Sabtu, 25 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Cerdas Berpuasa di Akhir Zaman

Berpuasa di akhir zaman bukan sekadar menahan lapar dan haus dari subuh hingga magrib, melainkan juga menahan diri (imsak)

Tribun Pekanbaru/Tidak Ada
Abdul Wahid,S.Ag.M.I.Kom, Kasi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan 

Hadis ini seyogianya menjadi cambuk bagi orang-orang beriman sebagai peringatan keras, karena begitu banyak yang puasanya sia-sia, zonk belaka, tiada nilai apa pun di hadapan Allah.

Untuk itu, setelah meningkatkan kualitas iman, langkah berikutnya adalah menjaga pancaindra (puasa mata, telinga, mulut) dengan menghindari tontonan, pendengaran, dan ucapan yang sia-sia, haram, atau mendekati maksiat, terutama di media sosial.

Menghindari perdebatan dan emosi, menahan diri dari amarah dan pertengkaran, karena hal ini dapat mengurangi atau menghilangkan pahala puasa.

Menyegerakan berbuka dan sahur yang berkah menjadi langkah berikutnya. Rasulullah SAW mengajarkan untuk menyegerakan berbuka (saat waktunya tiba) agar mendapat energi dan meneladani sunah. Sahur yang bergizi membantu stamina agar tidak mudah emosi, malas, dan tidur selama puasa.

Kiat Menghadapi Fitnah Akhir Zaman (Kontekstual)

Di akhir zaman ini, untuk belajar agama semakin banyak jalannya. Media sosial menawarkan berbagai pilihan guru agama yang memberikan pengajaran secara daring, baik langsung maupun rekaman, yang dapat diakses melalui gawai, laptop, dan komputer. Kemudahan ini memiliki sisi positif dan negatif, karena apabila salah dalam mengikuti guru, maka akan berefek pada akidah maupun muamalahnya.

Oleh karena itu, dalam menentukan pilihan guru agama mesti berhati-hati. Kenali terlebih dahulu guru tersebut melalui profil pendidikan, aktivitas, dan akhlaknya. Carilah guru yang sanadnya jelas (at-talaqqi). Di tengah derasnya informasi, penting untuk belajar agama dari guru yang ilmunya bersambung (bersanad) langsung kepada Rasulullah SAW untuk menghindari pemahaman yang menyimpang.

Menghindari fitnah media sosial dan berita hoaks juga sangat penting. Rasulullah sudah memperingatkan umatnya melalui hadis: “Cukuplah seseorang dinilai sebagai pendusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya).

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah menyatakan: “Maknanya adalah bahwa orang yang menceritakan semua yang ia dengar, baik kebenaran maupun kebatilan, yang jujur maupun yang dusta, akan dinukil darinya juga apa yang diceritakannya itu, sehingga ia termasuk orang yang diriwayatkan kedustaan darinya dan termasuk pendusta juga” (Ikmaalul Mu’lim bi Fawaaidi Muslim 1/114).

Di akhir zaman, batasi diri dari konsumsi informasi yang memicu perpecahan. Terakhir, menjaga lingkungan positif dengan berkumpul bersama orang-orang saleh yang saling mengingatkan dalam kebaikan untuk memperkuat iman.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah pernah berkata: “(Orang yang baik adalah) orang yang mengingatkan kalian kepada Allah jika kalian memandangnya, menambah ilmu kalian dengan perkataannya, dan mengingatkan kalian tentang akhirat dengan amalannya.”

Dengan menerapkan kiat-kiat tersebut, puasa diharapkan menjadi benteng yang kokoh, membuat seorang Muslim mampu “menjinakkan” hawa nafsu dan selamat dari berbagai fitnah di akhir zaman.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Kampus, TNI, dan Demokrasi

 

Riau di Ambang Asap

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved