Selasa, 2 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Menjaga dan Merawat Pancasila dengan Keteladanan

Pancasila sebagai filsafah bangsa sekaligus sebagai ideologi negara dan sumber hukum harus hadir sebagai ideologi yang memiliki ajaran

Tayang:
Editor: Muhammad Ridho
FOTO/Instagram/Nofriandriyulan
Nofri Andri Yulan, S.Pi, Sekretaris DPD KNPI RIAU 

Oleh : Nofri Andri Yulan, S.Pi, 

Sekretaris DPD KNPI RIAU

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pancasila sudah lama menjadi yatim piatu karena tidak dirawat dan dijaga kemurniannya. Terkadang Pancasila ditafsirkan sesuai dengan hasrat kekuasaan bahkan menjadi alat politik untuk kepentingan rezim yang berkuasa. Sehingga penafsiran Pancasila selalu berubah-ubah mengikuti kemauan rezim perawatnya. Soalnya, terletak kepada  kita yaitu manusia Indonesia sudah mulai ditaklukkan oleh sifat pragmatisme, hedonisme dan meterialisme. Tokoh spiritual Hindu, Mahatma Gandhi, pernah berucap, “ Bumi cukup untuk melayani keperluan manusia, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kerakusan seorang manusia”. 

Pancasila sebagai filsafah bangsa sekaligus sebagai ideologi negara dan sumber hukum harus hadir sebagai ideologi yang memiliki ajaran, nilai dan pesan moral yang kuat. Istilah ideologi berasal dari kata “idea” artinya gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita dan ilmu. Secara umum ideologi dapat didefenisikan sebagai seperangakat keyakinan dan paradigma pengetahuan yang menyeluruh dan sistimatis yang memberikan landasan interprestasi untuk bertindak (Heywood, 2012; 1214). Sulastomo dalam buku Cita-Cita Negara Pancasila “Pancasila tidak boleh berhenti ditatanan ‘makro’ tetapi perlu menyamakan persepsi ditatanan ‘mikro’ secara operasional the road map atau proses mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai Pancasila.

Seperti Islam, Nabi Muhammad SAW dijadikan suri tauladan dalam kehidupan. Perangai, akhlak dan kepribadian Nabi sempai saat ini masih menjadi pedoman tidak lekang oleh zaman. Sosok Nabi Muhammad SAW menjadi Uswatun hasanah bagi seorang muslim. Kenapa demikian? Karena suri teladan Nabi terus dikisahkan.

Sejauh ini kita gagal mentransmisikan kisah keteladanan para pahlawan-pahlawan bangsa. Itu kemudian membuat bangsa mengalami kemiskinan wahana untuk mencetak nilai-nilai luhur yang di idamkan menjadi karakter bangsa. Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani berarti tulisan, lukisan, cetakan atau pahatan. Karakter adalah lukisan jiwa. Ia adalah cetakan dasar kepribadian seseorang/sekelompok orang terkait dengan kualitas-kualitas moral, integritas, ketegaran. Nilai-nilai keteladanan dan kepahlawanan hendaknya tidak sekedar diajarkan secara hafalan dan pilihan ganda melainkan melalui penghayatan. Kisah-kisah nyata kesejarahan merupakan sarana efektif dalam pendidikan karakter. Pelajaran Pancasila hanya bersifat hafalan. Pancasila hanya menjadi agenda tahunan untuk mendapat nilai sebagai syarat formalitas. Kita tidak mendapatkan penemuan pesan moral yang menggugah Nurani seperti Nabi Muhammad SAW dengan Islamnya.

Sesungguhnya bangsa ini memiliki pahlawan-pahlawan hebat dengan keagungan dan kemuliaan tersendiri dalam berbagai dimensi kehidupan. Meraka orang-orang bernilai, berprinsip, gaya dengan gagasan, cita-cita dan meyakini untuk diperjuangkan. Sehingga perjuangannya heroic, melegenda, bersejarah dan dikenang sepanjang masa. Tetapi kisah mereka tidak terpublikasi secara menarik dan meluas. Masih kalah dengan isu viral, kisah-kisah skandal artis, influencer, berita Hoax, reality show, sinentron, pejabat-pejabat yang maling, pejabat medsos alias pencitraan serta kegemparan kabar buruk dari panggung politik. Persoalan Pancasila adalah surplus ucapan dan terlalu minus tindakan. Ini kemudian menimbulkan keraguan kita tentang kesaktian Pancasila.

Ini rangkuman kisah dari implementasi dari Kisah-kisah dari nilai-nilai pada Pancasila. Seperti Muhammad Natsir sebagai pimpinan Partai Masyumi bersahabat dekat dengan I.J. Kasimo, Johannes Leimena, Herman Johannes, AM Tambunan. Ketika M. Natsir terpilih menjadi Perdana Menteri September 1950 beliau merekrut orang professional dengan berbagai latar belakang ideologi, agama, suku yang berbeda.

Baca juga: Tak Hadir di Jakarta Peringatan Hari Lahir Pancasila, Jokowi: Belum Terima Undangan

M. Natsir dengan D.N. Aidit mereka berdua ibarat minyak dan air secara ideologi dia dua kutub saling bertentangan. Masyumi mengusung ideologi politik Islam sedangkan PKI mengusung ideologi komunisme menuju masyarakat tanpa kelas. Berdebat panas dalam sidang Konstituante bahkan sampai mau lempar-lempar kursi.  Perbedaan pandangan politik mereka sangat tajam, tetapi keduanya saling menghargai dan menghormati dalam ikatan persahabatan. Diluar perbedaan politik, keduanya berteman akrab. Aidit kerap membawakan segelas kopi untuk Natsir, berbicara santai dikantin dan naik sepeda berdua. Seperti itu juga dilakukan oleh Isa Anshary, Aidit, Muhammad Roem dan I.J. Kasimo mereka bersahabat sangat baik walau bagaimanapun kerasnya perbedaan pandangan politik. Mereka masih bisa berdamai dan beriringan dikantin kantor menikmati secangkir kopi yang penuh dengan gelak tawa.

Hamka pernah dipenjara karena dituduh berencana membunuh Soekarno. Hamka juga kemudian menjadi Imam Sholat jenazah Soekarno. Karena ada pesan oleh Presiden Soekarno kepada keluarganya kalua Dia meninggal dunia maka Hamka yang menjadi Imamnya. Hamka tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti karena dendam Adalah dosa kata Hamka. Bahkan Ketika didalam penjara selama dua tahun empat bulan Buya Hamka dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Alquran 30 Juz berrnama Tafsi Al-Azhar.

Sikap yang sama juga ditunjukan oleh K.H. Wahid Hasyim sebagai tokoh NU. Bisa berdiskusi berjam-jam bahkan sampai larut malam dengan Tan Malaka yang berhaluan kiri.  Wahid Hasyim menghormati Tan Malaka, begitu juga sebaliknya. Perbedaan pandangan politik tidak membuat mereka jauh tetapi saling menghargai. Wahid Hasyim juga rajin berkunjung kerumah tokoh seperti Mohammad Yamin dan Mr. Sartono dari Partai Nasional Indonesia walaupun mereka berbeda paham dalam pandangan politik.

Ini bentuk praktek nilai-nilai Pancasila yang di Yakini oleh orang hebat yang dimiliki Republik. Mereka melihat kesamaan bukan perbedaan. Mereka menghargai manusia dan kemanusiaan dalam hubungan antar manusia dan antarbangsa. Tidak membangun sekat-sekat akibat adanya perbedaan. Menerima perbedaan sebagai kenyataan yang harus dihadapi dalam semangat saling memuliakan.

Keteladanan dari sikap pejabat dapat dilihat dari kharakternya seperti tanggung jawab, amanah, jujur dan bersih. Bung Hatta dikenal dengan hidup yang sederhana, berprinsip bahwa takwa harus memancar dalam tindakan. Beliau tidak pernah mengambil uang yang bukan haknya. Sebagai contoh dana taktis sebagai Wakil Presiden tidak pernah diambi bahkan disuruh untuk dikembalikan. Apalagi penggunaan uang yang tidak bisa dipertanggung jawabkan secara administrasi. Karena bagi Bung Hatta pertanggung jawaban tidak hanya didunia tapi juga diakhirat. Sikap hidup yang amanah, jujur dan bersih sehingga sebagai Wakil Presiden tidak kesampaian membeli sepatu Bally. Pada saat itu sepatu Bally diinginkan oleh banyak orang. Bung hatta sempat menabung untuk dapat memiliki Sepatu itu akan tetapi uang yang dikumpul tidak pernah cukup terkumpul karena banyak keperluan rumah dan karabat yang lebih membutuhkan. Guntingan iklan sepatu Bally akhirnya hanya tersimpan di dalam dompet beliau namun sampai akhir hayat beliau tidak dapat membeli sepatu tersebut. 

 Keteladanan juga dilihatkan oleh Syafrudin Pawiranegara. Sikap tanggung jawab, amanah diperlihatkannya. Sebagai Menteri Keuangan dia merahasikan kepada istrinya kebijakan kontroversial “Gunting Syafrudin” saat ekonomi Indonesia sedang terpuruk, utang menumpuk, inflasi tinggi dan harga melambung. Syafrudin merahasiakan kebijakan karena tidak mau informasi dimanfaatkann oleh keluarga dan orang dekat sebelum masyarakat tau. Istrinya sempat marah ke beliau karena tidak memberitau. Bahkan istrinya berjualann goreng sukun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Anaknya sempat bertanya dengan ibunya apakah tidak malu berjualan karena bapaknya merupakan seorang tokoh Republik dengan jabatan Menteri Keuangan. Syafruddin memiliki prinsip hidup tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan kroni. Ketika anaknya lahir dia menggunakan kain kasur untuk gurita bayinya. Saat belia menjadi gubernur Bank Indonesia, Anwar Harjono, Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia sebagai sayap dari partai masyumi datang kepadanya dengan maksud meminta proyek yang halal tapi Syafruddin berkata “saya Gubernur Bank Sentral Indonesia bukan Gubernur Bank Masyumi.”

Selain itu ada kisah kesederhanaan dan kebersihan Prof. Ir. Sutami yang pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik pada masa Presiden Soekarno dan Soeharto. Beliau sampai dikabarakan sakit yang diakibatkan karena kurang gizi. Tapi siapa sangka dia melahirkan karya monumental, sebut saja seperti Jembatan Semanggi dan Gedung DPR/MPR. Sejarah jalan tol di Indonesia tidak lepas dari perannya. Bahkan stafnya pernah mendapati rumah beliau bocor ketika datang ke sana, selain itu rumah pribadinya di Solopun hampir dicabut listriknya oleh PLN akibat tidak mampu membayar tagihan listrik. Perangai amanah, jujur, dan bersih juga ada pada sosok Baharuddin Lopa. Beliau bisa memisahkan antara kepentingan pribadi dengan urusan dinas. Ketika hendak membeli mobil beliau mendapatkan harga khusus sangat murah. Beliau tidak mau menerima dengan harga tersebut karena adanya ketidakwajaran dalam pemberian diskon. Ketika anak kandungnya yang mengadakan kegaiatan seminar dan kebetulan kursi kurang, maka anaknya pergi kekantor bapaknya Baharuddin Lopa mengambil kursi tapi tidak diizinkan karana tidak ada hubungannya dengan kedinasan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved