Minggu, 12 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Pria Ini Cari Jodoh via Facebook Pakai Metode Ilmiah

"Sampelnya adalah pemilik akun Facebook yang saya rasa cocok," kata Jefri, warga Jalan Kualu Ujung, Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang

Penulis: Fernando Sihombing | Editor:
Foto/istimewa
Jefri Valdano Sitorus dan istrinya 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Cara pria yang satu ini dalam mencari jodoh terbilang unik. Meski mencari jodoh melalui jejaring sosial sudah tidak hal yang baru lagi, namun pria ini memiliki cara yang berbeda. Tampaknya, kecanggihan bersosialisasi lewat jejaring sosial benar-benar dimanfaatkan pria ini.

Jejaring sosial yang digunakan pria bernama lengkap Jefri Valdano Sitorus ini adalah Facebook. Pria 29 tahun ini mengadopsi metode pengambilan sampel dalam ilmu statistik. Pengambilan sampel itu berdasarkan populasi yang paling memungkinkan untuk dijadikan jodoh.

"Sampelnya adalah pemilik akun Facebook yang saya rasa cocok," kata warga Jalan Kualu Ujung, Desa Tarai Bangun Kecamatan Tambang ini, Kamis (13/8/2015).

Pemilik akun Jefri Valdano ini memulai "program" pencarian jodoh itu, Agustus 2012 silam. Populasi yang dipilih sebanyak 200 akun Facebook. Nama akun yang dipilihnya apabila identik dengan nama perempuan, mencantumkan marga yang menandakan pemilik akun sesuku dengan dia.

"Akun yang saya pilih adalah yang semarga dengan ibu saya," ujar Jefri. Sebanyak 200 akun itu diundang (invite) menjadi teman dalam sehari. Setelah itu, ia menunggu undangan pertemanan akunnya diterima.

Jefri mengingat pelajaran saat duduk di bangku kuliah dari seorang dosen berkeahlian Rekayasa Ekologi pada Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Afrizal Tanjung. Pelajaran dari dosen tersebut menjadi panduan dalam program pencarian jodoh itu.

"Bapak Afrizal waktu itu mengatakan, dalam setiap sampel yang dipilih pasti ada Galat (kekeliruan)," ujar Jefri. Galat itu meyakinkan dirinya bahwa 200 pemilik akun itu akan terseleksi dengan sendirinya.

Terbukti. Dari 200 akun, hanya sekitar 150 akun yang menerima undangan pertemanan tersebut. Tak sampai di situ. Jefri kemudian mengirim pesan salam perkenalan melalui Inbox kepada 150 akun tersebut. Pesan itu hanya dibalas oleh sekitar 130 akun.

Setelah tahap itu, ia mulai mengirim pesan Inbox dengan 130 akun untuk saling berkenalan lebih jauh. Alhasil, tinggallah hampir 100 akun yang selalu membalas pesan darinya.

"Lalu saya mencoba dengan chatting sambil mendalami karakter pemilik akun," kata Jefri. Sehingga sampel tersisa sekitar 50 akun yang selalu membalas percakapan (chatting) dengan antusias.

Kemudian, pria berkaca mata ini pun mulai bertukar nomor telepon seluler dengan 50 akun. Namun hanya kurang dari 30 akun yang bersedia memberikan nomor selulernya. Seterusnya, hampir 30 nomor seluler dihubunginya satu per satu.

Seiring berjalannya waktu, sampel terus dieliminasi karena faktor ketidakcocokan saat berbincang dan tidak mengangkat sambungan seluler ketika dihubungi.

"Ada perbedaan, antara komukasi melalui Facebook dengan ngobrol lewat telepon. Dari suara dan gaya berbicara bisa dirasakan," jelas Jefri.

Maka tinggallah 10 orang yang masih lancar berkomunikasi via seluler. Tahap berikutnya, ia mengajak kesepuluh orang itu untuk bertemu langsung. Semua ajakan pertemuan itu berhasil. Semua pertemuan dilakukan di wilayah Medan, Sumatera Utara.

"Dari 10 orang itu, semua baik. Tapi yang paling cocok dengan tiga orang," kata Jefri. Tiga orang yang memenuhi kriteria dalam hati, tutur dia, harus dipilih satu orang. Maka ia pun memilih seorang yang menurutnya adalah terbaik bernama Lusi Magdalena Pardede.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved