Dari Dompet ke Barcode, Saat Uang Tunai Menjadi Cadangan
Data BI menunjukkan, dalam lima tahun terakhir ekonomi digital Tanah Air maju pesat
“Misalnya beli makanan yang harganya Rp33 ribu, bayarnya nontunai. Begitu juga untuk belanja barang keperluan anak, dulu harus bawa uang banyak sekarang sudah cashless,” kata Ratih.
Biasanya, Ratih hanya membawa Rp100 ribu hingga Rp200 ribu di dompet. Uang tunai ia pakai apabila tempatnya berbelanja belum melayani QRIS.
Ratih juga menyebut kerap memanfaatkan aplikasi perbankan BRImo untuk membeli token listrik, kuota internet, transfer uang, hingga mengisi dompet digital miliknya. Dengan kemudahan itu, Ratih tak perlu capek-capek datang ke ATM.
Alumnus Universitas Riau ini bercerita, saat melancong ke Malaysia, aplikasi BRImo memudahkan sejumlah urusannya.
"Beberapa toko di Malaysia sudah mendukung pembayaran QRIS. Tinggal scan, tak perlu pakai uang tunai," kata dia.
Dengan begitu, Ratih mengaku tak perlu menukar Rupiah ke mata uang Ringgit dalam jumlah banyak. "Mau pakai Grab juga tinggal scan barcode. Nggak perlu bayar tunai. Semua jadi mudah," tambahnya.
Bikin Transaksi Makin Mudah
Dosen Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia, Hidayat Syahputra menyebut, berkembangnya keuangan digital tak lepas dari pesatnya inovasi teknologi perbankan saat ini.
"Outcome-nya menghasilkan efisiensi bagi pengguna. Mereka yang dulunya mesti mampir ke ATM, sekarang 24 jam dalam seminggu mudah melakukan transaksi," tuturnya.
Di samping itu, dilihat dari demografis sekarang, masyarakat sudah adaptif dengan gadget. Hambatan psikologis seperti yang dialami generasi baby boomer juga bisa dikata sudah tak banyak. Masyarakat sudah stay relevan mengikuti perkembangan teknologi.
Sederhananya, cashless via aplikasi perbankan atau dompet digital mempercepat sirkulasi uang dan linier dengan pertumbuhan ekonomi antara pembeli dengan penjual. Tak heran, penggunaan QRIS semakin marak.
Memang, tambah Hidayat, keuangan digital masih punya celah dari segi keamanan. Misalnya, yang sering didiskusikan di kelas terkait One-Time Password (OTP) dan jaminan keamanan data dari Otoritas Jasa Keuangan.
Namun, risiko ini masih bisa diminimalisir lewat proteksi berlapis. Di samping itu, audit internal pada bank juga perlu ditingkatkan. "Dengan begitu setidaknya bisa memberikan jaminan keselamatan bagi para pengguna dari penerobos celah keamanan," kata dia.
Hidayat juga menilai penting meningkatkan literasi keuangan digital. Karena menurutnya celah yang paling lemah ada pada pengguna. Contohnya, masih ada yang tertipu panggilan palsu, hingga Whatsapp palsu yang disisipkan aplikasi pencuri data.
Pertumbuhan BRImo Solid
Sementara itu, dilansir dari Kompas.com, BRI mencatat nilai transaksi melalui aplikasi BRImo mencapai Rp 7.057 triliun di 2025. Jumlah ini meningkat 26,1 persen (year on year/yoy) dibanding tahun sebelumnya.
Periode Januari hingga Desember 2025, BRImo melayani 5,60 miliar transaksi atau tumbuh 29 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama di 2024. Di akhir 2025, pengguna BRImo tercatat 45,9 juta atau meningkat sekitar 18,9 persen YoY.
Sementara, dilansir Suara.com, Corporate Secretary BRI, Dhanny menjelaskan, hingga Triwulan I 2026, jumlah pengguna BRImo telah mencapai 47,8 juta atau tumbuh 18,6 persen secara YoY dengan volume transaksi Rp2.042,2 triliun atau meningkat 29,4 persen YoY dibanding 2025.
| Mengenal Gedung Tungku Pemusnah Uang Bank Indonesia di Pekanbaru yang Berusia Puluhan Tahun |
|
|---|
| Rupiah Melemah, Perry Warjiyo Jadi Sorotan, Harta Gubernur BI Itu Melonjak Drastis |
|
|---|
| Urai Antrean di SPBU, Fraksi Golkar DPRD Pekanbaru Dorong Pertamina Bebaskan Barcode Sementara |
|
|---|
| QR Code MyPertamina Bermasalah untuk Transaksi BBM Subsidi, Begini Cara Mengatasinya |
|
|---|
| Setelah Keliling, Penukaran Uang Baru Dilaksanakan 3 Hari di BI Riau, Ini Jadwalnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/Agus-Sormin-menunjukkan-aplikasi-perbankan-BRImo.jpg)