Kamis, 4 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Kala Layangan Mengangkasa dan Mendengung Hingga Malam Hari, Bukan Sekedar Hobi Tapi Juga Seni

Lenggok dan bunyi layangan danguang berukuran tiga meter harus dipastikan sebelum dilepas ke pembeli.

Tayang:
Penulis: Budi Rahmat | Editor: Ariestia
Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda
LAYANG-LAYANG - Riki dan layangan danguang buatannya dan rekannya yang tengah mencoba menaikkan layangan 

"Pembeli datang dari berbagai wilayah, ada dari duri, Perawang bahkan ada juga yang memasang dari Bukittinggi" ujarnya.

Riki sendiri tergabung dalam grup pecinta layangan Riau.

Ia masuk dalam komunitas pen gas.

Dan komunitasnya pernah meramaikan acara di kantor Gubernur Riau masa Syamsuar tahun 2022 silam.

Riki biasanya ia akan membuat pesanan layangan danguang dan layangan darek di kedai harian bernama Kedai Riki Baru di jalan Singgalang.

Hobi dan Koleksi

Amir, salah satu penikmat layangan jenis danguang  mengaku sangat antusias memainkan layangan tersebut

Menurutnya, layangan danguang yang ia mainkan ada yang dalam ukuran kecil dan juga besar.

Dikatakannya, layangan tersebut biasanya ia mainkan dan juga kadang bisa jadi pajangan.

"Ibaratnya menandakan kalau saya orang Minang. Dan layangan danguang jadi kebanggaan. Apalagi yang ukurannya besar," terang Amir.

Amir mengakui sengaja membawa layangan tersebut dari kampung asalnya yakni Pariaman.

Ia membawanya saat ada mobil pembawa kelapa menuju ke Pekanbaru.

"Saya biasa memainkan di lapangan dekat jalan Singgalang. Memang tidak tiap hari. Tapi, sekali saya mainkan biasanya ada kepuasan," ungkapnya.

Untuk suara yang dihasilkan, Amir mengatakan itu dihasilkan dari rotan yang dihaluskan hingga bisa diikat di bagian belakang atas layangan.

"Suaranya itu yang bikin nagih. Sekali dimainkan, suaranya bisa memancing perhatian," ungkap Amir.

Untuk main layangan danguang tersebut, Amir mengaku kadang hingga malam hari. Namun, ia juga memastikan angin dan tentu saja hujan.

Biasanya layangan danguang diperlombakan untuk lenggok dan bunyinya. Penilaian lainnya adalah layangan yang bisa presisi 90 derajat.

Sore makin tinggi. Matahari sudah turun. Cahayanya keperakan. Riki sudah cukup puas dengan hasil dari layangan danguang yang ia buat.

"Masih banyak pesanan. Kawan-kawan dari berbagai daerah masih berkirim kabar dalam grup WhatsApp. Ada yang dari duri, Perawang, kerinci, Kandis dan Dumai," pungkas Riki. 

Sekilas Soal Layang Danguang

Layang-layang Danguang berasal dari Pariaman, Sumatera Barat.

Layangan ini merupakan ciri khas daerah Pariaman.

Layangan Danguang berbeda dengan layang-layang darek atau maco.

Layak darek sendiri punya khas pada ekornya yang panjang.

Sedangkan layangan maco adalah layangan yang umumnya dimainkan oleh anak-anak di lapangan dan banyak dijual di kedai atau toko barang harian

Layangan danguang punya keunikan pada  suara dengung yang dihasilkan dari alat danguang yang terbuat dari rotan di ujung kepalanya.

Suara itu yang  membuatnya mengeluarkan suara khas saat diterbangkan, tidak seperti layang-layang darek yang umumnya tidak memiliki suara. (Tribunpekanbaru.com/Budi Rahmat)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved