Rabu, 3 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

PERSPEKTIF

Gelapnya Riau, Gelapnya Ketahanan Energi

Blackout Jumat malam semestinya tidak hanya dikenang sebagai malam ketika Pekanbaru gelap gulita.

Tayang:
Penulis: Erwin Ardian1 | Editor: Firmauli Sihaloho
foto/dok tribunpekanbaru
PEMIMPIN Redaksi Tribun Pekanbaru Erwin Ardian 

Erwin Ardian
Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru

Blackout yang melanda sebagian besar wilayah Riau pada Jumat malam lalu bukan sekadar peristiwa padamnya listrik. Kejadian itu menjadi peringatan serius tentang rapuhnya ketahanan energi di daerah ini.

Dalam waktu singkat, Pekanbaru yang biasanya dipenuhi cahaya mendadak berubah gelap gulita. Aktivitas masyarakat terganggu, roda ekonomi melambat, jalanan menjadi rawan, dan warga dibuat panik karena situasi yang datang tiba-tiba tanpa tanda-tanda sebelumnya.

Peristiwa tersebut menunjukkan betapa kehidupan modern saat ini sangat bergantung pada pasokan listrik. Ketika sistem kelistrikan Sumatera mengalami gangguan, hampir seluruh aktivitas langsung terdampak.

Rumah makan terpaksa berhenti beroperasi, kedai kopi kehilangan pelanggan, usaha percetakan lumpuh, hingga arus lalu lintas menjadi semrawut akibat lampu penerangan jalan ikut padam. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat kecil kembali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Gangguan teknis tentu bisa saja terjadi dalam sistem kelistrikan sebesar Sumatera. Namun blackout berskala luas tetap harus menjadi evaluasi besar bagi PLN maupun pemerintah.

Masyarakat berhak mengetahui seberapa kuat sistem cadangan energi yang dimiliki saat ini. Jika satu gangguan mampu melumpuhkan hampir seluruh kota, maka ada persoalan serius dalam tata kelola sistem kelistrikan nasional.

Dampak paling nyata dirasakan pelaku usaha kecil dan menengah. Warung makan, kedai kopi, usaha fotokopi, hingga berbagai usaha malam hari terpaksa menghentikan aktivitas karena tidak memiliki genset sebagai sumber listrik cadangan.

Mereka kehilangan pelanggan dan potensi pendapatan hanya dalam beberapa jam pemadaman. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, blackout seperti ini tentu menjadi pukulan tambahan bagi pelaku usaha rakyat.

Situasi tersebut juga memperlihatkan bahwa ketahanan energi daerah belum dibangun secara merata. Hanya pelaku usaha besar yang mampu bertahan dengan dukungan genset dan sistem cadangan listrik.

Sementara UMKM hanya bisa menunggu hingga aliran listrik kembali normal. Padahal sektor UMKM merupakan salah satu penopang utama ekonomi daerah. Ketika listrik padam, sesungguhnya roda ekonomi masyarakat kecil juga ikut berhenti.

Di sisi lain, blackout itu membuka mata banyak pihak tentang minimnya kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat. Sejumlah kawasan gelap total tanpa penerangan alternatif.

Warga hanya mengandalkan cahaya telepon genggam, lilin, maupun lampu kendaraan. Kondisi tersebut bukan hanya menghambat aktivitas, tetapi juga berpotensi memicu tindak kriminalitas, kecelakaan lalu lintas, hingga kepanikan sosial apabila berlangsung lebih lama.

Karena itu, PLN tidak cukup hanya menyampaikan permintaan maaf dan melakukan pemulihan jaringan. Yang lebih penting adalah keterbukaan terkait penyebab gangguan serta langkah konkret agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Publik perlu mengetahui apakah sistem transmisi yang digunakan sudah menua, apakah kapasitas cadangan listrik masih memadai, atau ada persoalan lain dalam sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved