60 Tahun Nasionalisme, Semen Padang Makin Matang
Hari ini, Kamis 5 Juli 2018, merupakan momen bersejarah bagi PT Semen Padang.
Laporan Kontributor Tribunpadang.com, Riki Suardi
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Hari ini, Kamis 5 Juli 2018, merupakan momen bersejarah bagi PT Semen Padang.
Di mana pada 5 Juli 1958, atau tepat 60 tahun berlalu, PT Semen Padang yang dulunya bernama NV Padang Portland Cement Maatschappij (PPCM), berpindah tangan dari Belanda kepada Pemerintah Indonesia.
Memaknai 60 tahun peralihan perusahaan semen kebangaan masyarakat Sumatera Barat, manajemen PT Semen Padang menandainya dengan mengadakan upacara HUT ke-60 Pengambilalihan PT Semen Padang dari tangan Belanda. Upacara tersebut, digelar di Plaza Kantor Pusat PT Semen Padang, Indarung, Kota Padang, Kamis (5/7/2018) pagi.
Pada upacara yang dipimpin oleh Direktur Utama PT Semen Padang, Yosviandri, sebagai pembina upacara, turut dihadiri oleh Direktur Keuangan Tri Hartono Rianto dan Direktur Operasional Firdaus, serta seluruh staf pimpinan dan karayawan/ti PT Semen Padang Group sebagai peserta upacara.
Baca: Kasus Dugaan Suap, Dua Tak Datang Pemeriksaan, KPK Tahan Satu Anggota DPRD Sumut
Dalam pidatonya, Yosviandri mengatakan upaca Pengambilalihan Pabrik ini merupakan wujud penghormatan kepada para pendahulu yang memperjuangan kembalinya Semen Padang yang merupakan aset vital negara, apalagi dalam mengembalikan aset tersebut, butuh semangat juang pantang menyerah yang dilandasi rasa kecintaan.
"Semangat itulah yang tertuang ke dalam 'Giving The Best To Build a Better Life' dan itu merupakan landasan bekerja bagi perusahaan. Untuk itu, saya berharap seluruh karyawan terus meningkatkan semangat kerjanya, supaya Semen Padang kuat di tengah ketatnya persaingan semen nasional," kata Yosviandri
Menurut Yosviandri, waktu 60 tahun adalah usia pensiun bagi tenaga kerja, tapi bagi Semen Padang sendiri, semakin tua usianya, kondisnya semakin matang. Bahkan, dalam waktu enam dekade tersebut, Semen Padang terus berkembang dan sudah memiliki enam pabrik.
Dimana, masing-masing teknologi yang ada dipabrik tersebut, merupakan teknologi terkini di zamannya, termasuk Pabrik Indarung VI yang sudah beroperasi sejak akhir 2017 dengan menggunakan teknologi persemenan terkini.
"Artinya, industri Semen Padang sendiri mengalami kemajuan yang sangat signifikan setelah 60 tahun. Bahkan tak hanya menguasai teknologi persemenan terkini, tapi Semen Padang juga punya banyak pakar semen yang kemampuanya tak diragukan lagi," ujarnya.
Baca: Hari Kedua Pembukaan Pendaftaran Bacaleg di KPU Sawahlunto Masih Nihil
Saat ini, kata Yosviandri, medan tempur Semen Padang hanya disektor dipenjualan, karena sejak lima tahun terakhir, persaingan semen nasional begitu ketat, seiring berkembangnya pabrik semen di Indonesia.
"Bahkan saat ini ada 15 industri semen yang memperebutkan pasar semen secara nasional. Sebagian besar dari perusahaan semen asing itu berasal dari Cina," beber mantan Dirut PT PGAS Solution terebut.
Yosviandri menyebut, dengan masuknya industri semen dari luar, tentunya membuat laba perusahaan semen milik Pemerintah, termasuk Semen Padang yang merupakan bagian dari BUMN di bawah Semen Indonesia Group, juga mengalami penurunan dari tahun ke tahun, karena serapan produksi semen nasional rata-rata hanya sekitar 60 persen.
"Serapan produksi itu dipengaruhi oleh semakin gencarnya perusahaan semen dari luar yang sebagian berasal dari Cina tersebut. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga 10 tahun ke depan," ungkap Yosviandri.
Tak hanya itu, Yosviandri juga mempaparkan bahwa serapan produksi semen menurun juga turut dipengaruhi oleh lahirnya Permendag No7 tahun 2018 tentang diperbolehkannya impor semen dan klinker ke Indonesia, serta naiknya harga BBM dan batubara sebagai bahan bakar pabrik.
"Kemudian, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga berdampak kepada tingginya harga sparepart, persedian dan peralatan impor untuk industri semen," tuturnya.
Produksi Meningkat
Di sisi lain, Yosviandri juga memaparkan kinerja produksi PT Semen Padang. Menurutnya, meski serapan produksi semen mengalami penurunan, kinerja produksi seperti klinker dan semen pada Semester I tahun 2018 menunjukkan tren positif, dan itu dibuktikan dengan jumlah produksi klinker dan semen yang meningkat.
Bahkan untuk klinker sendiri, kinerja produksinya mencapai 2,96 juta ton atau 102,59 persen dari Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RAKP). Kemudian untuk produksi semen mencapai 3,16 juta ton arat 95,47 persen dari RAKP.
Sedangkan untuk bottom line perusahaan dari Januari hingga Juni, lanjutnya, tercatat sebesar Rp456 miliar 93,55 persen dari RKAP. Sedangkan untuk laba bersih perusahaan mancapai 169,30 persen dari RKAP, atau sebesar Rp123 miliar.
Baca: Bowo Alpenliebe Tak Bisa Main Tik Tok Lagi Walau Blokir Dibuka, Terganjal Batas Usia
"Meski kinerja perusahaan bagus, namun dibandingkan laba tahun lalu tidak tumbuh, hanya 54,08 persen. Padahal perusahaan sudah melakukan efisiensi dari bulan ke bulan, bahkan persentasinya mencapai 6-10 persen per bulannya," kata Yosviandri.
Untuk meningkatkan laba perusahaan, Yosviandri berharap agar seluruh stakeholder yang ada di Sumatera Barat, khususnya yang melaksanakan proyek konstruksi, dapat menggunakan produk Semen Padang, karena apapun jenis semen yang dibutuhkan dan berapun jumlahnya, Semen Padang bisa menyuplainya.
"Kami harap stakeholder jangan pakai produk semen lain, mari gunakan produk Semen Padang, karena Semen Padang merupakan satu-satunya perusahaan semen di Sumatera Barat dan menjadi kebangaan masyarakat Sumatera Barat," tuturnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/pt-semen-padang-huut-ke-60_20180705_215514.jpg)