, 100 persen transaksi pembelian alat kebutuhan studio dilakukan nontunai. Termasuk bayar biaya cetak undangan. “Mau beli barang bekas pun biasanya aku bayar nontunai,” kata dia. Menurutnya, apabila barang rusak, pengembalian dana biasanya lebih cepat.
Soal aplikasi, pemilik akun Instagram @klik_design.id ini memilih pakai BRImo dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). “Dulu sempat pakai aplikasi bank lain, tapi karena klien saya banyak nasabah BRI, akhirnya beralih pakai BRImo,” terang Agus.
Klien jasa cetak undangan pernikahan yang biasa ditangani Agus kebanyakan berasal dari luar Kota Pekanbaru. “Ada yang dari Rengat, bahkan Sorong, Papua. Transaksi pembayaran jarang tunai. Mereka biasanya transfer,” tutur pria asal Kota Dumai ini.
Sebelum pakai BRImo, beberapa kliennya komplain karena harus keluarkan biaya lebih untuk transfer dana. Agus akhirnya mendengarkan saran para kliennya dan beralih ke aplikasi BRImo sejak dua tahun terakhir.
Banyak kemudahan yang didapat saat ia memakai aplikasi perbankan. Selain transaksi bayar beli, pembayaran pulsa, token listrik, paket data internet, termasuk pembayaran pajak juga dilakukan Agus secara digital. BRImo juga kerap dipakai untuk mengisi dompet digital miliknya.
Menurutnya, proses transaksi lebih mudah. Hanya hitungan detik, sudah ada notifikasi pembayaran. Selain itu, historis transaksi lebih jelas karena langsung tercantum di aplikasi.
Bagi dia yang mengaku teledor, Agus juga merasa lebih aman bila menyimpan uangnya di bank. Kalau simpan uang tunai, menurut Agus, banyak godaan. “Tiba-tiba sudah habis saja uang di tangan,” ungkapnya sambil terkekeh.
Hal senada disampaikan Ratih Harisa. Jurnalis perempuan ini mengaku sudah enam tahun terakhir mengandalkan pembayaran nontunai untuk berbagai transaksi. Termasuk transaksi yang jumlahnya hanya puluhan ribu rupiah.
| Mengenal Gedung Tungku Pemusnah Uang Bank Indonesia di Pekanbaru yang Berusia Puluhan Tahun |
|
|---|
| Rupiah Melemah, Perry Warjiyo Jadi Sorotan, Harta Gubernur BI Itu Melonjak Drastis |
|
|---|
| Urai Antrean di SPBU, Fraksi Golkar DPRD Pekanbaru Dorong Pertamina Bebaskan Barcode Sementara |
|
|---|
| QR Code MyPertamina Bermasalah untuk Transaksi BBM Subsidi, Begini Cara Mengatasinya |
|
|---|
| Setelah Keliling, Penukaran Uang Baru Dilaksanakan 3 Hari di BI Riau, Ini Jadwalnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Agus-Sormin-menunjukkan-aplikasi-perbankan-BRImo.jpg)