Rabu, 3 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Tour de Borneo Jelajah 2335 Km

Berhasil Tempuh 2.640 Km, Tasman dan Syaiful Ditunggu Keluarga di Balikpapan

Total jarak tempuh sejauh 2640 Km. Ini melebihi perkiraan kami sebelumnya yaitu 2335 Km. Perjalanan ini menurunkan berat badanku dari 70 Kg jadi 64 Kg

Tayang:
Editor: harismanto
Facebook Tasman jen
Tasman Jen (kiri) dan Syaiful berfoto di Complex Pasir Ridge Chevron Balikpapan usai menjalani Tour de Borneo selama 30 hari menjelajahi belantara Kalimantan sejauh 2.640 Km. 

Mulai Kamis 13 Oktober 2016, Tasman Jen (60), salah seorang personel Trio Lisoi memulai penjelajahannya dalam Tour de Borneo atau Borneo Long Distance Cycling. Bersama Syaiful dari Komunitas Sepeda Pekanbaru Bikepacker, mereka akan melintasi rute sepanjang 2.335 Km di pulau terbesar ketiga di dunia itu. Berikut catatan perjalannya yang dituliskan Tasman Jen

HARI kedua di Amandit kami mencarter ojek Rp 100 ribu per orang untuk mengunjungi air terjun Haratai yang terletak masih di daerah Kecamatan Lok Sado. Berhubung jalan ke daerah ini terlalu terjal dan belum diaspal, jadi tidak memungkinkan kami untuk mencapainya dengan sepeda dalam 2 hari. Untuk mensiasatinya, kami menyewa ojek yang sudah berpengalaman ke puncak bukit Haratai tersebut karena daerah ini cukup tinggi dan jauh.

Sampai diujung desa Lok Sado, sepeda motor tersebut mulai memasuki jalan jalan setapak desa yang licin dan berbatuan. Kadang-kadang kami berpapasan dengan penduduk desa suku Dayak Haratai yang membawa hasil hutannya ke desa terdekat. Dari informasi yang aku dapat mereka sudah ada yang menganut agama Islam atau Nasrani. Ada juga masih ada yang beragama Kaharingan.

Kami sampai di puncak Haratai dan di antara dua lembah mengucur air terjun yang begitu indah sehingga tanaman-tanaman sekelilingnya terlihat subur menghijau dan di bawah ada telaga penampungan air terjun tersebut. Kabut pagi ditambah percikkan air dari air terjun menambah sejuknya udara di puncak Haratai.

Di dekat air terjun ada pondok-pondok dari bambu dan aku lihat disitu juga ada tumpukan api unggun yang sudah mati. Tentu beberapa pencinta alam suka camping di puncak ini. Kami pulang menyempatkan diri juga melihat pemandian air panas di Desa Tanuhi. Sayang waktu kami datang kolamnya yang dikelola pemda Kalimantan Selatan itu sedang dibersihkan.

Di Desa Tanuhi ini kita bisa membuat gelang Dayak Meratus yang terbuat dari bahan rumput yang kuat tahan bertahun-tahun. Gelang langsung dipakaikan ke tangan dan tidak bisa dibuka kecuali diputus. Kami kembali ke hotel sore hari setelah Ashar.

Keesokan harinya, jeruji roda belakangku yang putus sungguh sangat mengganggu kenyamanan dan menimbulkan kekhawatiranku untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku putuskan untuk loading sepeda hingga ke kota Kandangan.

Di kota ini sepedaku dibongkar di bengkel yang berada di Pasar Kota Kandang untuk pemasangan jeruji baru. Mekaniknya yang jarang menerima sepeda jenis multiple gear ini agak kesulitan menangani sepedaku. Karena tools-nya yang kurang lengkap.

"Biasanya reparasi becak pak!" kata montirnya. Berkat kegigihannya, roda belakangku akhirnya selesai ditambah jerujinya. Walaupun setelannya masih tidak center alias baling. Aku putuskan untuk melanjutkan bersepeda dengan kondisi seadanya ke Barabai yang berjarak 30km lagi. Sepeda terasa terseok-seok tidak stabil jalannya. Aku dayung sambil terus berdoa agar jangan sampai ada halangan lagi dalam perjalanan ke Barabai ini.

Sahabat kami di Barabai Iren B-Cex sudah menunggu dan menjemput kami di batas kota. Sepedaku dicek lagi yang ternyata stelan jari-jarinya tidak bagus. Lalu di stel lagi di bengkel yang sewaktu dibayar dia menolak dengan alasan bahwa dia juga sama-sama pesepeda katanya.

Alhamdulillah ketemu mekanik yang baik hati. Hari sudah jam 15 sore dan tawaran Budi B-Cex untuk menginap di rumahnya langsung kami terima. Kami menginap di rumah keluarga Budi yang cukup unik. Yaitu lima orang bersaudara mempunyai hobi sepeda dan sering ikut iven sepeda memakai nama Bcex. Anggotanya ya lima bersaudara tersebut.

Pagi 12 November setelah pamitan pada keluarga Budi yang baik hati ini, kami memacu sepeda lagi menuju Balikpapan dengan target sampai di Gunung Halat. Jalan yang agak datar kami libas dengan speed rata rata 26km/jam. Kawan-kawan yang mengantar kami merasa speed kami kencang sekali dengan membawa beban pannier.

Kami menyadari itu tapi hal ini adalah karena kami memanfaatkan jalan rata untuk mempersingkat waktu yang mungkin akan lebih lama diwaktu di Gunung Halat yang mempunyai pendakian yang terjal nanti. Satu satu kota kami lewati, Balangan, Tabalong dan kami sampai di kota Tanjung jam 11.00.

Tanpa istirahat kami melanjutkan hingga jalan dari Kota Tanjung. Di sini jalanan mulai menanjak panjang. Tenaga kami mulai terkuras hingga makan siang di sebuah warung sebelum Desa Hulu. Kami sampai di Desa Namun jam 4 sore. Pencapaian kami sudah 110km dan kami memutuskan menginap di losmen tanpa nama yang ada di pinggir jalan itu dengan tarif Rp 175 ribu semalam. Lumayan bisa istirahat walaupun sempat listriknya padam dan tidur tanpa kipas angin di udara yang agak panas.

Pagi selesai subuh di Desa Namun Kalimantan Barat, kami mulai kayuhan ke arah Kalimantan Timur. Udara yang masih segar dan jalanan yang masih sepi kesempatan untuk memacu sepeda lebih kencang. Kontur jalan yang terjal agak menguras tenaga akan tetapi permukaannya yang umumnya mulus agak membantu kami untuk tidak ragu meluncur kencang guna mendapatkan ayunan dorongan di tanjakan. Sesampai di puncak, terlihat lagi tanjakan berikutnya persis seperti medan perjalanan sewaktu kami melewati Kalbar-kalteng.

Jam 10 pagi, kami sampai di Gunung Halat perbatasan Kalsel dengan Kaltim. Sekitar daerah perbatasan banyak ditemui warung-warung penjual makanan dan minuman. Aku memesan air minum hangat untuk pelepas dahaga. Lalu Auful (Syaiful) memberi tahu aku untuk melihat satu pohon di perbatasan yang cukup unik. Tapi nama pohonnya aku tidak tahu.

Pada satu pohon tersebut ada dua ukuran daun yaitu dahannya yang kearah Kalsel daunnya besar besar dan yang menghadap ke Kaltim daunnya kecil-kecil. Tidak ada perkampungan di perbatasan. Hanya warung-warung kopi tempat para pengendara kendaraan istirahat melepas lelah.

Udara makin panas. Jalan di bagian Kaltim sungguh parah sekali. Sebagian dalam perbaikan dan dicor. Ada juga yang masih terbengkalai compang-camping. Tanjakan yang tinggi-tinggi di tambah lobang besar dan batu kerikil berserakan di jalanan. Sehingga debu yang beterbangan sangat mengganggu pernapasanku.

Dalam kondisi tersebut kami tidak mungkin untuk memacu sepeda di tanjakan. Beberapa kali aku harus dorong sepeda di tanjakan tersebut. Mendorong sepeda di terik udara panas ditambah debu yang mengganggu pernafasan sungguh memerlukan kesabaran dan tenaga ekstra agar berhasil sampai ke puncak.

Aku berusaha menikmati pengalaman yang istimewa ini dan menyadari bahwa daerah ini benar-benar suatu ujian kesabaranku. Kadang timbul rasa bosanku lalu berhenti dan duduk diam beberapa saat. Lalu bangkit lagi buru-buru khawatir kemalaman di daerah tidak berpenghuni.

Beberapa ruas jalan dekat Muara Komam, ada penyemenan jalan sampai Batu Kajang. Di kota ini mulai terasa aspal yang lumayan bagus. Kami memasuki kota Batu Kajang dengan rasa syukur yang amat sangat. Kami memutuskan bermalam di kota ini.

Mataku tak henti-hentinya mencari warung yang menjual es campur. Entah kenapa aku rindu sekali minum es campur saat itu. Tapi sepanjang jalan tidak kutemui. Akhirnya karena tidak tahan haus, aku berhenti di pedagang kaki lima. Disitu ada penjual buah dingin.

Saat berhenti disitu, beberapa pasang mata memandang aku yang sudah kering dan kumal kena debu jalanan. Aku lahap beberapa potong semangka dan pepaya terasa nyaman sekali di kerongkongan.

Kami sholat dzuhur di Masjid Raya Batu Kajang. Selesai sholat aku perhatikan sepertinya mendung di arah utara. Kami pertimbangkan kalau perjalanan diteruskan kami akan kehujanan dijalan yang tak ada perkampungannya. Lalu kami memutuskan untuk istirahat di desa Batu Kajang saja.

Hujan deras turun mulai dari jam 4 sore itu sampai malam. Kami mempertimbangkan untuk naik bus sampai Penajam karena hujan tak kunjung berhenti. Tentu jalannya akan sulit dilalui karena berlumpur dan tidak aman untuk bersepeda. Akhirnya kami tidak jadi tidur di kota tersebut dan naik bis malam jam 2 pagi hingga sampai di Penajam saat subuh.

Sampai di Balikpapan
Tanggal 13 November 2016, genap sebulan perjalanan kami,keluarga sudah menunggu di Balikpapan. Kami turun bis di pelabuhan feri Penajam. Aku lihat ban belakang sepedaku kempes total. Di jembatan menuju feri yang masih sepi aku berhenti lalu mengganti ban dalam sepeda dengan yang baru.

Lalu sepeda kembali kami kayuh menuju pelabuhan kelotok atau kapal kayu tradisional. Disini kami menyeberang dengan kapal kayu menuju dermaga Kampung Baru Balikpapan.

Kesan pertamaku memasuki kota ini adalah bersih. Tidak terlihat tumpukan sampah sebagaimana kota-kota di Indonesia. Lebih mirip kota-kota di Malaysia. Kendaraanpun rada tertib dan tidak ada yang serobot sana serobot sini. Aku acungkan jempol untuk ketertiban berkendaraan ataupun kebersihannya di Balikpapan ini.

Sepeda kami menuju ke arah kantor Chevron di Pasir Ridge, Jalan Attaka Besar, Telaga Sari, Balikpapan Kota. Kami bertiga memasuki tanjakan yang lumayan tinggi lalu berbelok ke kiri disitu terlihat papan nama PT Chevron Pacific Indonesia dimana aku pernah bergabung selama 30 tahun di perusahaan ini.

Sayangnya sampai pensiun belum pernah berkunjung ke kantor Balikpapan ini. Maka saat pensiun ini baru bisa berkunjung. Tidak banyak pegawai terlihat karena hari itu adalah hari libur Minggu. Kami lanjutkan menuju Hotel Mega Lestari. Di situ sudah menunggu keluargaku dan keluarga Awful.

Inilah akhir dari petualangan kami selama 30 hari menjelajahi belantara Kalimantan. Total jarak tempuh sejauh 2640 Km. Ini melebihi perkiraan kami sebelumnya yaitu 2335 Km. Perjalanan ini sudah menurunkan berat badanku dari 70 Kg menjadi 64 Kg.

Kemudian menghancurkan dua sendal jepit yang selalu lengket di kaki selama gowes dan satu ban luar sobek/berlobang. Kemudian lima ban dalam pada bocor semua. Satu kali patah jeruji sepeda dan belong.

Satu kali jatuh dari sepeda karena ban bocor di daerah Palangkaraya. Alhamdulillah tidak cidera hanya memar di paha. Menyaksikan langsung fatal exident jalan raya di daerah batas kota Rantau Kalsel dan jalan raya Lok Sado Kalsel.

Dalam sebulan juga pernah mengalami sakit diare satu hari lalu batuk tanpa pilek di akhir perjalanan di daerah Muara Koman yang penuh debu. Dan yang tak kalah penting persahabatan dan silaturahim kami di semua tempat yang dikunjungi di Malaysia ataupun di Indonesia makin bertambah.

Terakhir saya Tasman Jen "Mak Katik" dan Sahabatku Syaiful Highlinder "Awful" mendoakan semoga semua kita khususnya yang mengikuti perjalanan kami ini di limpahi dengan segala keberkahan dan kesehatan oleh Allah. Aamiin. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved